Cerpen

Ketika Hujan Fitnah Menyirami Bunga Prestasi

33
×

Ketika Hujan Fitnah Menyirami Bunga Prestasi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI/Mohammad Nurfatoni

Dari ruang rapat yang penuh tudingan hingga panggung kehormatan guru berprestasi nasional, Syifa Aulia menapaki jalan berliku dengan doa, air mata, dan tekad baja. Namun, ketika semua orang kembali merapat, benarkah luka lama benar-benar sembuh?

Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah, guru TK IT Handayani Menganti, Gresik, Jawa Timur

Tagar.co – Namaku Syifa Aulia. Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa nasib akan membawaku melangkah sejauh ini. Pernah terpuruk dan merasa menjadi orang paling tidak berguna —bukan karena kesalahan yang kulakukan, tetapi akibat tajamnya mulut orang-orang yang iri terhadap pencapaianku saat itu.

“Dana bantuan dari pemerintah itu ada juknis yang harus dipatuhi, bukan seperti uang jajan dari orang tua kepada anaknya yang bisa diatur sesuka hati,” ucapku kala itu saat rapat bersama para pengurus yayasan tempatku mengabdi sebagai kepala sekolah.

Merasa tidak puas dengan kalimat yang kulontarkan di forum rapat, Rima—salah satu guru yang tinggal di rumahku— mendapat tugas khusus dari pihak yayasan untuk mengamatiku diam-diam, mencatat setiap gerak-gerik, dan mencari-cari kesalahan untuk dilaporkan.

Baca cerpen lainnya: Malaikat Kecil tanpa Sayap di Sudut Gudang Sekolah

Rima rupanya pintar sekali mencari muka. Laporan demi laporan dia sampaikan dengan sangat meyakinkan. Setiap ucapannya seolah memiliki magnet yang membuat para pengurus yayasan percaya tanpa ragu.

Aku, seorang ASN yang bertugas sebagai kepala sekolah di sebuah SD swasta, mengemban amanah besar yang harus kupertanggungjawabkan, mendadak berubah status menjadi guru pesakitan yang terpaksa menerima keadaan jauh dari norma keadilan.

Baca Juga:  Papa Mama, Teguh Sudah Bisa Beli Baju Sendiri

“Pantas saja rumahnya bagus, ternyata renovasi pakai uang dari pemerintah,” bisik-bisik tetangga terdengar bergemuruh di telingaku hampir tiap hari. Aku tak tahu siapa yang memulai atau dari mana sumbernya.

Dengan alasan ada penyelewengan dana pemerintah yang kukelola, aku dicopot dari jabatan dan diputuskan menjadi guru kelas —padahal tak ada satu pun bukti yang kulakukan.

Kedua anakku pun tak luput dari perbincangan. Ketika memutuskan menyekolahkan mereka di tempat lain, aku kembali jadi bahan cemoohan.

“Allah Maha Tahu apa yang sebenarnya terjadi. Suatu saat Dia akan menunjukkan mana yang hak dan mana yang batil,” batinku lirih.

Di sela-sela membersamai anak-anak didik, kugunakan waktuku menulis berbagai artikel dan membuat strategi pembelajaran yang menyenangkan. Lebih dari sepuluh strategi pembelajaran berhasil kutulis, termasuk metode belajar membaca Al-Qur’an dengan isyarat untuk penyandang disabilitas.

Tiga bulan berselang, terselenggara lomba guru berprestasi tingkat kecamatan. Berbekal keyakinan, aku memberanikan diri ikut seleksi, meski cibiran terus mengiringi.

Dihantam berbagai isu tak sedap, aku melangkahkan kaki dengan harapan Allah memberi kekuatan untuk bertahan dan membuktikan bahwa aku tetap bisa berkarya dan berguna.

“Juara pertama guru berprestasi tingkat Kecamatan Beringin Mulia jatuh pada Syifa Aulia dari SD Sinar Harapan,” suara Pak Bakri, perwakilan tim juri, seolah membangunkanku dari mimpi. Dengan kemenangan ini, aku berhak melaju ke tingkat kabupaten.

Baca Juga:  Nomor Lima yang Sengaja Dikosongkan

Tak ada ucapan selamat yang kuterima. Tatapan sinis masih sama, perlakuan pun tak berubah.

Meski air mata sering jatuh di sepertiga malam di atas sajadah panjang, aku tetap berusaha berdiri tegak dan tersenyum setiap pagi.

Ketika aku dinobatkan sebagai juara pertama tingkat kabupaten dan melaju ke tingkat provinsi, nada sumbang masih terdengar. Namun, telinga dan hati ini sudah kebal terhadap sakit dan kecewa.

“Ya Allah, hilangkanlah rasa sakit hati, kecewa, dendam, dan marah dalam diri hamba. Sisakan hanya ruang ikhlas di hati hamba,” doaku setiap malam.

Berkat kesabaran, perjalanan panjang itu berbuah manis. Di tingkat provinsi aku mengungguli peserta dari seluruh Jawa Timur dan melangkah ke tingkat nasional.

Orang-orang yang dulu mencibir mulai berubah. Sedikit demi sedikit mereka mendekat, memberi ucapan selamat, dan mendukung.

Tibalah saat aku dinobatkan menjadi juara pertama guru berprestasi tingkat nasional. Yang dulu membenci kini berbondong-bondong mendekat dan bersikap manis.

Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Tulus atau tidak, hanya Allah yang tahu.

Sebagai guru berprestasi tingkat nasional, aku mendapat privilege kembali menjadi kepala sekolah. Diberi pilihan dua sekolah: satu maju dan kaya, satu nyaris mati.

Baca Juga:  Haedar Nashir: Ekoteologi, Membangun tanpa Merusak Bumi

Trauma membuatku mantap memilih sekolah yang kedua. Meski fasilitas serba kurang dan murid sedikit, aku yakin Allah akan menolong hamba yang mau berbuat baik.

Komentar pun berdatangan. Ada yang berharap aku berhasil, ada yang menunggu kegagalan.

“Lihat saja, sebentar lagi juga sekolah itu tutup,” kata mereka. Justru ucapan itu menjadi bahan bakar semangatku.

Alhamdulillah, pertolongan Allah nyata. Sekolah yang nyaris roboh perlahan berdiri kokoh. Masyarakat mulai menyekolahkan anaknya di sana. Aku membuka kelas untuk anak berkebutuhan khusus, tanpa diskriminasi.

Bertahun-tahun aku mengabdi di sana. Sekolah yang dulu tak dilirik, kini jadi rujukan masyarakat.

Bagaimana dengan sekolah yang dulu kutinggalkan? Allah membalik keadaan. Sekolah yang dulu berjaya kini karam.

Rima, dalang dari semua ini, mengalami ujian berat—kehilangan anak tercinta dalam kecelakaan.

Ada rasa perih, tetapi hidup mengajarkan bahwa tak selamanya kita di atas. Jika semuanya diserahkan kepada Sang Pencipta, tak ada peristiwa yang berlalu tanpa makna.

Suara klakson mobil di depan rumah menyadarkanku dari lamunan. Anak perempuanku datang bersama suami dan tiga putranya.

Ketiga cucuku berlari ke pelukanku. Tawa mereka memenuhi rumah, menghadirkan kekuatan yang tak ternilai di usiaku yang senja.

Semoga jejak langkah masa laluku menjadi teladan bagi anak-cucu untuk selalu dekat dengan Allah, menjadikan-Nya satu-satunya tempat bersandar di setiap helaan napas.

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…