Telaah

Peristiwa yang Mencemaskan

32
×

Peristiwa yang Mencemaskan

Sebarkan artikel ini
Peristiwa yang mencemaskan sebagai bagian dari kehidupan. Memberikan pengalaman, kisah, dan kematangan seseorang.
Suharyo

Peristiwa yang mencemaskan sebagai bagian dari kehidupan. Memberikan pengalaman, kisah, dan kematangan seseorang.

Oleh Suharyo AP, Penasihat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang

Tagar.co – Dalam kehidupan, ada peristiwa besar selalu disambut rasa cemas. Namun seberat apapun peristiwa itu harus dihadapi dan dijalani.

Pertama, kelahiran. Semua orang pasti cemas khususnya kaum ibu.

Taruhannya nyawa. Bisa jadi anaknya yang meninggal, atau ibunya. Ada juga kedua-duanya meninggal.

Balasan bagi hamba yang bernasib naas seperti ini adalah surga.

Suatu kebahagiaan jika keduanya selamat, sehat, dan bayinya tumbuh baik.

Banyak orang melahirkan harus menghadapi kematian. Angka kematian ibu (AKI) di negeri kita masih tinggi. Sangat memprihatinkan.

Data dari BPS terakhir AKI mencapai 189 per 100.000 kelahiran hidup. Ini peringkat kedua tertinggi di ASEAN.

Peristiwa kedua yang disambut perasaan cemas adalah khitan bagi anak laki-laki.

Bisa dibayangkan kulit ujung zakarnya harus dipotong. Apa lagi dalam sejarah alat pemotongnya beragam. Sesuai kemajuan zaman .

Awalnya menggunakan pisau batu, kapak, plat yang diasah. Dengan alat sederhana itu  sakitnya bukan main.

Berkembang alat khitan ada pisau, silet, sembilu, gunting. Sekarang alatnya lebih modern, berupa laser sehingga rasa sakit dan pendarahan berkurang.

Kini saat kulit kulupnya dikhitan, anak bisa berbaring sambil main smartphone.

Walau rasa takut masih ada, anak laki-laki berani juga. Apalagi dijanjikan akan diberi baju, sarung, kopiah baru plus sangu maka keberaniannya pun bangkit.

Peristiwa ketiga yang disambut rasa cemas adalah nikah. Mengapa cemas?

Laki-laki membayangkan hidup sendiri saja finansialnya tidak cukup. Apalagi harus menanggung beban menghidupi anak orang lain.

Realitasnya, banyak orang kandas di tengah jalan. Kaya, populer, dan punya jabatan tinggi, tidak cukup. Semuanya tidak menjamin rumah tangganya sukses.

Banyak rumah tangga orang hebat tapi tenggelam di tengah gempuran ombak kehidupan sehingga “penumpangnya” berjatuhan di tengah lautan kehidupan.

Keempat peristiwa yang disambut rasa cemas adalah kematian.

Semua orang takut. Saat ruhnya dicabut, sangat menakutkan. Seperti binatang dikuliti hidup-hidup, pasti sakit.

Tetapi bagi orang beriman ada kematian yang ditunggu. Yaitu kematian yang ruhnya dijemput para malaikat.

Allah berfirman,”Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.” (Al Fajr: 27-30)

Itulah kematian yang indah. Konon tidak merasa sakit. Jasadnya tersenyum karena sudah melihat tempat tinggal berikutnya yang teramat indah yaitu surga.

Itulah empat peristiwa agung yang selalu disambut dengan rasa cemas. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto