
Tak semua pegawai berakhir bahagia di masa purnabakti. Namun, dengan syukur, silaturahmi, dan gaya hidup sederhana, pensiun justru menjadi masa keemasan.
Oleh dr. Mohamad Isa
Tagar.co – Semua pegawai, baik negeri maupun swasta, pada saatnya akan memasuki masa pensiun. Pensiun dari tugas-tugas yang selama ini diembankan oleh negara atau perusahaan. Ada masa kita diterima, ada masa kita dilepas.
Sebagai aparatur sipil negara (ASN), perjalanan itu dimulai dari proses penerimaan dan berakhir dengan pelepasan resmi. Sebuah proses alami yang harus dilalui.
Baca juga: Bahagia setelah Berkuasa: Menangkal Post Power Syndrome
Riwayat Kerja
Saya sudah melewati fase itu. Setelah lulus sebagai dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada tahun 1987, saya langsung didaftarkan melalui fakultas untuk mengikuti program negara.
Saat itu, semua dokter wajib menjalani pengabdian melalui Program Wajib Militer, Dokter Inpres, atau menjadi dosen pre-klinik di fakultas kedokteran. Setelah menuntaskan program tersebut, barulah bisa memperoleh Surat Izin Praktik (SIP) atau melanjutkan ke pendidikan spesialis.
Saya diangkat sebagai PNS melalui penugasan sebagai Dokter Inpres di Puskesmas Wera Timur, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Surabaya ke Bima saat itu memakan waktu 3 hari 4 malam, menyeberangi tiga selat: Bali, Lombok, dan Sumbawa. Puskesmas Wera Timur sendiri terletak di daerah terpencil, tanpa listrik dan PDAM, dengan jumlah penduduk sekitar 11.000 jiwa.
Dari Puskesmas, saya menempuh jalur pendidikan spesialis, menjadi dokter di rumah sakit, menjabat posisi struktural, hingga mengajar. Saya mengakhiri masa bakti sebagai PNS di RSUD Ulin pada tahun 2020, dengan pangkat terakhir IV C dan masa kerja 34 tahun. Uang pensiun yang diterima sebesar Rp 5.271.800 per bulan.
Selama pengabdian, saya menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya Pengabdian 10, 20, dan 30 tahun—penghargaan bagi PNS yang mengabdi dengan kejujuran, kecakapan, dan kedisiplinan tanpa pernah terkena hukuman disiplin sedang atau berat.
Dinamika saat Bekerja
Selama masa kerja, dinamika suka dan duka tak terelakkan. Baik sebagai staf maupun pimpinan, risiko pekerjaan adalah bagian dari perjalanan. Godaan pun datang silih berganti, baik dari dalam maupun luar. Godaan internal berupa konflik pribadi atau kelelahan mental, sementara godaan eksternal datang dari atasan atau pihak ketiga yang mencoba mempengaruhi integritas.
Godaan-godaan ini harus dilawan dengan keteguhan hati, iman yang kuat, dan kepercayaan diri yang utuh. Tidak semua ASN mampu bertahan. Ada yang akhirnya terjerumus ke persoalan etik, perdata, bahkan pidana, hingga berujung pada pemecatan sebelum masa pensiun tiba.
Namun, syukurlah, masih banyak ASN yang memegang teguh idealisme, berdedikasi tinggi, dan menyelesaikan pengabdian dengan baik hingga akhir masa bakti.
Pensiun Bahagia
Setiap pensiunan tentu mendambakan hidup bahagia. Lalu, bagaimana caranya? Setidaknya ada beberapa langkah sederhana untuk menjaga kebahagiaan setelah pensiun:
-
Menyadari dan mensyukuri apa yang dimiliki saat ini.
-
Tetap aktif dengan kegiatan positif dan bermanfaat.
-
Rutin berolahraga secukupnya.
-
Menikmati rekreasi yang menyenangkan.
-
Menjaga dan merawat silaturahmi.
-
Melatih hati agar tidak mudah tersinggung.
-
Menyanyi atau bersenda gurau sebagai terapi jiwa.
-
Berbelanja seperlunya, bukan untuk gaya hidup.
-
Meningkatkan ibadah dan kedekatan dengan Sang Pencipta.
-
Menjaga kesehatan dengan bijak.
Silaturahmi Pensiunan
Pada 2 Agustus 2025 lalu, kami mengadakan silaturahmi ke-13 para mantan Pejabat Eselon 1 dan 2 Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Kegiatan ini diadakan di Gedung Sport Centre Kompetem, Jalan Gatot Subroto VIII, Gang Kayu Manis, Banjarmasin.
Gedung ini didirikan oleh Bapak Muhlis Gafuri, khusus untuk latihan dan pertandingan tenis meja, dengan 14 meja tersedia dalam satu area. Hanya dengan biaya Rp 10.000 per orang, siapa pun bisa berlatih sepuasnya.
Acara silaturahmi tersebut diisi dengan sambutan, doa bersama untuk rekan-rekan yang telah berpulang, hiburan musik, nyanyian, serta olahraga tenis meja. Kebersamaan semacam ini sungguh membahagiakan. Silaturahmi dan olahraga adalah kombinasi yang membuat jiwa tetap sehat dan bahagia.
Penutup
Pensiun adalah sebuah keniscayaan, proses alami yang akan dihadapi oleh setiap pegawai. Namun, pensiun bukanlah akhir dari segalanya. Justru, ia adalah gerbang menuju babak baru dalam perjalanan hidup yang penuh makna: babak menuju kebahagiaan.
Banjarmasin, 6 Agustus 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni












