
Dari Sumur Gars hingga Lembah Badar, dari sajian soto sunda di kebun kurma hingga menapaki Gunung Malaikat yang berselimut pasir keemasan, catatan perjalanan ini bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan ziarah batin yang menyalakan kembali semangat perjuangan Rasulullah Saw. dalam hati setiap jemaah Haji 2025.
My Journey on Hajj 2025 (Seri 21); Oleh Anandyah RC, S.Psi, Jemaah Haji KBIH Nurul Hayat Surabaya
Tagar.co – Kota Madinah—kota perjuangan—menyimpan berjuta kenangan kisah-kisah heroik dakwah Rasulullah Saw. dalam menegakkan panji kemenangan Islam. Tapak tilas sejarah Baginda Nabi merupakan menu wajib yang juga menjadi prioritas dalam setiap kunjungan ke Madinah, demi menguatkan kecintaan kepada suri teladan hidup kita.
Tak ingin melewatkan setiap kesempatan berharga untuk para jemaahnya, KBIH Nurul Hayat mengagendakan ziarah atau city tour ke tempat-tempat yang menjadi saksi sejarah peradaban Islam. Sabtu dan Ahad (5-6/7/25), akhir pekanku di Madinah, menjadi momentum luar biasa untuk menelusuri jejak-jejak Nabi di tempat-tempat bersejarah. Membakar kembali napas perjuangan dalam menegakkan kalimat Allah di muka bumi.
Baca juga: Sepuluh Menit di Raudah: Doa-Doa yang Tak Ingin Selesai
Pukul 06.00 pagi, usai serangkaian ibadah, seluruh jemaah bersiap melakukan perjalanan keliling kota untuk kedua kalinya. Sebanyak empat bus telah dipersiapkan KBIH membawa kami ke beberapa tujuan.
Sumur Gars
Tujuan pertama adalah Sumur Gars, sumur Rasulullah Saw. Beliau kerap minum dari sumur ini ketika hijrah. Bahkan, beliau berpesan agar dimandikan dengan air dari sumur ini ketika wafat. Para sahabat pun melaksanakannya dengan penuh kecintaan—jenazah Rasulullah dimandikan di rumah Aisyah dengan air dari sumur tersebut.
Kami memasuki area dengan berbaris satu per satu menyusuri jalanan yang mengelilingi sumur berpagar besi. Tak tampak air dari tempat kami berdiri, hanya dinding pembatas tua yang telah lapuk. Pengelola memberi kami gelas plastik dan mengarahkan mengambil air dari keran-keran yang berjajar. Air itu bersumber dari Sumur Gars. Air ini hanya boleh diminum di tempat—pengunjung dilarang membawa botol sejak dari pintu masuk.
Allahumma salli ala Muhammad. Air yang kuminum ini adalah air yang dahulu Rasulullah minum. Semoga Allah memberkahinya.
Sumur Salman Al-Farisi dan Kebun Kurma
Perjalanan berlanjut ke Sumur Salman Al-Farisi. Dalam sirah, sumur ini digunakan untuk mengairi kebun kurma milik Salman dan masyarakat sekitar. Saat turun, kami melihat pohon kurma pendek yang lebat buahnya. Beberapa stan menjual kurma ajwa seharga 10 riyal per kilogram. Kurma ajwa di sini berbeda dengan yang dibawa ke Tanah Air—lebih kecil, bulat, berwarna hitam, dan empuk.
Baca juga: Dari Gars ke Salman Al-Farisi: Sumur yang Membasuh dan Mengalirkan
Tak jauh dari sumur, kami mengunjungi kebun kurma milik Salman Al-Farisi. Diceritakan dalam sirah, untuk membebaskan dirinya dari perbudakan, Salman harus menanam 100 atau 300 pohon kurma. Rasulullah dan para sahabat gotong royong membantunya. Setahun kemudian, semua pohon berbuah kecuali satu yang ditanam Umar bin Khattab. Ketika Rasulullah menanam ulang pohon itu, ia pun berbuah.
Di kebun ini, pengunjung bisa menikmati kuliner Nusantara, seperti lontong sayur, bakso daging unta, dan siomai. Warung Cianjur jadi favorit. Makanan disantap di bawah naungan pohon kurma yang rindang. Naik unta juga jadi hiburan menarik, memberikan sensasi bak kafilah padang pasir.
Percetakan Al-Qur’an
Tujuan selanjutnya adalah percetakan Al-Qur’an, sekitar 10 menit dari kebun. Sayangnya, setelah menunggu lima menit di dalam bus, kami mendapat kabar bahwa tempat itu belum buka. Ketua KBIH pun memutuskan kembali ke hotel. Alhamdulillah, sebelum zuhur kami sudah tiba dan bisa beristirahat.
Eksplorasi Masjid Nabawi
Selepas zuhur, kami memiliki agenda bebas. Aku dan suami memanfaatkannya untuk mengeksplorasi Masjid Nabawi dan membeli oleh-oleh yang belum sempat dibeli di Makkah.
Pagi setelah syuruq, kami berjalan kaki mengelilingi Masjid Nabawi, memulai dari pintu pagar 320 ke arah selatan, lalu belok ke timur hingga melewati rumah dan mimbar Rasulullah. Di sana, aku perbanyak bersalawat.
Ya Rasul, saat ini aku hanya bisa melewati rumahmu karena jatah kunjunganku sudah habis. Tapi aku yakin, engkau mendengar langkah kakiku dan senandung salawatku. Ya Rasul, limpahkanlah syafaatmu.
Kami terus berjalan ke arah utara, melewati pembangunan perluasan Masjid Nabawi di sisi kanan. Kami keluar dari pintu 333, gerbang utama yang sangat menawan. Burung-burung merpati beterbangan menyambut pagi, memberi nuansa damai dua kota suci, Makkah dan Madinah.
Sarapan dan Belanja
Kami menyambangi food court internasional. Di stan Indonesia, kami membeli mie ayam dan soto ayam khas Sunda seharga 74 riyal. Meski penampilannya menarik, rasa soto itu berbeda dari soto Lamongan yang biasa kami makan.
Dari aplikasi Strava, baru 2 km kami tempuh. Kami tergoda menjelajahi Taibah Market yang tersembunyi di area Hotel Makarem. Di sana, kami membeli oleh-oleh dari toko yang direkomendasikan pembimbing KBIH, dengan harga spesial.
Menuju Badar
Waktu Zuhur tiba. Kami salat dan menjamak asar. Pukul 15.00, kami berangkat city tour ke Kota Badar. Perjalanan memakan waktu dua jam. Jalan mulus, pemandangan gunung batu dan permukiman mendominasi. Setengah perjalanan, kami singgah di Sumur Ar-Rawha, sumur yang dikuasai pasukan Rasulullah saat Perang Badar—strategi yang ikut menentukan kemenangan.
Setelah berswafoto, kami melanjutkan perjalanan ke Lembah Badar, tempat pertempuran fisik antara 300 pasukan Muslim melawan 1.000 Quraisy. Di sinilah 14 syuhada dimakamkan. Ada monumen yang menampilkan nama mereka: 6 dari kaum Muhajirin, 8 dari Anshar.
Masjid Arits dan Jabal Malaikat
Pukul 18.30, rombongan menuju Masjid Arits, pusat komando pasukan Muslimin saat Perang Badar. Di sana kami melaksanakan salat jamak qasar magrib dan isya, lalu makan malam di restoran lokal. Menu utama: nasi mandi dan ikan laut dari Laut Merah.
Kami duduk berkelompok di atas plastik putih besar. Nampan besar diletakkan di tengah, makanan dituangkan langsung ke plastik—begitulah budaya makan berjemaah di sini.
Perjalanan ditutup dengan kunjungan ke Jabal Malaikat, gunung tempat Allah menurunkan bala bantuan malaikat. Gunung pasir berwarna keemasan ini lembut dan tidak menempel di pakaian. Jemaah, tua dan muda, antusias menaiki bukit ini. Kami bersuka ria, seakan kenangan masa kecil bermain pasir terulang kembali.
30 menit berlalu cepat. Pukul 22.00, kami kembali ke Madinah.
Alhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar. Ya Allah, aku bersyukur atas nikmat-Mu hari ini. Menelusuri jejak Nabi memberi inspirasi dan motivasi untuk terus menjaga kesinambungan aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar.
Keikhlasan, semangat, pengorbanan, ketaatan, kedisiplinan, keteguhan, dan tawakal adalah ruh perjuangan Islam. Kisah Badar adalah pelajaran besar dalam jihad kehidupan, cambuk bagi diri untuk tetap istiqamah dalam li i’laai kalimatillah, (#)
Penyuntign Mohammad Nurfatoni












