
Masjid Ar Royyan Buduran menyajikan lebih dari 1.700 porsi makanan gratis, semua jadi saksi bukan hanya perut kenyang, tapi hati turut senang.
Tagar.co — Sabtu (28/6/25) malam, langit Buduran masih diselimuti ketenangan usai hujan ringan sore hari. Di Masjid Ar Royyan Muhammadiyah Buduran, suasana justru terasa hangat dan ramai.
Selepas salat Isya berjamaah, halaman dan serambi masjid berubah menjadi arena kebahagiaan—penuh tawa, aroma makanan, dan wajah-wajah sumringah. Malam itu, Kemadjoean Café edisi kedua kembali digelar.
Kegiatan yang lahir dari semangat kolaborasi antara Takmir Masjid Ar Royyan, jamaah, donatur, serta PCM, PCA, PCPM, dan PCNA Buduran ini memang bukan sekadar acara makan-makan. Ia adalah simbol kehangatan masjid sebagai pusat kebudayaan umat, tempat orang-orang berkumpul bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga berbagi, belajar, dan bersilaturahmi.
Tak kurang dari 1.700 porsi makanan dan minuman disiapkan malam itu. Bukan makanan biasa, melainkan pilihan menu yang menggoda lidah, seperti nasi ayam bakar, nasi tempong, soto, gule, dimsum, takoyaki, hingga bakso yang mengepul panas.
Di sudut lainnya, barisan minuman dingin menyambut tamu dengan es dawet, es sirsak, es janggelan, es kuwut—semuanya menggugah selera. Dan yang paling menyenangkan: semua disajikan gratis.
Ya, tidak ada meja kasir, tidak ada sistem bayar. Siapa pun boleh datang, siapa pun boleh makan. “Silakan ambil, silakan nikmati,” begitu kira-kira pesan tak tertulis yang terasa dari seluruh panitia.
Pelayan yang Baik
Sejak pukul 18.30, para jamaah mulai berdatangan. Ada yang datang sekeluarga, ada yang membawa serta anak-anak, ada pula para pemuda dan lansia. Sambil menunggu persiapan makanan selesai, mereka dipersilakan membaca buku di pojok baca, atau menyeduh sendiri kopi dan teh hangat yang juga disediakan gratis.
Acara dipandu dengan penuh semangat oleh dua MC yang juga bagian dari keluarga besar Takmir Masjid, yakni Alvian dan Bayu. Dengan candaan segar dan kepiawaian mereka membangun suasana, malam itu terasa hidup. Ada games interaktif, ada doorprize yang dibagikan, dan ada tawa yang tak berhenti mengalir di antara jamaah.
Ketua Takmir Masjid, Ustaz Ridwan Manan, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan harapannya agar Kemadjoean Café dapat menjadi kegiatan rutin setiap bulan.
“Kita ingin masjid ini menjadi tempat yang dirindukan semua orang. Di usia yang belum genap lima bulan, kami sadar bahwa butuh sinergi semua pihak agar Masjid Ar Royyan bisa menjadi pelayan yang baik bagi jamaah dan musafir,” ujarnya dengan mata berbinar.

Yang paling indah dari semua itu, adalah suasana kebersamaan yang begitu terasa. Tidak ada sekat antara warga Muhammadiyah dan masyarakat umum. Semua hadir dan membaur menjadi satu dalam suasana penuh kekeluargaan.
Anak-anak berlarian dengan gembira, para orang tua saling menyapa, dan senyum tersungging di wajah siapa saja yang melangkah keluar masjid malam itu.
Masjid Ar Royyan malam itu bukan hanya rumah ibadah. Ia menjelma menjadi rumah besar yang memeluk semua yang datang. Kemadjoean Café bukan hanya soal makanan, tetapi tentang kebersamaan, cinta, dan harapan akan peradaban umat yang inklusif, terbuka, dan hangat.
Karena di Masjid Ar Royyan, orang datang dengan senang, dan pulang dengan kenyang—bukan hanya perut, tapi juga hati. (#)
Jurnalis Bayu Firdaus. Penyunting Darul Setiawan.












