Feature

Eco Bhinneka Muhammadiyah Ajak Pemuda Belajar Inklusi demi Bumi yang Ramah Semua

32
×

Eco Bhinneka Muhammadiyah Ajak Pemuda Belajar Inklusi demi Bumi yang Ramah Semua

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum Hidimu Fajri Hidayatullah saat memberikan sambutan (Tagar.co/Karina Damayanti)

Menjelang aksi Walk for Peace and Climate Justice, Eco Bhinneka Muhammadiyah menggelar pelatihan inklusi bagi pemuda lintas iman. Mereka belajar menyapa difabel dengan empati—langkah awal menciptakan bumi yang damai, adil, dan ramah bagi semua.

Tagar.co –  Hening dan hangat terasa di Aula Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Sabtu siang (28/6/2025). Di tengah semangat menyambut kampanye Walk for Peace and Climate Justice yang akan digelar bulan depan, Eco Bhinneka Muhammadiyah mengawali langkahnya dengan cara yang sederhana namun berdampak besar: membuka ruang inklusi bagi penyandang disabilitas.

Baca juga:

Kegiatan bertajuk Sosialisasi Interaksi bersama Kelompok Difabel ini dimulai pukul 13.00 WIB dan dihadiri oleh beragam kalangan—komunitas difabel, relawan muda, hingga pemuda lintas iman dari seluruh wilayah Provinsi Daerah Khusus Jakarta. Bukan sekadar pelatihan, acara ini menjadi medan pembelajaran kolektif untuk memahami sekaligus memanusiakan sesama dengan perspektif yang lebih utuh.

Belajar Menyapa dengan Empati

Setiap sesi dalam sosialisasi ini dirancang untuk mengasah keterampilan dasar berinteraksi dengan sahabat difabel. Mulai dari pengenalan ragam difabel, regulasi dan kebijakan terkait, pemahaman etika komunikasi, hingga praktik langsung dalam mendampingi mereka dalam ruang sosial.

Baca Juga:  Dari Meja Buka Puasa ke Aksi Lingkungan, Eco Bhinneka Muhammadiyah Satukan Tokoh Lintas Iman

Fajri Hidayatullah, Ketua Umum Himpunan Difabel Muhammadiyah (Hidimu), menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya inklusi dalam membangun masa depan. “Indonesia berdiri dari keberagaman. Kita ingin negeri ini menjadi lebih damai, ramah, inklusif, dan peduli pada bumi. Menuju 2045, kita semua harus menciptakan generasi unggul yang berpihak pada semua,” tegasnya.

Belajar empati. Dalam ice breaking peserta diminta berjalan dengan mata tertutup dan memegang tongkat kemudian berjalan menuju titik suara (Tagar.co/Karina Damayanti)

Empat Tujuan, Satu Visi Inklusif

Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan seremonial. Di balik jalannya sesi demi sesi, tersimpan empat tujuan besar yang hendak dirangkai menjadi satu visi bersama: membangun ruang sosial yang benar-benar inklusif.

Langkah pertama dimulai dari hal yang mendasar—memahami arti dari kata “difabel” dan “disabilitas” secara tepat. Sebuah pemahaman awal yang penting agar tak ada lagi kata-kata yang melukai karena ketidaktahuan.

Kemudian, peserta diajak menyelami ragam kondisi difabel, menyadari bahwa disabilitas bukan satu rupa, melainkan spektrum yang luas: ada yang terlihat, ada pula yang tidak kasatmata.

Dari sana, ruang empati mulai terbuka. Mereka belajar melihat perjuangan yang dijalani kelompok difabel setiap hari, dan menyadari bahwa akses bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga sikap.

Baca Juga:  Pesantren Muhammadiyah Didorong Jadi Pelopor Hemat Energi lewat Gerakan 1000 Cahaya

Tujuan terakhir adalah yang paling praktis sekaligus menantang: bagaimana mendampingi sahabat difabel dalam kehidupan sosial, bukan sebagai objek belas kasih, tetapi sebagai kawan seperjalanan yang setara.

Iqbal Rois dari Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial PWM Jakarta menegaskan pentingnya langkah ini dalam konteks pembangunan bangsa. “Harapannya, kegiatan yang kita lakukan hari ini menjadi bagian dari tujuan untuk menyongsong Indonesia berkemajuan,” ujarnya penuh keyakinan.

Empat tujuan itu menjadi fondasi. Tapi lebih dari itu, kegiatan ini adalah latihan harian untuk menciptakan masyarakat yang tak hanya sadar akan keberagaman, tetapi juga terampil merawatnya.

Langkah Kecil Menuju Aksi Besar

Sosialisasi ini juga bukan akhir, melainkan permulaan. Aksi jalan damai bertajuk Walk for Peace and Climate Justice yang akan datang menjadi panggung lebih luas untuk membawa pesan damai dan keadilan iklim ke tengah masyarakat. Dan inklusi menjadi fondasi penting dalam pesan itu.

Alif Jihad Rais dari Tim Program SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi membangun kesadaran yang berakar. “Saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti diskusi ini dengan antusias. Semoga diskusi ini menambah wawasan baru soal difabel sebagai bentuk dukungan kepada kelompok rentan, terutama perempuan dan difabel,” ujar Alif.

Baca Juga:  Tambang dan Etika Keberpihakan: Kritik Ekologi Politik atas Sikap Muhammadiyah

Antusiasme tampak jelas, terutama dari pemuda lintas iman dan relawan Muhammadiyah yang baru pertama kali mengikuti pelatihan inklusi. Semangat belajar dan kolaborasi terasa kuat di antara peserta. Harapannya, kegiatan serupa dapat digelar rutin di tingkat komunitas untuk memperluas cakupan gerakan yang berpihak pada semua kelompok, tanpa kecuali. (#)

Jurnalis Karina Damayanti Penyunting Mohammad Nurfatoni