Opini

Melipatgandakan Nilai Ibadah di Tanah Suci dengan Habluminannas

37
×

Melipatgandakan Nilai Ibadah di Tanah Suci dengan Habluminannas

Sebarkan artikel ini
Salat dan berdoa di antara mimbar, mihrab dan makam Nabi Muhammad di Masjid Nabawi (Tagar.co/Muh. Isa Ansori)

Di Masjidilharam dan Masjid Nabawi, nilai ibadah bisa berlipat ganda. Tapi tahukah Anda, ada cara lain agar pahala makin deras mengalir—yakni melalui dimensi sosial: habluminannas.

Oleh Muh. Isa Ansori, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pacitan, Jemaah Haji 2025 Al-Mabrur

Tagar.co – Melaksanakan ibadah di Masjidilharam memiliki nilai seratus ribu kali lipat dibandingkan tempat lain. Karena itu, kesempatan beribadah di sana menjadi momen istimewa untuk berlomba-lomba merutinkan salat lima waktu, salat sunah, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menjalankan berbagai bentuk ibadah lainnya.

Demikian pula Masjid Nabawi, tempat yang nilai ibadahnya dilipatgandakan seribu kali dibandingkan masjid-masjid lainnya. Ibadah apa pun yang dilakukan di sana akan mendapatkan ganjaran berlipat sesuai angka tersebut.

Namun, tahukah kita bahwa ibadah habluminallah yang telah bernilai tinggi ini masih bisa dilipatgandakan lagi? Sebagaimana telah dibahas dalam tulisan sebelumnya, dimensi sosial (habluminannas) adalah kunci yang bisa menggelembungkan nilai-nilai ibadah itu jauh lebih besar.

Baca juga: Dari Makkah ke Madinah: Menapak Jejak Sosial Rasulullah

Membantu Orang Lain

Di Dua Tanah Suci (Haramain) ini, sebaiknya kita tidak bersikap individualistis dan egois. Jangan hanya berangkat ke masjid sendirian atau sekadar bersama pasangan, lalu merasa terbebani ketika ada lansia atau penyandang disabilitas yang ingin ikut namun butuh pendampingan.

Baca Juga:  Sebutir Kurma dari Pelataran Masjid Nabawi

Mengajak mereka yang belum memahami lokasi Masjidilharam—dengan segala pintu masuk dan keluarnya—justru menjadi ladang amal yang luar biasa. Ketika mereka akhirnya mengerti dan bisa mengajak orang lain pula, maka nilai kebaikan dari petunjuk pertama kita akan terus berlipat ganda.

Mendorong orang sakit dengan kursi roda, membantu penyandang disabilitas, atau sekadar menemani jamaah lanjut usia, insyaallah akan meninggikan derajat ibadah kita. Selain mendapat balasan atas perbuatan tersebut, kita pun bisa merasakan manfaat dari doa dan rasa syukur mereka yang kita bantu.

Begitu pula dalam hal teknologi, seperti memasangkan aplikasi Nusuk bagi mereka yang belum terbiasa. Bantuan semacam ini membuat ibadah di Masjidilharam terasa lebih nyaman. Mereka tidak perlu khawatir saat ada pemeriksaan petugas, sebab izin ibadahnya sudah tersimpan dalam genggaman.

Nusuk juga menjadi syarat untuk masuk ke Raudah. Tempat yang amat mustajab untuk berdoa. Ketika ada teman yang berhasil masuk ke Raudhah berkat bantuan kita, betapa besar kebahagiaan mereka. Dan jika mereka pun mendoakan kita, karena merasa terbantu, maka kita mendapatkan doa berganda—di samping doa kita sendiri.

Bantuan kita dalam hal ini adalah bagian dari ilmu yang bermanfaat, yang pahalanya akan terus mengalir seperti sedekah jariyah, tanpa terhitung jumlah akhirnya.

Baca Juga:  Tuk… Tuk… Tuk…: Langkah Tawaf si Buta di Baitullah

Melipatgandakan Nilai Ibadah

Ada dua rujukan utama yang menunjukkan bagaimana nilai ibadah bisa berlipat ganda.

Pertama, hadis tentang ilmu yang bermanfaat. Hadis populer ini sering dikaitkan dengan sedekah jariyah dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya. Pengetahuan yang kita bagikan—tentang pelaksanaan haji, tata cara ibadah di berbagai tempat di Makkah maupun Madinah—akan menjadi amal jariyah. Pahala dari orang-orang yang mengamalkan pengetahuan itu akan terus mengalir kepada kita, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.

Bayangkan, sekali salat nilainya lebih baik dari seratus ribu kali. Jika kita mengajak teman untuk terus melakukannya setiap hari, maka kalkulator 12 digit pun bisa mentok untuk menghitung nilai ganjarannya.

Kedua, adalah keutamaan memberi petunjuk kepada orang lain—baik tentang arah tempat atau cara menggunakan aplikasi tertentu. Orang yang memudahkan ibadah orang lain akan mendapat pahala yang sama dengan yang menjalankannya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala dari pelaku ibadah itu.

Dalam hadis Nabi yang sahih disebutkan: “Barangsiapa yang membuat sunnah hasanah dalam Islam, maka dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyi’ah dalam Islam, maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (H.R. Muslim)

Baca Juga:  Mengunjungi Raudah: Detak Hati di Taman Surga Nabawi

Di Masjid Nabawi pun berlaku hal serupa. Mereka yang tidak egois, yang tak hanya berburu pahala untuk dirinya sendiri, tetapi bersedia berbagi pengetahuan, menunjukkan jalan, dan membantu memasang aplikasi Nusuk agar orang lain bisa masuk Raudah—maka pahala mereka dilipatgandakan seribu kali.

Bayangkan jika di dalam Raudhah mereka membaca ayat-ayat Al-Qur’an, termasuk doa-doa yang tertulis di sana. Maka setiap hurufnya—yang dihitung sepuluh pahala—akan dikalikan lagi seribu. Sekali lagi, kalkulator 12 digit bisa mentok menghitungnya.

Investasi Paling Menguntungkan

Habluminannas adalah jalan terbaik untuk meningkatkan habluminallah kita—terutama di dua Tanah Suci ini. Sering kali, keegoisan bisa langsung dibalas dengan ujian atau kesulitan. Sebaliknya, aksi sosial dibalas kebaikan secara cepat, bahkan sebelum kita bergeser dari tempat semula.

Jika ditinjau secara ekonomi, maka habluminannas untuk melipatgandakan habluminallah adalah investasi paling menguntungkan. Seperti halnya sedekah jariyah, yang terus mengalir pahalanya, bahkan setelah kita berpindah ke alam barzakh.

Ibadah adalah pilihan. Sebagaimana kita memilih investasi yang paling menjanjikan keuntungan, maka meninggalkan egoisme dan individualisme selama di Tanah Suci adalah bentuk bisnis terbaik dengan Allah. Untungnya tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Wallahualam. (#)

Madinah, 27 Juni 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni