
Khotbatul Wada eLKISI Mojokerto bukan sekadar pelepasan santri, tapi juga panggilan rohani. Mamendikdasmen Atip Latipulhayat menyerukan: jangan wariskan generasi yang lemah dalam ilmu, iman, dan akhlak.
Tagar.co — Suasana haru menyelimuti halaman Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) eLKISI Mojokerto, Jawa Timur, Ahad (1/6/2025), saat 286 santri dari jenjang SD, SMP, hingga SMA resmi dilepas dalam momen sakral Khotbatul Wada.
Bagi banyak santri, ini bukan sekadar acara perpisahan. Ini adalah momen spiritual yang menegaskan bahwa pendidikan sejati tak hanya mencetak lulusan, tetapi melahirkan generasi pembawa cahaya—generasi yang kuat dalam ilmu, iman, dan akhlak.
Acara ini semakin istimewa dengan hadirnya Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Prof. Atip Latipulhayat, S.H., LL.M., Ph.D. Tiba pukul 10.20 WIB bersama rombongan pejabat kementerian dan dinas, dia disambut hangat keluarga besar PPIC eLKISI.
Pesan Wamen: Jangan Wariskan Generasi Lemah
Dalam sambutannya, Wamen membuka dengan tadabur Surah An-Nisa: 9, ayat yang memperingatkan agar manusia tak meninggalkan generasi yang lemah, baik secara iman, ilmu, maupun akhlak.
“Kalau generasi setelah kita tidak lebih baik, kita belum dikatakan berhasil,” ujarnya.
Baca juga: Ikhtiar Ilmiah Santri eLKISI: Bedah Buku 10 Karya Menuju Khutbatul Wada bersama Wamendikdasmen
Dia pun menyinggung peran Panitia 9, para pejuang kemerdekaan yang di antaranya adalah kiai dan ulama. Mereka tahu, kemerdekaan sejati lahir dari kekuatan rohani, bukan sekadar kekuasaan.
“Tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak lulusan, tapi mencetak manusia yang bermutu, berkarakter, dan siap memikul amanah sejarah,” tegasnya.

Pesan K.H. Fathur Rohman: Wahai Ibu Bapakku, Selamatkanlah Aku
Menguatkan pesan itu, Dr. K.H. Fathur Rohman M.Pd.I menyampaikan refleksi mendalam yang diambil dari buku sakunya berjudul Wahai Ibu Bapakku, Selamatkanlah Aku.
“Wahai ibu bapakku, selamatkanlah aku…”
Kiai Fathur menekankan, banyak anak tampak baik-baik saja di luar, tetapi kosong secara rohani. Mereka hidup di zaman serba cepat, penuh distraksi, namun kehilangan pendampingan iman dari rumah.
Dia lalu mengangkat teladan Lukmanul Hakim:
-
Mendidik dengan hikmah, bukan paksaan.
-
Menasihati dengan cinta, bukan kemarahan.
-
Mewariskan iman dan akhlak, bukan sekadar harta.
“Jangan wariskan rumah dan kendaraan sebelum engkau wariskan akhlak dan iman,” pesannya, disambut isak haru hadirin.
Doa yang Menyentuh Hati
Di akhir acara, suasana benar-benar terasa menyentuh hati. Kiai Fathur mengingatkan bahwa orang tua tidak harus sempurna, tetapi harus mau terus belajar. Pendidikan rohani sejati dimulai dari rumah, bukan hanya diserahkan kepada sekolah atau pesantren.
Ia mengingatkan, anak yang mendoakan orang tuanya adalah tabungan akhirat yang tak ternilai. Dua doa pun menggema, membawa banyak hadirin menitikkan air mata:
Doa anak: “Ya Allah, beri hidayah untuk ayah ibuku…”
Doa orang tua: “Ya Allah, jadikan anak-anakku penjaga salat, pencinta Al-Qur’an…”
Acara Khutbatulwadak tahun ini menjadi lebih dari sekadar prosesi pelepasan santri. Ia adalah seruan kebangkitan spiritual dan pendidikan jiwa, sebuah estafet dari pondok ke rumah, dari guru ke orang tua, dari generasi ke generasi.
Estafet ini tak boleh terputus — demi Indonesia yang lebih beriman, lebih berilmu, dan lebih berakhlak.
.












