Feature

UKT Hizbul Wathan Smamuma: Medan Latihan Jiwa dan Karakter Pandu Muda

45
×

UKT Hizbul Wathan Smamuma: Medan Latihan Jiwa dan Karakter Pandu Muda

Sebarkan artikel ini
Kepala Smamuma Drs. H. Hery Totowiyono, M.Pd., saat menyampaikan sambutan (Tagar.co/Pratista Ayundia Pratiwi)

Di balik simpul tali dan barisan rapi, UKT Hizbul Wathan di SMA Muhammadiyah 2 Mayong, Jepara, menjadi ajang menempa disiplin, kepemimpinan, dan semangat kebersamaan para siswa kelas X.

Tagar.co – Pagi baru saja merekah di balik perbukitan ketika derap langkah siswa kelas X SMA Muhammadiyah 2 Mayong (Smamuma), Jepara, Jawa Tengah, mulai menggema di halaman sekolah, Senin (12/5/25).

Mengenakan seragam lengkap kepanduan Hizbul Wathan, mereka berdiri tegap dalam barisan, menyambut ujian kenaikan tingkat (UKT) dengan semangat menyala.

Hari itu, halaman sekolah menjelma menjadi arena penuh dinamika. Suara lantang dan barisan rapi para peserta menjadi penanda dimulainya sebuah proses penting: ujian pendewasaan, mental, dan karakter lewat kepanduan.

Baca juga: Belajar Langsung di Kampus: Siswa Smamuma Ikuti Program Sit in University di Umku

Bertema “Mengaplikasikan Sikap Kepanduan Hizbul Wathan untuk Ketangguhan Generasi Muda Islami”, kegiatan ini bukan sekadar penilaian teknis, melainkan latihan hidup yang membentuk kepribadian.

Dalam upacara pembukaan yang berlangsung khidmat, Kepala Smamuma Drs. H. Hery Totowiyono, M.Pd., menyampaikan pesan yang membakar semangat para peserta.

Baca Juga:  Makna Kerja Sama dan Ketangguhan Diri

“Hizbul Wathan bukan hanya soal baris-berbaris atau tali-temali, tapi tentang bagaimana kita menempa diri menjadi pribadi yang disiplin, tangguh, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam,” ujarnya.

Ucapan itu menjadi bahan bakar bagi para siswa untuk menjalani hari yang panjang. UKT Hizbul Wathan memang menuntut lebih dari sekadar ketangkasan. Di balik peluit, sandi, simpul tali, dan kerja tim, tersimpan pelajaran tentang kepemimpinan, komitmen, dan solidaritas.

Para siswa usai mengikuti UKT HW Smamuma. (Tagar.co/Pratista Ayundia Pratiwi)

Bela Suci Ramadhani, siswa kelas X-2, sempat merasa gugup. Namun seiring waktu, rasa takut itu berubah menjadi kebanggaan.

“Capek, iya. Tapi seru dan berkesan. Saya belajar bagaimana mengendalikan diri dan bekerja sama. Kedisiplinan itu ternyata bukan cuma teori,” katanya, tersenyum lelah namun puas.

Kesuksesan acara tidak lepas dari kerja keras Dewan Kerabat (DK) dan panitia yang telah mempersiapkan kegiatan jauh hari sebelumnya. Salah satu panitia, Angga Abyan Maulana, mengakui tantangan yang dihadapi selama proses persiapan.

“Sempat lelah dan emosi juga. Tapi kalau sudah totalitas dari awal, rasa capek itu jadi tidak terasa,” tuturnya.

Baca Juga:  Pelantikan IPM dan HW MTs Muga Sumberrejo Berlangsung Khidmat di Alam Terbuka

Menjelang senja, UKT ditutup secara resmi oleh Umi Lestari, S.Pd., pembina Hizbul Wathan, yang menyampaikan apresiasinya kepada seluruh peserta.

“Adik-adik pandu hari ini menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar siswa, tapi calon pemimpin yang siap mengemban amanah. HW telah menjadi ladang pembentukan karakter yang luar biasa,” ujarnya dengan mata berbinar.

UKT Hizbul Wathan tahun ini meninggalkan lebih dari sekadar peluh di seragam. Ia menyisakan kesan mendalam—tentang persahabatan, kedisiplinan, dan semangat juang. Sehari penuh yang dilalui para siswa adalah potret bagaimana SMA Muhammadiyah 2 Mayong memaknai pendidikan: tak hanya akademik, tapi juga pembentukan jiwa.

Di sekolah ini, kepanduan bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler. Ia adalah proses pendidikan karakter, tempat nilai-nilai Muhammadiyah hidup dalam langkah-langkah pandu muda yang tengah ditempa untuk menjadi pribadi tangguh, cerdas, dan berakhlak. (#)

Jurnalis Pratista Ayundia Pratiwi Penyunting Mohammad Nurfatoni