
Sebesar apa pun dosa manusia, pintu tobat Allah selalu terbuka. Selama hayat masih dikandung badan, ampunan-Nya menanti setiap hamba yang kembali dengan hati yang tulus.
Oleh Muhammad Hidayatulloh Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy
Tagar.co – Selama napas masih ada, selama jantung masih berdetak, selama mata masih bisa menangis, maka kasih sayang Allah tidak pernah tertutup. Tidak sedetik pun. Tidak satu helaan napas pun. Pintu tobat-Nya terbuka selebar-lebarnya.
Allah tidak seperti kita yang cepat bosan, mudah marah, atau menyimpan dendam. Sebesar apa pun dosa hamba-Nya, selama ia mau kembali dengan hati yang tulus, maka Allah akan menyambutnya dengan ampunan dan kasih sayang.
قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Az-Zumar: 53)
Menurut Imam Ibnu Katsir, ini adalah ayat yang paling memberi harapan. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni. Semua bisa dihapuskan dengan tobat. Bahkan orang yang telah bergelimang dosa sepanjang hidupnya pun akan diampuni, asalkan ia benar-benar kembali kepada Allah.
Rasulullah ﷺ menyampaikan sabda Allah dalam hadits qudsi:
يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي، غَفَرْتُ لَكَ عَلَىٰ مَا كَانَ مِنْكَ، وَلَا أُبَالِي
“Wahai anak Adam, selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu atas segala dosa yang telah engkau lakukan, dan Aku tidak peduli.”
(H.R. At-Tirmizi: hasan sahih)
Betapa luas dan dalamnya kasih sayang Allah. Namun, semua itu ada batas waktunya. Bukan karena Allah menutup pintu-Nya, melainkan karena ajal menutup kesempatan kita.
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ ۚ فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Sesungguhnya tobat yang diterima Allah hanyalah untuk orang-orang yang melakukan kejahatan karena kejahilan, lalu mereka bertobat dalam waktu yang dekat. Mereka itulah yang Allah terima tobatnya. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (An-Nisa: 17)
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa “dalam waktu dekat” berarti sebelum maut datang, sebelum pintu tobat benar-benar tertutup. Karena setelah nyawa sampai di kerongkongan, tobat tidak lagi berguna. Penyesalan sudah terlambat.
Bagi siapa yang tetap membangkang, tidak mau kembali kepada-Nya hingga ajal menjemput, Allah juga telah memperingatkan:
وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ ۖ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا۟ وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِى كُلَّ كَفُورٍ
“Adapun orang-orang kafir, bagi mereka neraka Jahannam. Tidak diputuskan kematian atas mereka sehingga mereka mati, dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir.” (Fathir: 36)
-
Selama kita hidup, Allah Maha Pengampun.
-
Tapi di akhirat, yang berlaku adalah keadilan-Nya, bukan lagi kesempatan.
-
Orang-orang yang terus membangkang akan mendapat azab yang sangat pedih.
Maka, jangan menunda tobat. Jangan menunggu nanti, karena tidak ada yang menjamin nanti itu masih ada. Sungguh, Allah lebih sayang kepada hamba-Nya yang kembali, daripada seorang ibu yang menemukan kembali anaknya yang hilang.
Rasulullah ﷺ pernah memberikan gambaran yang sangat menyentuh tentang besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Suatu hari, setelah peperangan, para sahabat melihat seorang wanita berlari-lari mencari anaknya. Setiap kali ia menemukan bayi, ia peluk dan susui, sampai akhirnya menemukan bayinya sendiri. Lalu Rasulullah ﷺ bertanya:
أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟
“Apakah kalian melihat wanita ini akan melempar anaknya ke dalam api?”
Para sahabat menjawab: “Tidak, demi Allah, ia tidak akan melakukannya.”
Lalu Nabi ﷺ bersabda:
لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا
“Sungguh, Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil kuat tentang luasnya rahmat Allah yang mencakup seluruh makhluk-Nya, dan bahwa Allah tidak mungkin menzalimi siapa pun.
Kasih sayang ibu adalah kasih sayang yang paling dalam dan alami yang bisa dibayangkan oleh manusia. Namun kasih sayang Allah melampaui semua itu—tanpa batas, tanpa syarat, dan selalu ada selama hamba-Nya mau kembali.
Maka, jangan ragu untuk kembali kepada Allah. Kalau seorang ibu bisa memaafkan anaknya meski terus dilukai, maka Allah jauh lebih bisa mengampuni hamba-Nya yang menyesal dan bertobat. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












