Khotbah

Menjaga Hak Sesama, Jalan Selamat dari Kebangkrutan di Hari Kiamat: Khotbah Jumat di Masjid Nabawi

56
×

Menjaga Hak Sesama, Jalan Selamat dari Kebangkrutan di Hari Kiamat: Khotbah Jumat di Masjid Nabawi

Sebarkan artikel ini
Syekh Husain bin Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh

Dalam khotbah Jumat di Masjid Nabawi, Syekh Husain bin Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh mengingatkan: kezaliman terhadap sesama bisa menghanguskan amal kebaikan dan menggiring kepada kebangkrutan hakiki di Hari Kiamat.

Khotbah Jumat di Masjid Nabawi, 26 Apri 2025 atau 27 Syawal 1446 oleh Syekh Husain bin Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh. Ditranskrip dari Tube Sermon

Tagar.co – Segala puji bagi Allah dengan pujian melimpah dan diberkahi sebagaimana yang dicintai dan diridai oleh Tuhan kita.

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah yang Mahatinggi. Dan saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya sang Nabi yang terpilih. Semoga Allah senang tiasa melimpahkan salawat untuk beliau beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang merupakan golongan yang bertakwa dan diberi petunjuk.

Selanjutnya, bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, dan bersegeralah menuju keridaannya. Allah Ta’ala berfirman, “Bertakwalah kepada Allah yang hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.

Kaum Muslimin, termasuk taufik yang paling agung dan petunjuk paling sempurna adalah tatkala seorang hamba bersemangat untuk menjaga ketaatan-ketaatannya kepada Tuhannya Azzawajalla sehingga ia sangat gigih dalam menjaga amal ketaatannya, berjuang dengan dirinya agar selamat dari hak-hak para makhluk dan menjauhi sejauh-jauhnya dari terjerumus ke dalam kezaliman kepada mereka dengan berbagai bentuknya, baik secara lisan maupun perbuatan.

Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah langah terhadap apa yang orang zalim perbuat. Sesungguhnya, dia menangguhkan mereka sampai hari ketika mata mereka terbelalak.

Dalam hadith Quds yang diruatkan oleh Nabi Saw dari Tuhannya, “Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya aku telah mengharamkan kezaliman atas diriku dan aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (Hadis riwayat Muslim).

Hamba-hamba Allah, termasuk kehancuran terbesar dan kerugian terparah adalah melepaskan kendali diri dalam berbuat zalim kepada orang lain dan merampas hak-hak mereka.

Nabi SAW bersabda, “Berhati-hatilah kalian terhadap kezaliman, karena kezaliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Ingatlah, wahai Muslim, bahwa yang menjadi kewajibanmu yang paling agung adalah menjaga kebajikan-kebajikan dan agamamu pada hari tatkala seseorang lari dari saudaranya, ibunya, bapaknya, istrinya. dan anak-anaknya.

Baca Juga:  Sebutir Kurma dari Pelataran Masjid Nabawi

Allah Ta’ala berfirman, “Kami akan meletakkan timbangan amal yang tepat pada hari kiamat sehingga tidak seorang pun dirugikan walaupun sedikit. Sekalipun amal itu hanya seberat biji sawi, pasti kami mendatangannya. Cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan.

Olah karena itu, kerugian sejati dan kesengsaraan besar adalah tatkalah engkau dikaruniakan taufik untuk mengerjakan berbagai kebajikan dan bersegera dalam berbagai ketaatan, namun kemudian engkau datang pada hari kiamat sembari membawa beban hak-hak manusia akibat kezalimanmu kepada mereka.

Itu adalah petaka besar dan kerugian yang dahsyat. Nabi Saw bersabda, “Siapa saja yang pernah melakukan suatu kezaliman terhadap saudaranya baik itu harga diri ataupun perkara lain, maka hendaklah ia meminta untuk dihalalkan pada saat ini sebelum datang hari di mana dinar dan dirham sudah tidak berlaku.”

Jika dia memiliki amal saleh, maka akan diambil dari pahala amalan salehnya sebanyak kezalimannya. Dan jika ia tidak memiliki kebaikan, maka akan diambil dosa orang yang dizaliminnya kemudian dibebankan kepadanya. (Hadis riwayat Bukhari)

Itulah kerugian yang sempurna ketika para pemilik hak-hak tersebut mengambil kebaikan-kebaikanmu atau justru melemparkan keburukan-keburukan mereka ke atas punggungmu.

Nabi Saw bersabda, “Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?’ Para sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut di tengah kami adalah orang yang tidak punya dirham dan harta benda.’ Lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala salat, puasa, dan zakat. Namun ia datang telah mencelah si ini, menuduh si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu, dan memukul si ini.

Maka orang yang ini diberi dari kebaikannya dan orang itu juga diberi dari kebaikannya. Hingga jika semua kebaikannya habis, padahal dosanya belum selesai, diambillah kesalahan-kesalahan orang dizaliminya, lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia pun dilemparkan ke dalam neraka.'” (Hadis riwayat Muslim)

Sesungguhnya itu adalah keadilan Tuhan yang sangat sempurna. Maka wahai siapa yang mendambahkan keselamatan dan ketenteraman, tinggalkanlah kezaliman terhadap sesama, bersegeralah untuk menunaikan hak-hak mereka dan memohon kerelaan mereka.

Baca Juga:  Khotbah Idulfitri: Merawat Cinta setelah Ramadan

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya alasan untuk menyalahkan itu hanya ada pada orang-orang yang menganiaya manusia dan melampaui batas di bumi tanpa hak alasan yang benar.”

Wahai orang yang telah membiarkan lisan dan penanya bebas mencela, menuduh, dan merendahkan sesama, yang bersegera dalam menggunjing dan mencemarkan kehormatan mereka.

Wahai orang yang memakan harta-harta para hamba, meremehkannya dan lalai dalam mengembalikannya kepada pemiliknya, bertobatlah kepada Tuhanmu. Kembalilah ke jalan yang benar dan bersegeralah untuk melepaskan tanggung jawab dari hak-hak itu.

Allah Ta’ala berfirman, “Sungguh rugi orang yang membawa kezaliman.” Penafsiran yang benar adalah bahwa yang dimaksud segala bentuk keazaliman sehingga mencakup seluruh kezaliman kepada manusia baik secara materi ataupun maknawi.

Nabi Saw bersabda, “Siapa yang wafat dan memiliki tanggungan hutang sebanyak 1 dinar atau 1 dirham, maka akan diganti dari pahala kebaikannya pada hari tatkala dinar dan dirham tidak berguna lagi.” Hadis riwyat Ahmad dan Ibn Majah dengan sanat yang sahih.”

Maka bersegeralah semoga Allah merahmati kalian untuk berlepas diri dari kezaliman dan menyelamatkan diri kalian agar kalian selamat dan beruntung.

Nabi Saw bersabda, “Sungguh semua hak itu akan ditunaikan, dikembalikan kepada pemiliknya pada hari kiamat sampai-sampai seekor kambing tanpa tanduk pun menuntut balas kepada kambing yang bertanduk.” (Hadis riwayat Muslim)

Ya Allah terimalah tobat kami sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. Ampunilah kami sungguhnya Engkau Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Semoga Allah melimpahkan keberakan kepada kita semua pada apa yang telah kita dengar dan mengharunikan kepada kita petunjuk dan ketepatan dalam bertindak.

Semoga salawat dan salam senantiasa tercurah untuk Nabi Muhammad. Saya memuji dan bersyukur kepada Tuhan saya. Saya juga bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah tiada sekutu bagi-Nya dan saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah limpahkanlah salawat dan salam untuk beliau beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.

Baca Juga:  Khotbah Idulfitri: Memakmurkan Masjid Pascaramadan, saatnya Jadi Pusat Solusi Umat

Hamba-hamba Allah, yang menjadi kewajiban seorang muslim adalah berusaha untuk berlepas diri dari hak-hak sesama. Telah disebutkan dalam hadist yang sahih bahwa jihad di jalan Allah akan menggugurkan dosa-dosa kecuali utang.

Sikap menyepelekan utang akan menggiring seorang hamba menuju berbagai hal yang berbahaya baik di dunia maupun di akhirat. Nabi Saw bersabda, “Siapa yang mengambil harta manusia (maksudnya berutang) disertai maksud akan membayarnya maka Allah akan membayarkannya untuknya. Sebaliknya siapa yang mengambilnya dengan maksud merusaknya, merugikannya, maka Allah akan merusak orang itu.”

Oleh karena itu orang yang berbahagia adalah yang mengambil pelajaran dan menyelamatkan dirinya dari hak-hak sesama.

Kemudian sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian dengan suatu perkara yang agung yaitu bersalawat dan salam yaitu bersalawat dan menyampaikan salam kepada pemimpin anak Adnan. Ya Allah limpahkanlah salawat serta salam kepada Nabi Muhammad.

Ya Allah ridailah seluruh para sahabat dan keluarga beliau, beserta siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik. Ya Allah ampunilah seluruh kaum muslimin yang masih hidup maupun yang telah wafat. Ya Allah ampunilah seluruh kaum muslimin dan mukminat.

Ya Allah jagalah kaum muslimin di seluruh tempat. Hilangkanlah keresahan mereka. Lenyapkanlah kegundahan mereka.

Permudahlah urusan mereka dan hinakanlah musuh-musuh mereka. Ya Allah jadilah pelindung saudara penjagaanmu dan pelihara mereka dengan pengawasanmu. Ya Allah binalaskan golongan yang menyiksa dan menzalimi mereka serta azablah mereka dengan adab dari Zat Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.

Ya Allah karuniakanlah penjagaan taufik terhadap Pelayan Dua Kota Suci beserta Putra Mahkota. Limpahkanlah taufik kepada seluruh pemimpin kaum muslimin pada setiap perkara yang dapat mendatangkan kebaikan bagi rakyat mereka.

Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami. Wahai Zat Yang Maha Mulia, Yang Maha Kaya, dan Maha Terpuji, Yang Maha Mulia. Kami akhiri doa ini dengan ucapan segala puji bagi Allah, Tuhan, alam semua. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni