
Dalam kunjungan ke Eco Bhinneka Muhammadiyah, 40 pendeta GPIB dari 15 provinsi belajar soal spiritualitas ekologi. Mereka sepakat: menjaga bumi adalah tugas lintas iman yang tak bisa ditunda.
Tagar.co – Suasana hangat penuh dialog lintas iman mengalir di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Jumat siang. Sebanyak 40 pendeta dari 15 provinsi yang tergabung dalam Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) bertemu dengan tim Eco Bhinneka Muhammadiyah dalam sebuah sesi dialog interaktif yang sarat semangat kolaborasi.
Kunjungan ini menjadi bagian dari program Pendidikan Oikumene Keindonesiaan (POK) GPIB Angkatan II 2025. Para peserta yang merupakan pendeta-pendeta muda tersebut tengah dibekali perspektif kebangsaan dan ekoteologi untuk memperkuat peran gereja dalam menjawab tantangan zaman.
Baca juga: Muhammadiyah Kapal Besar, Eco Bhinneka Sekoci
Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, membuka diskusi dengan menekankan pentingnya membangun spiritualitas ekologi dan kapasitas kader lingkungan lintas iman.
“Gagasan awal Eco Bhinneka fokus utamanya adalah membangun mindset tentang peace building. Mengingat masih maraknya praktik intoleransi di lingkungan masyarakat yang tidak sejalan dengan semangat Kyai Ahmad Dahlan. Tapi kami sadar jika lingkungan rusak, maka perdamaian pun akan sulit tercapai,” ujar Hening.
Ia menjelaskan bahwa program Eco Bhinneka Muhammadiyah telah berjalan sejak 2021 di Pontianak, Ternate, Surakarta, dan Banyuwangi, dengan anak-anak muda sebagai penggeraknya.
Dalam pemaparannya, Hening menggarisbawahi bahwa dalam ajaran Islam terdapat tiga hubungan fundamental: hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam.
“Ketiganya saling terkait dan mempengaruhi. Hubungan dengan Tuhan bisa rusak bila kita merusak alam serta hubungan baik dengan sesama. Ketiga dimensi ini harus berjalan berdampingan, saling melengkapi, dan menyempurnakan,” paparnya.

Sebagai contoh, Hening menyinggung krisis nikel dan deforestasi yang tidak hanya merusak alam tapi juga berpotensi memecah harmoni sosial.
“Menjaga bumi bukanlah tugas satu kelompok saja, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama. Saya mengajak kita semua apapun latar belakangnya untuk bergandengan tangan, mewujudkan harmoni dalam ketiga hubungan ini,” imbuhnya.
Ketua II Majelis Sinode GPIB, Pendeta Manuel Raintung, menyampaikan bahwa GPIB telah mendeklarasikan diri sebagai Gereja Ramah Lingkungan pada Oktober 2023, tepat saat peringatan 75 tahun GPIB.
“Salah satu bentuk sosialisasi yang kami lakukan adalah ajakan untuk makan secukupnya dan tidak menyisakan makanan karena sampah makanan membawa banyak dampak buruk,” ujarnya.
Pendeta Manuel menambahkan, kerja sama antara GPIB dan Eco Bhinneka Muhammadiyah telah terjalin sejak tahun lalu, antara lain lewat kegiatan pengabdian masyarakat di Muara Gembong dan pelibatan tokoh perempuan.
“Tahun lalu, kami telah menjalin kerja sama dengan Eco Bhinneka, mengundang Ibu Hening ke GPIB di Yogyakarta, yang bertujuan untuk menggerakkan perempuan GPIB agar lebih peduli terhadap bumi,” ungkapnya.

GPIB kini aktif mengembangkan Gerakan Eco Church dan membentuk kader lingkungan dari kalangan pendeta muda. Gereja-gereja juga mulai menerapkan praktik ramah lingkungan seperti penghentian penggunaan minuman kemasan, pelarangan rokok, dan kebijakan tanpa plastik dalam setiap persidangan gereja.
“Kami juga membentuk Satuan Tugas Gereja Ramah Lingkungan, yang anggotanya termasuk anak-anak karena selaras dengan komitmen kami sebagai gereja ramah anak,” tutur Pendeta Manuel.
Menanggapi semangat tersebut, Hening Parlan, yang juga Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, menegaskan dukungan penuh Eco Bhinneka terhadap langkah-langkah ekoteologi dan gerakan Eco Church yang digagas GPIB.
“Beragam peluang kolaborasi bisa kita lakukan, seperti pengembangan desa binaan, pengelolaan hutan bersama, ataupun rumah ibadah ramah lingkungan dengan berbagai inisiatif seperti pengelolaan sampah, energi terbarukan, dan ketahanan pangan,” pungkas Hening.
Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk melanjutkan kolaborasi antara Eco Bhinneka Muhammadiyah, GPIB, dan GreenFaith Indonesia dalam mengembangkan program pendidikan lingkungan berbasis iman, pengelolaan rumah ibadah, serta pembangunan model percontohan program keberlanjutan secara bersama. (#)
Jurnalis Dzikri Farah Adiba Penyunting Mohammad Nurfatoni












