Feature

240 Calon Mahasiswa Wawancara KIP-K di Umla: Menjaring Asa dari Keluarga Kurang Mampu

37
×

240 Calon Mahasiswa Wawancara KIP-K di Umla: Menjaring Asa dari Keluarga Kurang Mampu

Sebarkan artikel ini
Tim seleksi beasiswa KIP-K Umla sednga bekerja (Tagar.co/Rohmat)

Wajah-wajah penuh semangat memenuhi kampus Umla. Lewat seleksi wawancara Program KIP-K, ratusan calon mahasiswa berjuang menggapai masa depan yang lebih baik.

Tagar.co – Jumat pagi (4/7/2025), halaman Gedung A Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla) mulai ramai sejak sebelum pukul 08.00 WIB. Ratusan calon mahasiswa baru berdatangan, sebagian dengan wajah tegang, sebagian lagi tampak percaya diri. Di tangan mereka tergenggam map berisi dokumen penting—tanda kesiapan menghadapi seleksi wawancara program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).

Sebanyak 240 peserta hadir mengikuti tahapan akhir dari rangkaian seleksi program beasiswa unggulan dari pemerintah pusat tersebut. Mereka sebelumnya telah dinyatakan lolos seleksi administrasi.

Baca juga: Di Umla, Dahlan Rais Bicara Empat Pilar Muhammadiyah sebagai Fondasi Perubahan

“Wawancara ini merupakan tahap akhir sebelum penetapan penerima KIP-K di Umla. Kami ingin memastikan bantuan tepat sasaran kepada mahasiswa yang benar-benar membutuhkan,” ujar Abdul Majid, S.E., M.M., salah satu dosen yang tergabung dalam tim pewawancara.

Ia berharap tahun ini kuota KIP-K untuk Umla bertambah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Karena animo dan kebutuhan mahasiswa dari kalangan kurang mampu terus meningkat,” tambahnya.

Baca Juga:  Sepuluh Menit Ludes, Nasyiatul Aisyiyah Sidayu Bagikan 200 Paket Takjil Ramah Lingkungan

Selama proses wawancara, para peserta diminta menjawab sejumlah pertanyaan yang menggali latar belakang ekonomi keluarga, motivasi melanjutkan kuliah, serta rencana studi mereka. Tim verifikator tidak hanya memvalidasi data, tetapi juga menakar potensi dan komitmen peserta dalam menjalani masa studi ke depan.

Sebagian mahasiswa Umla peserta seleksi beasiswa KIP-K (Tagar.co/Rohmat)

Salah satu peserta, Dhevan, mengaku merasa lega setelah menjalani sesi wawancara. “Awalnya deg-degan, tapi ternyata pertanyaannya seputar kondisi keluarga dan alasan kuliah di Umla. Semoga bisa lolos dan meringankan biaya kuliah,” ungkapnya sambil tersenyum.

Wawancara ini bukan sekadar formalitas administratif. Di balik setiap pertanyaan dan jawaban, tersimpan harapan akan masa depan yang lebih cerah. Bagi Umla, kegiatan ini adalah bagian dari komitmen nyata dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi siswa berprestasi dari keluarga prasejahtera.

Program KIP-K sendiri memberikan bantuan biaya kuliah dan biaya hidup bagi mahasiswa terpilih. Pemerintah pusat melalui Kemendikbudristek menjadi pengelola utama program ini, bekerja sama dengan perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Hasil seleksi wawancara dijadwalkan diumumkan setelah kuota untuk Umla ditetapkan oleh kementerian. Pihak kampus mengimbau para peserta untuk terus memantau laman resmi UMLA agar tidak ketinggalan informasi penting.

Baca Juga:  Sepuluh Menit Ludes, Nasyiatul Aisyiyah Sidayu Bagikan 200 Paket Takjil Ramah Lingkungan

Di antara antrean dan ruang wawancara yang dipenuhi ketegangan dan harapan, Umla berupaya menjadi jembatan masa depan—bagi mereka yang memiliki semangat tinggi, meski langkahnya seringkali tertatih oleh keterbatasan ekonomi. (#)

Jurnalis Rohmat Penyunting Mohammad Nurfatoni