Telaah

Rezeki Spiritual: Nikmat Salat dan Membaca Al-Qur’an

54
×

Rezeki Spiritual: Nikmat Salat dan Membaca Al-Qur’an

Sebarkan artikel ini
Foto freepik.com premium

Salat tepat waktu dan bacaan Al-Qur’an yang menyejukkan hati adalah rezeki spiritual. Jangan anggap wajar jika hatimu masih tersentuh kalam-Nya. Itu pertanda: Allah sedang memilihmu.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.

Tagar.co – Sering kali kita menganggap sepele nikmat yang sesungguhnya amat mahal nilainya: kemampuan bangun tepat waktu untuk salat, hati yang tenteram saat membaca Al-Qur’an, dan langkah yang ringan menuju ketaatan. Semua itu bukan kebetulan. Itu adalah karunia khusus yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba pilihan-Nya yang disucikan dari kelalaian.

Kadang kita lupa bahwa bisa bangun ketika fajar menyingsing, merasakan desir kesejukan subuh yang membangkitkan kesadaran, lalu menegakkan salat tepat waktu, bukanlah perkara remeh. Itu rezeki yang tak ternilai harganya. Betapa banyak manusia terlelap dalam kubangan kelalaian, tak tersentuh panggilan azan, meski suara berkumandang lima kali sehari.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sesungguhnya salat itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Al-Baqarah: 45)

Maka, bila engkau termasuk orang yang hatinya mudah terpanggil, yang tubuhnya ringan berdiri di hadapan Rabbul ‘Alamin, bersyukurlah. Itu tanda bahwa Allah telah memilihmu menjadi hamba yang dekat kepada-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:

Baca Juga:  Doa untuk Memperindah Akhlak

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا اسْتَعْمَلَهُ

Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memanfaatkannya. (HR. Ahmad)

Para sahabat bertanya, “Bagaimana Allah memanfaatkannya?” Nabi ﷺ menjawab:

يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ

Dia memberi taufik kepadanya untuk melakukan amal saleh sebelum wafatnya.

Tidakkah kita merasa gentar jika tak pernah merasakan nikmat saat salat? Jika Al-Qur’an hanya menjadi lembaran asing yang tak pernah kita resapi maknanya? Padahal Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا الْأَلْبَابِ

(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah supaya mereka mentadaburi ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang berakal. (Sad: 29)

Maka, ketika engkau duduk menatap mushaf, lidah melantunkan kalam suci, dan dada terasa lapang—ketahuilah, itu rezeki. Allah-lah yang memilihmu. Bukan karena kepandaianmu, bukan semata kekuatanmu. Sebab tanpa hidayah, manusia paling cerdas pun bisa jauh dari Al-Qur’an.

Nabi ﷺ bersabda:

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ عَنْ ذِكْرِي وَمَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ

Allah Ta’ala berfirman: Barang siapa disibukkan dengan Al-Qur’an hingga lupa berzikir dan berdoa kepada-Ku, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih utama dari apa yang Aku berikan kepada para peminta. (H.R. Tirmizi)

Baca Juga:  Nomor Lima yang Sengaja Dikosongkan

Betapa agung kedudukan Al-Qur’an di sisi Allah. Betapa mahal nikmat iman. Maka, jangan pernah anggap wajar ketika kita bisa bangun untuk salat Subuh, sebab banyak yang terhalang—terlelap bahkan merasa berat hanya untuk sekadar mengangkat kepala dari bantal. Rasulullah ﷺ bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dua rakaat sunah Subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya. (HR. Muslim)

Jika engkau bisa merasakan manisnya munajat, itu lebih berharga dari emas dan tahta. Allah Azzawajalla berfirman:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ

Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia lapangkan dadanya untuk menerima Islam. (Al-An’am: 125)

Nikmat yang engkau rasakan dalam ibadah bukanlah prestasi pribadi, melainkan rahmat yang Allah turunkan. Maka, jika suatu waktu hatimu terasa berat, langkahmu malas, bacaanmu hambar—ketahuilah itu peringatan. Segeralah istigfar, mohonlah agar Allah memudahkan kembali jalan menuju ketaatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَمْسِكَ بِحَبْلِ اللَّهِ فَلْيُكْرِمِ الْقُرْآنَ

Barang siapa yang ingin berpegang teguh pada tali Allah, hendaklah dia memuliakan Al-Qur’an. (H.R. Al-Hakim)

Muliakanlah ia di hatimu, dalam ucapanmu, dan dalam amalmu. Jadikan Al-Qur’an pelita yang menuntun langkahmu. Jika engkau bisa menangis saat membaca ayat-ayat-Nya, itu nikmat lain yang tak dimiliki semua manusia. Allah berfirman:

Baca Juga:  Ramadan bersama Umar bin Khattab: Dari Mihrab ke Tungku Rakyat

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

Dan mereka tersungkur atas wajah mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk. (Al-Isra: 109)

Siapa saja yang hatinya lembut saat mendengar ayat-ayat Allah, maka itu pertanda hati yang hidup. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika engkau ingin mengetahui keadaan hatimu, maka lihatlah bagaimana ia merespons Al-Qur’an.”

Bersyukurlah jika hatimu masih bisa bergetar. Bersyukurlah jika matamu masih bisa basah karena takut kepada Allah. Karena itu semua bukan hal biasa. Itu adalah karunia yang tak ternilai.

Di antara doa Nabi ﷺ yang agung:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta terhadap amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu. (HR. Tirmizi)

Semoga Allah meneguhkan kita di atas ketaatan, menjadikan kita hamba-hamba yang mencintai salat, mencintai Al-Qur’an, dan mencintai setiap detik dalam kebaikan. Karena semua itu adalah rezeki yang sangat mahal—nikmat yang hanya Allah berikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni