FeatureUtama

Mitos Menteri di Balik Peresmian Laboratorium Modern Ponpes Al-Fattah

32
×

Mitos Menteri di Balik Peresmian Laboratorium Modern Ponpes Al-Fattah

Sebarkan artikel ini
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menandatangani prasasti gedung baru Laboratorium Fisika dan Biologi Ponpes Al-Fattah Sidoarjo; K.H. M. Fauzan (ketiga dari kiri) (Tagar.co/Mahyuddin Syafulloh)

Mitos menteri yang diangkat setelah menghadiri Pengajian Akbar dan Silaturahmi 2024 Ponpes Al-Fattah Sudoarjo menjadi joke menarik dalam kunjungan Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

Tagar.co – Ahad (15/12/24) menjadi hari yang istimewa bagi Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Fattah, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur.

Bukan hanya karena Pengajian Akbar dan Silaturahmi 2024 yang meriah, tetapi juga kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed yang meresmikan Laboratorium Fisika dan Biologi modern.

Baca jugaRibuan Jemaah Tumpah Ruah di Pengajian Akbar Al-Fattah Sidoarjo

Namun, di balik peresmian laboratorium yang canggih ini, tersimpan sebuah cerita menarik—sebuah “mitos” yang menggelitik tentang para petinggi Muhammadiyah dan jabatan menteri.

Pengasuh Ponpes Al-Fattah, K.H. M. Fauzan, Lc, M.Pd, dengan nada jenaka menceritakan kekhawatirannya saat mengundang Abdul Mu’ti. Pasalnya, saat undangan dilayangkan, sang profesor belum menjabat sebagai menteri.

“Acara ini semoga bisa mengobati rasa kangen kita kepada Pak Menteri,” ujarnya di hadapan ratusan hadirin. “Ini kedua kalinya Pak Menteri datang ke pondok ini. Alhamdulillah, kali ini masih menyempatkan hadir. Jujur, kami sempat ‘ketar-ketir’ saat itu, karena kami mengundang beliau saat belum menjadi menteri.”

Baca Juga:  Mendikdasmen Abdul Mu’ti Ajak Santri Gen Z Ngaji Kata, Literasi Jadi Kunci Menjelajah Dunia

Mitos Menteri

Sang Kiai kemudian melontarkan sebuah “mitos” yang disambut tawa hadirin. “Fakta atau mitos, ya,” katanya sambil tersenyum. “Setiap kali pimpinan pusat [Muhammadiyah] menyanggupi hadir di tabligh akbar [Ponpes Al-Fattah], berikutnya beliau diangkat jadi menteri. Di antaranya Bapak Prof. Muhadjir. Beliau ketika diundang belum menjadi menteri. Begitu ceramah di sini, besoknya baru diangkat jadi menteri.”

Tak hanya Prof. Muhadjir, ia juga menyebut nama Muhammad Nuh, mantan Rektor ITS, yang mengalami hal serupa. “Giliran Mbah Kiai Mu’ti waktu datang dulu ke sini, kok tidak diangkat jadi menteri? Saya tunggu-tunggu kapan ini,” ujarnya, yang disambut gelak tawa hadirin.

“Jadi, jawabannya hari ini! Ini bentuk rasa syukur kita semuanya, kita bersilaturahim,” ucapnya.

Baca jugaDi Ponpes Al-Fattah, Mendikdasmen Jelaskan Catur Pusat Pendidikan, Media Unsur Keempat

Abdul Mu’ti menanggapi “mitos” tersebut dengan senyum. Ia kemudian menyampaikan harapan tulusnya bagi Ponpes Al-Fattah.

“Mudah-mudahan pesantren Al-Fattah ini, sesuai dengan namanya—Al Fattah bisa berarti kemenangan, bisa kejayaan, bisa kegemilangan—mudah-mudahan bisa mengantarkan para santrinya menjadi generasi yang hebat,” tuturnya dengan suara bersemangat.

Baca Juga:  Mendikdasmen Menyalakan Optimisme dari Masjid Agung Ruhama Takengon

Ia menambahkan, generasi yang tidak hanya sukses untuk diri sendiri, tetapi juga membawa bangsa ini menuju peradaban dan keadaban yang utama.

Usai memberikan sambutan, Mendikdasmen Abdul Mu’ti turun dari panggung. Ia didampingi para pimpinan Ponpes Al-Fattah menuju gedung Laboratorium Fisika dan Biologi yang baru.

Di sana, ia menandatangani prasasti peresmian, sebuah simbol dimulainya babak baru bagi pendidikan sains di ponpes tersebut.

Laboratorium itu telah dilengkapi dengan mebel dan alat peraga modern, siap digunakan para santri.

Acara tak berhenti di situ. abdul Mu’ti juga meluncurkan sejumlah buku karya ustadz dan santri Ponpes Al-Fattah, termasuk “Menggapai SurgaMu, Merangkai Kata Penuh Makna, Mosaik Tinta Santri, dan RPG Maker.

Para peserta kemudian diajak melihat hasil karya santri di lantai dua gedung dan menikmati hidangan makan siang bersama.

Sebuah perayaan yang tak hanya meresmikan fasilitas baru, tetapi juga mempererat tali silaturahmi dan menebar harapan bagi masa depan pendidikan di Indonesia. (#)

Jurnalis Mahyuddin Syaifulloh Penyunting Mohammad Nurfatoni