Feature

Merawat Bumi sebagai Ibadah: Aisyiyah Jabar Gaungkan Ekofeminisme

125
×

Merawat Bumi sebagai Ibadah: Aisyiyah Jabar Gaungkan Ekofeminisme

Sebarkan artikel ini
Para narasumber menyapaikan materi secara daring dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat bertema “Memperkuat Inisiatif Pemimpin Pemuda Lintas Agama melalui Ekofeminisme”, Jumat (2/1/26).

Krisis iklim bukan hanya soal alam, tetapi keadilan sosial. Aisyiyah Jabar menegaskan peran strategis perempuan dan pemuda dalam menjaga masa depan bumi.

Tagar.co – Merawat bumi tidak sekadar soal menjaga alam, tetapi juga tentang menegakkan keadilan bagi manusia—terutama perempuan, anak-anak, dan kelompok rentan yang paling merasakan dampak krisis iklim.

Pesan inilah yang mengemuka dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat bertema “Memperkuat Inisiatif Pemimpin Pemuda Lintas Agama melalui Ekofeminisme”, Jumat (2/1/26).

Baca juga: Ketua Umum PP Aisyiyah Ikut Kampanye Belanja tanpa Plastik di Pasar Tradisional

Kegiatan yang berlangsung secara daring ini diikuti 68 peserta dari berbagai latar belakang. Hadir sebagai narasumber Dzikrina Farah Adiba, Program Manager SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) Eco Bhinneka Muhammadiyah sekaligus Wakil Sekretaris LLHPB PP Aisyiyah. Diskusi dimoderatori oleh Andi Malaka dari Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Barat.

Farah menegaskan bahwa krisis lingkungan tidak bisa dilepaskan dari persoalan keadilan sosial. Dampak kerusakan alam, menurutnya, sering kali paling berat dirasakan oleh perempuan, anak-anak, difabel, dan lansia.

Baca Juga:  Sarasehan Aisyiyah Sidoarjo Bahas Penguatan Kepemimpinan Perempuan

“Ekofeminisme mengingatkan kita bahwa perempuan memiliki peran kunci dalam menjaga bumi. Mereka sering menjadi kelompok yang paling terdampak, sekaligus penggerak perubahan di keluarga dan komunitas,” ujar Farah.

Ia menambahkan, sejak awal Islam telah mengajarkan penghormatan terhadap alam dan pemuliaan terhadap perempuan sebagai penjaga kehidupan.

Dalam konteks kerja lintas agama, Farah menekankan bahwa kolaborasi tidak dimaksudkan untuk mengaburkan akidah, melainkan mempertemukan kepedulian demi kehidupan bersama.

Prinsip ini, katanya, sejalan dengan ajaran Islam sebagaimana tertuang dalam Al-Maidah ayat 2 tentang tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, serta Al-Hujurat ayat 13 yang menegaskan bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah diukur dari ketakwaannya, bukan perbedaan identitas.

Ayat-ayat tersebut menjadi landasan kuat bahwa kolaborasi lintas iman merupakan bagian dari ikhtiar kolektif menjaga bumi dan martabat kemanusiaan.

Melalui program SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah, Farah menjelaskan bahwa pemuda lintas agama dilibatkan dalam berbagai aktivitas, mulai dari eco-literacy, penguatan ekonomi berbasis lingkungan melalui eco-sociopreneurship, hingga advokasi dan kampanye publik untuk mendorong terwujudnya keadilan iklim.

Baca Juga:  Tak Cukup Satu Pak Tisu: Aisyiyah Jatim Bergerak Hadapi Kejahatan Digital

Bagi Aisyiyah, nilai-nilai ekofeminisme diwujudkan melalui aksi nyata di tingkat keluarga dan komunitas. “Kesadaran merawat bumi bisa dimulai dari rumah, dari kebiasaan sehari-hari, hingga menjadi gerakan sosial yang lebih luas,” ujarnya.

Ia mencontohkan sejumlah inisiatif, seperti program Pasarku Tempat Ibadahku serta panduan Green Ramadan dan Idulfitri, yang mengajak para ibu mempraktikkan kepedulian lingkungan mulai dari aktivitas belanja hingga perayaan hari besar Islam. Farah juga mengajak peserta untuk menyebarluaskan praktik baik tersebut melalui artikel dan foto ke redaksi Majalah Suara ‘Aisyiyah.

Sementara itu, Amalia Nur Milla, Anggota Pimpinan LLHPB PWA Jawa Barat, menekankan bahwa keberlanjutan generasi mendatang sangat bergantung pada inisiatif perempuan hari ini.

“Di ‘Aisyiyah Jawa Barat, kami telah memiliki dua buku panduan penting, yaitu Islamic Green School dan kumpulan kultum tentang lingkungan. Keduanya menjadi sumber inspirasi gerakan peduli lingkungan,” tuturnya.

Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas majelis dan lembaga—mulai dari bidang pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi—agar setiap aksi, seperti pengelolaan sampah, tidak hanya berdampak ekologis tetapi juga bernilai ekonomi bagi masyarakat.

Baca Juga:  Dari Samarinda, Muhammadiyah Menyalakan 1000 Cahaya untuk Bumi

Menutup diskusi, moderator Andi Malaka mengingatkan bahwa krisis iklim bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga cerminan ketimpangan relasi kuasa.

“Program SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah adalah praktik amar ma’ruf nahi mungkar yang tidak berhenti pada narasi hijau, tetapi bekerja langsung di akar persoalan,” ujarnya.

GSM ‘Aisyiyah Jawa Barat pun menegaskan bahwa menjaga bumi adalah kerja iman, kerja kemanusiaan, dan kerja peradaban—yang menuntut keterlibatan semua pihak, lintas generasi dan lintas iman. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni