
Universitas Aisyiyah Surakarta (Aiska) menggelar Baitul Arqam Pimpinan untuk meneguhkan nilai wasatiah Islam, membekali para pemimpinnya menghadapi tantangan moderasi beragama di Indonesia.
Tagar.co – Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, Universitas Aisyiyah Surakarta (Aiska) meneguhkan langkahnya. Melalui Baitul Arqam Pimpinan, Aiska tak sekadar menguatkan barisan kader, tetapi juga merumuskan arah masa depan moderasi beragama di Indonesia—berlandaskan semangat wasatiah Islam.
Sebagai amal usaha Aisyiyah di bidang pendidikan tinggi, Aiska lebih dari sekadar institusi akademik. Ia adalah bagian dari denyut nadi dakwah Islam amar makruf nahi mungkar.
Baca juga: Belajar Strategi Gaet Investor, Sumu Menggelar Kopdar Venture Capital Academy di Yogyakarta
Dalam bingkai Muhammadiyah dan Aisyiyah, setiap institusi tidak hanya berdiri sebagai lembaga administratif, melainkan juga sebagai medan perjuangan nilai dan cita-cita Islam berkemajuan. Karena itu, pimpinan Aiska diharapkan merupakan kader Muhammadiyah/Aisyiyah paripurna, yang telah matang dalam tempaan ideologi dan pengalaman organisasi.
Baitul Arqam Pimpinan menjadi ajang penyatuan visi, penguatan pemahaman ideologis, sekaligus pengasahan kompetensi strategis para pimpinan, mulai dari rektor hingga kaprodi. Dalam dua hari penuh, para peserta tidak hanya diajak untuk memahami dasar-dasar ajaran Islam, tetapi juga dilatih untuk menganalisis isu-isu kebangsaan dan keagamaan, serta merumuskan strategi dakwah dan kaderisasi ke depan.
Mengapa Wasatiah?
Tema “Wasaṭtiah Islam dan Masa Depan Moderasi Beragama di Indonesia” dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Aiska, Dra. Sri Hartini, M.Pd., fenomena moderasi beragama saat ini kerap melenceng dari esensinya. Alih-alih menjadi jalan tengah yang adil, moderasi beragama justru sering dijadikan alat hegemoni dan rezimintasi pandangan keagamaan tertentu.
“Indonesia bukan negara agama, bukan pula negara sekuler. Maka tidak boleh ada satu agama atau kelompok keagamaan yang mendominasi ruang publik,” tegas Sri Hartini.
‘Ia mengingatkan bahwa formalisasi berlebihan agama di ruang publik, serta penguasaan tafsir agama oleh kelompok dominan, justru mengancam kerukunan dan kebhinekaan yang menjadi fondasi bangsa.
Dalam situasi semacam itu, Muhammadiyah dan Aisyiyah mengingatkan agar negara bersikap objektif dan moderat. Negara harus menjadi fasilitator yang adil bagi seluruh ormas keagamaan, memperlakukan semua golongan secara setara sesuai nilai-nilai Pancasila dan konstitusi, tanpa intervensi berlebihan.
Spirit itulah yang dibawa ke dalam Baitul Arqam. Para peserta diajak bukan hanya untuk memahami teori wasaṭiyyah, tetapi juga menginternalisasikannya dalam kebijakan dan aktivitas dakwah Aiska sehari-hari.
Materi Strategis, Pembicara Terkemuka
Rangkaian materi dalam Baitul Arqam Pimpinan yang berlangsung di Klaten 26–27 April 2025 ini diisi oleh para pakar yang mumpuni di bidangnya. Mereka antara lain:
-
Dr. Hakimuddin Salim, Lc., MA. membahas Hakekat Islam: Peran Tauhid dalam Kehidupan, mengingatkan kembali basis spiritual yang harus menjadi nafas gerakan.
-
Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag. mengupas tuntas tentang Wasaṭiyyah Islam, membuka wawasan tentang makna keseimbangan dalam beragama.
-
Dr. Tafsir, M.Ag. menyajikan materi Mengelola Amal Usaha Muhammadiyah/‘Aisyiyah (AUM/A), menggarisbawahi pentingnya profesionalisme dalam amal dakwah.
-
Dodok Sartono, M.M. mengulas Akhlak dan Etos Kerja Kepemimpinan Muhammadiyah, menekankan pentingnya integritas dan kerja keras.
-
Dr. apt. Salmah Orbayyinah, M.Kes., Apt. menyampaikan materi Peran Perguruan Tinggi ‘Aisyiyah sebagai Media Dakwah dan Kaderisasi, memperluas horizon gerakan dakwah melalui jalur pendidikan tinggi.
Seluruh anggota BPH Universitas Aisyiyah Surakarta pun turut hadir, menegaskan komitmen kolektif untuk membawa Aiska ke arah yang lebih kokoh dalam nilai dan aksi.
Baitul Arqam ini bukan hanya sebuah pelatihan. Ia adalah ikhtiar untuk melahirkan kepemimpinan berkarakter, berideologi, dan berorientasi masa depan. Karena di pundak para pimpinan inilah, masa depan moderasi beragama yang adil dan berkeadaban akan bertumpu. (#)
Jurnalis Chandra Penyunting Mohammad Nurfatoni












