Feature

Lima Pemimpin Agama di Bali Satu Suara: Merawat Bumi Adalah Ibadah

50
×

Lima Pemimpin Agama di Bali Satu Suara: Merawat Bumi Adalah Ibadah

Sebarkan artikel ini
Doa bersama lintas iman dan deklarasi komitmen menjaga bumi sebagai amanah Tuhan dan warisan anak-cucu. Deklarasi tersebut dinamai dengan Deklarasi Puja Mandala, yang dideklarasikan pada rangkaian acara Draw the Line di Puja Mandala, Nusa Dua, Bali, Sabtu 20 September 2025 (Tagar.co/Istimewa)

Dari Puja Mandala, Bali, lima pemimpin agama bersatu menyerukan pentingnya menjaga lingkungan sebagai inti ibadah dan tanggung jawab moral demi generasi mendatang.

Tagar.co – Puja Mandala, Nusa Dua, kembali meneguhkan dirinya bukan hanya sebagai simbol kerukunan umat beragama di Bali, tetapi juga sebagai titik berangkat seruan moral dunia.

Sabtu, 20 September 2025, tempat ibadah lima agama itu menjadi saksi ketika para pemuka agama menyatukan suara dalam Dialog Lintas Iman “Draw The Line Bali”.

Acara ini digelar sebagai respons nyata atas krisis iklim dan bencana yang kian sering melanda Bali. Lebih dari sekadar forum diskusi, perjumpaan lintas iman ini dirangkai sebagai bagian dari aksi global Minggu Iklim yang berbarengan dengan Sidang Umum PBB di New York, 15–21 September 2025.

Ibadah yang Menjaga Alam

Tema besar “Merawat Bumi sebagai Ibadah” menjiwai seluruh jalannya dialog. Kelima pemimpin agama—dari Masjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa, Vihara Buddha Guna, GKPB Bukit Doa, dan Pura Jagatnatha—bersepakat bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah sekaligus tanggung jawab moral.

K.H. Ibnu Subhan dari Masjid Agung Ibnu Batutah mengingatkan umat agar belajar dari keadaan. “Kalau kita tidak bisa dinasihati oleh ucapan, kita akan dinasihati dengan keadaan. Kita yang ada di sini bisa punya solusi untuk warisan generasi selanjutnya,” ujarnya.

Baca Juga:  Dari Meja Buka Puasa ke Aksi Lingkungan, Eco Bhinneka Muhammadiyah Satukan Tokoh Lintas Iman

Ia mengutip sabda Nabi Muhammad Saw. tentang menanam pohon meski kiamat hampir tiba. “Puja Mandala bukan hanya tentang kerukunan agama, tapi juga kemanusiaan,” tegasnya.

Baca juga: Hening Parlan: Melestarikan Lingkungan Bagian dari Ibadah

Dari Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa, Alexander Sani Kelen menyoroti keterbatasan manusia dalam menguasai alam. “Kuasa manusia atas alam tidak bersifat mutlak. Gereja mendorong pertobatan ekologis,” katanya.

Menurutnya, krisis lingkungan adalah krisis sosial yang lahir dari konsumerisme boros dan kepercayaan berlebihan pada teknologi.

Pandita Nyoman Setiabudi dari Vihara Buddha Guna mengingatkan ajaran Buddha tentang larangan menyakiti makhluk hidup. “Semua saling bergantung. Kita menolak keserakahan yang melampaui kebutuhan,” jelasnya. Ia menyebut bencana di Bali sebagai “karma kolektif” akibat pengelolaan alam yang tak seimbang.

Pendeta Wisesa dari GKPB Bukit Doa menegaskan, iman Kristen menuntun umat untuk mendukung kebijakan pro-lingkungan. “Bumi adalah milik bersama. Kita harus mendorong zero waste dan menghindari konsumerisme,” katanya.

Ia mengaitkan visi perawatan bumi dengan konsep tubuh Kristus yang saling menopang.

Baca Juga:  Transisi Energi Ciptakan Peluang Kerja Baru, Mahasiswa Didorong Masuki Green Jobs

Sementara itu, Jero Ketut Subianta dari Pura Jagatnatha menautkan ritual Hindu dengan pelestarian laut. “Dalam Hindu, kita melasti ke tepi laut. Laut adalah sumber sekaligus tempat melebur segala kekotoran. Nilai kesucian laut harus kita jaga,” paparnya.

350.org. bekerja sama dengan GreenFaith, menggelar acara Dialog dan Deklarasi Lintas Iman dalam merawat bumi, pada rangkaian acara Draw the Line di Puja Mandala, Nusa Dua, Bali, Sabtu 20 September 2025. (Tagar.co/Istimewa)

Kearifan Lokal Bali dan Pesan Universal

Dialog ini juga menghadirkan penanggap, Ida Bagus K. Susena dari Puskor Hindunesia, yang mengkritik tata ruang Bali yang makin jauh dari harmoni. “Hutan dibabat, sawah dikonversi, villa berdiri di tempat tak pantas. Padahal Bali seharusnya jadi barometer penyelamatan lingkungan dunia,” katanya.

Ia menyerukan kembali ke prinsip Catur Hita Karana—harmoni dengan sesama, alam, dan Tuhan.

Suara global disuarakan oleh Sisilia Nurmala Dewi, Indonesia Team Leader 350.org. “Ke Bali dunia datang berbondong-bondong. Dari Bali pula kita menebarkan pesan damai: berhenti sewenang-wenang terhadap sesama dan alam ciptaan. Di Puja Mandala, perbedaan adalah rahmat, keberagaman adalah kekuatan,” ujarnya.

Senada, Hening Parlan, Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, menegaskan bahwa suara iman sejatinya adalah suara alam. “Iman kepada Tuhan, dari agama apa pun, adalah cerminan kasih pada ciptaan-Nya. Karena itu, iman harus mengambil jalan kebaikan: berbuat baik dan mencegah kerusakan,” katanya.

Baca Juga:  Mulai dari Keluarga, Kepedulian Lingkungan Dibentuk sejak Dini
Beragam karya seni gambar dan lukisan kampanye untuk menjaga kelestarian bumi, yang di rangkaian acara Draw the Line di Puja Mandala, Nusa Dua, Bali, Sabtu 20 September 2025. (Tagar.co/Istimewa)

Deklarasi Puja Mandala

Acara ditutup dengan doa bersama lintas iman dan lahirnya Deklarasi Puja Mandala. Deklarasi ini menegaskan: bumi adalah anugerah dan amanah Tuhan yang harus dijaga sebagai inti ibadah sejati. Merawat lingkungan berarti memuliakan Sang Pencipta dan melindungi sesama.

Isi deklarasi mengajak umat beriman untuk mengubah niat, laku, dan doa menjadi aksi nyata ramah lingkungan; mendorong pemimpin menjadikan keadilan dan keberlanjutan sebagai dasar kebijakan; serta menyerukan solidaritas global lintas agama demi menyelamatkan warisan kehidupan bagi generasi mendatang.

Dari Bali untuk Dunia

Dialog ini diselenggarakan secara kolaboratif oleh Climate Rangers Bali, GreenFaith Indonesia, dan 350.org. Dari Puja Mandala, Bali mengirim pesan kuat bahwa perlindungan alam bukan agenda sampingan, melainkan inti pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Bagi masyarakat Bali, pesan itu terasa lebih mendesak. Bagi dunia, ia menjadi seruan universal: menjaga bumi bukan pilihan, melainkan kewajiban moral yang tak bisa ditunda lagi. (#)

Jurnalis Dzikrina Farah Adiba Penyunitng Mohammad Nurfatoni