Feature

Ketika Agama Turun Tangan untuk Bumi: Kisah Lintas Iman Menghadapi Krisis Iklim

31
×

Ketika Agama Turun Tangan untuk Bumi: Kisah Lintas Iman Menghadapi Krisis Iklim

Sebarkan artikel ini
Prof. Syafiq A Mughni, MA, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menekankan pentingnya reformasi pemikiran keagamaan yang pro-lingkungan.

Tokoh lintas agama, adat, dan disabilitas bersatu menyuarakan keadilan iklim. Dari mimbar hingga hutan, mereka membawa pesan iman: bumi harus dijaga, bukan dieksploitasi.

Tagar.co – Di tengah hangatnya pagi Jakarta, Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah dipenuhi wajah-wajah yang membawa semangat sama—keresahan akan krisis iklim dan harapan akan bumi yang lebih lestari.

Kamis, 20 Maret 2025 lalu, menjadi momen istimewa bagi Eco Bhinneka Muhammadiyah dan GreenFaith Indonesia. Bersama dukungan dari Pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO), mereka menggelar sebuah forum diseminasi hasil kerja advokasi lintas agama dalam pengelolaan risiko lingkungan.

Baca juga: Ketika Iman Bersatu demi Kelestarian Hutan Tropis Indonesia

Bukan diskusi biasa, acara ini menjelma jadi ruang silaturahmi yang menghubungkan para pemuka agama, tokoh adat, kaum muda, hingga penyandang disabilitas. Semua bersatu dalam semangat yang sama: menyelamatkan bumi atas nama iman.

Reformasi Spiritualitas: Dari Mimbar ke Aksi Nyata

“Sampah makanan naik 20 persen selama Ramadan. Ini bukti kita belum bersahabat dengan alam,” tegas Prof. Syafiq A. Mughni, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam pembukaannya. Ia mengajak umat beragama untuk melihat ajaran agama bukan semata soal relasi dengan Tuhan, tapi juga tanggung jawab terhadap alam.

Baca Juga:  Transisi Energi Ciptakan Peluang Kerja Baru, Mahasiswa Didorong Masuki Green Jobs

Melalui konsep green Ramadan, Syafiq mengajak masyarakat untuk menahan diri dari pemborosan dan memaknai ibadah sebagai upaya penyucian bumi, bukan sekadar perut. “Kita ini khalifah di bumi,” katanya.

Seruan itu mendapat sambutan hangat dari Ari F. Adipratomo, Low Carbon Policy and Programme Advisor dari Kedutaan Inggris di Jakarta, yang hadir secara daring. “Kami mengapresiasi upaya lintas iman ini. Ini bukan hanya kerja sosial, tapi kerja menyelamatkan masa depan,” ujarnya.

Sesi tanggapan dari perwakilan tokoh agama, masyarakat adat, dan pemerhati kelompok disabilitas.

Dari Maluku hingga Bali: Iman, Adat, dan Alam yang Disakralkan

Di balik forum ini, tersimpan kisah-kisah perjuangan dari berbagai pelosok negeri. Salah satunya datang dari Ambon. Pendeta Jhon Victor Kainama dari Gereja Protestan Maluku berbagi kisah tentang pulau-pulau kecil yang terancam tambang nikel.

“Kami tak mau hanya berkhotbah dari mimbar. Gereja harus hadir melindungi bumi,” ucapnya mantap.

Di sisi lain Nusantara, dari Danau Tamblingan, Bali, tokoh adat Putu Ardana membawa pesan leluhur yang ditulis dalam lontar: hutan adalah rumah suci, bukan komoditas. “Hutan itu rumah air, sumber obat, dan tempat sembahyang. Tidak untuk dijual,” tegasnya, menolak keras ekspansi investor.

Baca Juga:  Pesantren Muhammadiyah Didorong Jadi Pelopor Hemat Energi lewat Gerakan 1000 Cahaya

Tak hanya tokoh agama dan adat, suara yang kerap luput juga terdengar lantang. Indah Purwanti Mugianti, Kepala SLB Tia di Sawahlunto, mewakili komunitas disabilitas, mengingatkan: “Kami kelompok paling rentan saat bencana, tapi jarang dilibatkan.” Indah mengusulkan sistem peringatan bencana yang inklusif—bisa diakses oleh tunarungu dan tunanetra.

Kegiatan Diseminasi Hasil Advokasi Lintas Agama untuk Mengelola Risiko Lingkungan, Silaturahmi Lintas Agama, dan Buka Bersama, yang diselenggarakan di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, 20 Maret 2025

Dari Hati ke Kebijakan: Advokasi Lintas Iman yang Konkret

Hening Parlan, Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, memaparkan capaian advokasi sejak Januari hingga Maret 2025 yang dilakukan di Jakarta, Sawahlunto, Pekanbaru, dan Ambon, baik luring maupun daring. Ia menekankan bahwa agama bisa menjadi kekuatan moral dalam membangun kesadaran kolektif.

“Agama mengajarkan kepedulian, keadilan, dan keberlanjutan. Kita hanya perlu menggali kembali nilai-nilai itu,” katanya.

Dari proses ini, lahirlah sejumlah rekomendasi progresif—dari evaluasi kebijakan yang merusak lingkungan, penguatan regulasi, pendanaan program lingkungan, hingga strategi komunikasi untuk kelompok rentan. Semua diarahkan pada satu tujuan: pembangunan rendah karbon yang adil dan berkelanjutan.

Saatnya Agama Turun Gunung

Forum ini menegaskan satu hal: agama tak bisa lagi hanya berdiri di altar, mimbar, atau podium. Ia harus turun gunung, menjejak lumpur, menyatu dalam gerakan perubahan nyata. Agama menjadi sumber moral kolektif, bukan sekadar doa-doa yang terbang ke langit tanpa kaki yang melangkah.

Baca Juga:  Aisyiyah Serukan Gerakan Sampah Tuntas: Saatnya Mengelola, Bukan Sekadar Membuang

Dengan solidaritas lintas iman dan gotong royong sebagai napasnya, Indonesia perlahan membangun model baru—pembangunan yang tak hanya mengejar pertumbuhan, tapi juga keadilan ekologis.

Karena seperti pepatah Jawa: memayu hayuning bawana—merawat keindahan dunia adalah tugas kita bersama. Kini, bumi menunggu tangan-tangan iman yang bekerja. Bukan sekadar bibir yang berdoa. (#)

Jurnalis Dzikri Farah Adiba Penyunting Mohammad Nurfatoni