Feature

Ketiga Ruang Bertumbuh Spemdalas Suarakan Satu Tekad Lawan Bullying

18
×

Ketiga Ruang Bertumbuh Spemdalas Suarakan Satu Tekad Lawan Bullying

Sebarkan artikel ini
BK Spemdalas
Musrifatul Jannah saat menyampaikan materi di acara Ruang Bertumbuh Spemdalas dengan tema bullying, Jumat (17/10/2025). (Tagar.co/Eliza)

Satu ejekan bisa menghancurkan, satu dukungan bisa menguatkan adalah kalimat inspiratif sekaligus motivasi yang disampaikan ke siswa guna menyuarakan lawan bullying.

Tagar.co – Suasana kondisif ruang Coding and AI Center (CAC) SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik terjaga. Setelah siswa mengikuti kegiatan pembiasaan pagi dengan salat dhuha dan tadarus, mereka pun duduk berjajar rapi. Siswa putra kelas VII bertada di sisi kiri, dan sebelah kanan siswa putri.

Ya, mereka mengikuti kegiatan Ruang Bertumbuh dengan pemateri Guru Bimbingan Konseling (BK) SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik Musrifatul Jannah, S.Psi., Jumat (17/10/2025).

Dalam materi yang disampaikan di depan siswa putri kelas VII ini, dia menjelaskan pengertian bullying. Bullying adalah segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang, dengan tujuan mengganggu/menyakiti dan dilakukan secara terus menerus,” jelasnya.

Dia menuturkan, ada bullying secara fisik, verbal, mental, dan melalui cyber. Bullying fisik melalui memukul, menendang. Verbal melalui memaki, berkata kasar, kotor, meledek nama orang tua, cat calling.

Baca Juga:  Hindari Jebakan dan Perpecahan, Internalisasi Nilai Jadi Kunci Jaga Keutuhan Muhammadiyah

“Secara mental/sosial dengan cara mengucilkan, membicarakan dibelakang. Secara cyberbullying dengan memberikan komentar negatif di sosial media,” tegasnya.

Bagaimana cara menangani bullying? Ada 4 target pelaku bullying. Pertama kurang percaya diri, kedua terlihat lemah/kurang tegas, ketiga tidak punya banyak teman/suka menyendiri, dan keempat cenderung berbeda dengan teman-teman lainnya.

Ada 4 tahapan yang bisa dilakukan menghindari bullying. Tahap pertama abaikan. Dalam tahapan ini, yang harus dilakukan adalah mengabaikan dengan wajah tetap percaya diri dan tersenyum. Hindari reaksi yang berlebihan seperti wajah merengut, sedih, mata berkaca-kaca dan tangisan. Menunjukkan wajah tidak peduli dan tetap bahagia akan mengecewakan pem-bully.

Guru BK Spemdalas
Musrifatul Jannah saat menyampaikan materi di acara Ruang Bertumbuh Spemdalas dengan tema bullying, Jumat (17/10/2025). (Tagar.co/Eliza)

Tahap kedua tegur dengan tegas. Untuk bullying verbal, mental, dan cyber, harus berani untuk mengatakan stop/berhenti dengan tatapan mata yang tegas dan percaya diri. Sampaikan ketidaknyamanan kepada pembuli dengan tegas dan percaya diri.

“Untuk bullying fisik, berani untuk menangkis tangan teman/menangkap tangan teman dan mengarahkannya ke bawah atau ke dinding. Hal ini bukan bertujuan untuk membalas atau bermain hakim sendiri. Tetapi menegaskan ke pembuli semakin dia mem-bully semakin menunjukkan You’re Powerless,” jelasnya.

Baca Juga:  Apresiasi Kinerja, Lazismu Gresik Anugerahkan Kantor Layanan Terbaik 2026

Tahap ketiga, laporkan. Korban bullying harus melaporkan kepada wali kelas, guru BK, dan kepada orang tua.

Tahap keempat, sebarkan kasih saying. Pada umumnya pelaku pembully kurang kasih sayang. Sering mendapatkan kekerasan, dan sering diabaikan.

“Kasih sayang itu fitrah. Jika melihat ada tanda-tanda teman yang menunjukkan sikap pem-bully, maka dekati dan tunjukkan bagaimana sikap menghargai orang lain seperti menawarkan bantuan,” ujarnya.

Dampak bullying bagi korban adalah rentan mengalami emosi sedih, takut, cemas (bisa berujung ke gangguan psikologis). “Sulit berkonsentrasi, terutama akademik terganggu, bisa juga mengalami gangguan psikosomatis, dan bisa menarik diri dari lingkungan,” katanya.

Untuk pelaku bullying, terbiasa melakukan tindakan impulsive, empati yang semakin tumpul. “Muncul perilaku antisosial, mendapatkan label negatif, dan hukuman pidana,” tegasnya.

Maka, lanjutnya, kalimat satu ejekan bisa menghancurkan, satu dukungan bisa menguatkan harus bisa menjadi senjata melawan bullying. “Kalimat ini harus menjadi motivasi kita semua guna melawan bullying di sekolah,” paparnya. (#)

Jurnalis Ichwan Arif.