Opini

Janice Tjen dan ‎Dua R

34
×

Janice Tjen dan ‎Dua R

Sebarkan artikel ini
Janice Tjen
Emma Raducanu, kiri, dan Janice Tjen

‎Janice Tjen, bintang baru petenis Indonesia terus menguji diri di arena pertandingan. Pengalaman di US Open membuatnya percaya diri di SEA Games hingga mempersembahkan emas.

‎Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran

Tagar.co – Nama Janice Tjen belum lama ini ramai di telinga publik Indonesia.

Dia dan Aldila Sutjiadi membawa pulang emas ganda di SEA Games Thailand, 9-20 Desember 2025.

Sebelumnya dia bertanding ke kelas US Open. Ini turnamen tenis prestisius di dunia.

‎Arena ini adalah  lompatan level, mental, dan ekspektasi. Lawan yang dihadapi pun bukan sembarang nama. Seperti Emma Raducanu, petenis Inggris yang pernah mencuri perhatian dunia dengan gelar US Open di usia belia. 18 tahun pada 2021. Figur yang sarat pengalaman besar.

‎Raducanu bukan hanya kuat secara teknik, tetapi juga matang dalam membaca dimensi. Bermain di center court baginya bukan beban, itu rumah kedua.

‎Pertandingan Janice Tjen dan Raducanu berlangsung Rabu, 27 Agustus 2025 lalu di Louis Armstrong Stadium, New York. Berakhir dengan kemenangan Raducanu 6-2, 6-1.

Skor yang mencerminkan kendali permainan, tetapi tidak sepenuhnya menggambarkan dinamika mental dan keberanian lawannya.

Di balik skor, ada pengalaman berharga. Ada pemain yang kalah angka, tapi menang pelajaran.

Duel Dua R

‎Di luar pertandingan ini, atmosfer US Open dipenuhi duel-duel besar yang membuat emosi penonton terbelah saat Raducanu lawan Elena Rybakina dari Kazakhstan, 29 Agustus 2025.

‎Publik tenis sempat berkelakar dengan nada getir dan kagum sekaligus. “Aduuh, dua R terlalu pagi bertemu di US Open. Antara Raducanu lawan Rybakina, memihak siapa ya saya. Tidak ada yang layak dinomorduakan.”

Pertandingan ini tidak jatuh ke dalam narasi unggulan Vs pelengkap. Ada perlawanan imbang. Ada reli yang ketat. Ada momen di mana pengalaman Raducanu diuji oleh keberanian dan energi lawan yang lapar pembuktian. Akhirnya Rybakina unggul dengan skor 6-1, 6-2.

Bagi Tjen yang baru naik dari level regional ke Grand Slam, pertandingan seperti itu  jadi amatan. Pendatang baru tak selalu jadi pelengkap pertandingan. Terpenting memunculkan potensi.

Ekosistem di sekitar Janice Tjen sudah mendukung. Deretan pelatih dan pendamping yang mengiringi menunjukkan langkah ke US Open bukan kebetulan, melainkan hasil perencanaan dan strategi. ‎

Pengalaman SEA Games dan turnamen mayor membutuhkan lebih dari bakat, perlu manajemen fisik, strategi, dan kesiapan mental menghadapi sorotan global.

‎Publik tenis dengan cepat membandingkan. Jika Raducanu sering disejajarkan dengan Elena Rybakina yang konsisten di papan atas, itu karena satu hal: keseimbangan antara kekuatan, ketenangan, dan aura bintang.

Sama cantiknya, sama hebatnya. Mungkin terdengar ringan, tetapi di tenis modern, karisma dan kepercayaan diri bagian dari paket kompetitif.

‎Di titik ini, hasil pertandingan menjadi hampir sekunder. Lebih penting adalah pelajaran bagi Janice Tjen. Jalur SEA Games menuju elite tenis dunia bukan mustahil. ‎

‎Ia mungkin belum menang di papan skor, tetapi sudah menang dalam satu hal dengan membuktikan diri layak berada di lapangan yang sama.

‎US Open bagi Raducanu adalah arena pembuktian konsistensi. Bagi Tjen, ini adalah pintu pertama. Dan sering kali, karier besar justru dimulai dari pertandingan yang kalah dengan terhormat. Kalah angka, tetapi menang pengalaman.

Tenis selalu punya cara sendiri memilih bintang berikutnya. Kadang bukan dari kemenangan telak, melainkan dari keberanian berdiri tegak saat berhadapan dengan nama besar. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto

Opini

Sorakan terhadap satu pihak sering kali lahir dari…