Feature

Indonesia Tegaskan Peran Sentralnya dalam Transformasi Pendidikan Asia Tenggara

32
×

Indonesia Tegaskan Peran Sentralnya dalam Transformasi Pendidikan Asia Tenggara

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Suharti

Indonesia kembali menegaskan perannya dalam pembangunan pendidikan Asia Tenggara melalui SEAMEO. Fokusnya: wajib belajar 13 tahun, kualitas guru, kurikulum, gizi siswa, dan kolaborasi lintas negara.

Tagar.co – Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam pengembangan pendidikan kawasan Asia Tenggara. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Suharti, dalam acara kunjungan Presiden SEAMEC ke SEAMEO RECFON di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI), Jakarta, Kamis (10/4/25).

SEAMEO merupakan singkatan dari Southeast Asian Ministers of Education Organization atau dalam bahasa Indonesia disebut Organisasi Menteri-Menteri Pendidikan Asia Tenggara. Organisasi ini berdiri sejak 1965 dan bertujuan memperkuat kerja sama regional di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan di antara negara-negara Asia Tenggara.

Baca juga: Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Diperkenalkan ke Direktur Sekretariat SEAMEO

Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Direktur Sekretariat SEAMEO Datuk Habibah Abdul Rahim, Rektor UI Heri Hermansyah, serta para direktur tujuh pusat SEAMEO di Indonesia.

Baca Juga:  Abdul Mu’ti Tegaskan MBG Terintegrasi dengan Program Kemendikdasmen

Dalam sambutannya, Suharti menyampaikan bahwa Kemendikdasmen terus menyelaraskan agenda nasional pendidikan dengan prioritas SEAMEO 2021–2030. Salah satu program kunci adalah wajib belajar 13 tahun, mulai dari satu tahun pra-sekolah hingga jenjang menengah. Selain itu, peningkatan kualitas guru, penguatan kurikulum, literasi bahasa, dan dukungan infrastruktur menjadi bagian penting dari strategi ini.

“Indonesia juga telah meluncurkan program Makan Bersama Gratis (MBG) yang mencakup siswa hingga ibu hamil sebagai bentuk sinergi lintas sektor,” ujar Suharti, dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen yang diterima Tagar.co, Sabtu (12/4/25).

Ia berharap program-program yang dijalankan dapat memperlihatkan kemajuan bersama dan semangat kolaborasi untuk masa depan.

Presiden SEAMEC sekaligus Menteri Pendidikan Filipina, Juan Edgardo Angara, memberikan apresiasi terhadap kontribusi Indonesia dalam isu-isu krusial seperti gizi, keanekaragaman hayati, dan mutu pengajaran. Menurutnya, di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, disrupsi teknologi, dan ketimpangan sosial, pendidikan menjadi benteng utama kawasan.

“Pendidikan adalah strategi paling efektif untuk membangun masa depan kawasan. Kita harus menjaga kesinambungan pertukaran pembelajaran, tidak hanya soal data dan dialog, tapi juga tujuan bersama dan aksi kolektif,” ucap Juan.

Baca Juga:  Di Tengah Keterbatasan, Murid SLB Membuktikan Diri lewat TKA

Ia menekankan pentingnya menjadikan ketahanan sebagai prioritas dalam pendidikan. “Ketahanan harus dijalin ke dalam cara kita mengajar, seperti apa yang kita ajarkan dan mengapa kita mengajar,” tambahnya.

Juan juga menggarisbawahi pentingnya kerja sama lintas sektor dalam transformasi pendidikan. “Tidak ada kementerian atau organisasi yang bisa bekerja sendiri. Kita butuh kolaborasi lintas sektor, lintas batas, dan lintas komunitas untuk menata ulang pendidikan kita,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur SEAMEO Sekretariat, Datuk Habibah Abdul Rahim, menyampaikan apresiasi atas kontribusi tujuh pusat SEAMEO di Indonesia. Setiap pusat, menurutnya, telah memainkan peran penting dalam berbagai bidang:

  • SEAMEO BIOTROP memimpin riset kesehatan melalui program SEA DREAM,

  • SEAMEO CECCEP fokus pada pendidikan anak usia dini,

  • SEAQIL meningkatkan mutu pengajaran bahasa,

  • SEAMEO QITEP in Mathematics membuat matematika lebih menarik,

  • SEAMEO QITEP in Science mengintegrasikan isu iklim dan kecerdasan buatan dalam pelajaran,

  • SEAMEO RECFON mengembangkan program pangan dan gizi,

  • SEAMEO SEAMOLEC menjadi pelopor pembelajaran terbuka dan jarak jauh.

“Dengan keahlian dan jaringan yang kita miliki, kita bisa menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan adil. Ini membuka peluang inovasi dan memastikan setiap individu memiliki kesempatan untuk mewujudkan potensi dirinya,” ujar Datuk Habibah.

Baca Juga:  ASEAN–SEAMEO dan Kemendikdasmen Luncurkan Peta Jalan PAUD 2026–2030

Acara ini menjadi bukti nyata semangat kolaboratif antarnegara ASEAN dalam memajukan pendidikan yang adaptif dan berkelanjutan di tengah tantangan zaman. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni