
Pak Santo, PR III Unair di masa transisi kemahasiswaan dari NKK-BKK ke SMPT, dikenal tegas dalam aturan dan dekat dengan mahasiswa. Jejaknya dalam membina organisasi kampus meninggalkan warisan berharga bagi Unair.
In Memoriam Soesanto Prijosepoetro: PR III Unair di Masa Transisi Kemahasiswaan; Oleh Abdul Rahem, Ketua Presidium Senat Mahasiswa Unair periode pertama
Tagar.co – “Innalillahi wainnailaihi rajiun, Bapak Drh. Soesanto Prijosepoetro, mantan Pembantu Rektor III (PR III) Universitas Airlangga (Unair) telah dipanggil Allah pada hari Ahad tanggal 16 Februari 2025 di Kebonsari LVK I No. 3 Surabaya.”
Begitulah informasi di WhatsApp group yang saya baca. Setelah membaca informasi tersebut, saya terpanggil untuk membaca surat Al-Fatihah bagi almarhum.
Sementara sejenak pikiran saya melayang ke masa lalu ketika saya masih aktif di organisasi kemahasiswaan Unair terutama ketika menjadi Ketua Umum Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) dan Ketua Presidium Senat Mahasiswa Universitas Airlangga (SMUA), di mana ketika itu almarhum sebagai PR III yang membawahi urusan kemahasiswaan dan alumni.
Baca juga: In Memoriam Thabit Abdullah Thalib, Dokter yang Luar Biasa Baik
Saya termasuk salah satu dari beberapa mahasiswa yang beruntung di Unair karena berkesempatan menjadi salah satu mahasiswa yang bisa belajar di organisasi kemahasiswaan. Tentu sabagai aktivis mahasiswa sangat sering berhubungan dengan almarhum yang ketika itu sebagai pembina organisasi kemahasiswaan.
Pak Santo, biasa begitu beliau dipanggil, menjabat PR III pada masa transisi kemahasiswaan yaitu pada akhir dari periode berlakunya Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) – Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK).
Masa itu, menuju era baru yaitu Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT). SMPT ini nama generik, sementara nama paten setiap perguruan tinggi berbeda beda. Di Universitas Airlangga bernama Senat Mahasiswa Universitas Airlangga (SMUA).

Teguh dan Gigih pada Aturan
Situasi kemahasiswaan pada masa transisi memang sangat berbeda dengan kondisi sebelumnya, di mana mahasiswa lebih agresif, berani, dan sangat kritis. Sementara situasi di luar kampus belum ada perubahan terutama ”pengawal ketertiban dan keamanan” di negeri ini masih seperti biasanya yang sangat represif.
Almarhum menurut penilaian saya, merupakan sosok yang teguh menegakkan aturan dan gigih mengembangkaan organisasi kemahasiswaan di lingkungan Universitas Airlangga pada masanya. Almarhum, adalah seorang tokoh yang sangat berperan penting dalam dunia kemahasiswaan di Indonesia, terutama di Unair.
Salah satu contoh ketika pembentukan SMUA tada tahun 1991, setelah keluarnya SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0457/0/1990 tentang Pola Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi. Di dalamnya mengamanahkan pembentukan organisasi kemahasiswaan di tingkat universitas, beserta pedoman strukturnya.
Kami para Ketua Senat Fakultas, Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas, dan Ketua Unit Kegiatan Kemahasiswaan se-Unair diminta membentuk SMUA atau dalam SK Permendikbud dikenal dengan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT). Ketika itu kami melaksanakan di Trawas pada tanggal 21 – 24 Februari 1991, sepakat bahwa SMUA dipimpin oleh presidium secara kolektif, sementara pelaksanaan program dipimpin oleh Sekretaris Jenderal.
Setelah selesai dari Trawas, langsung semua anggota presidium beserta sekjen melaporkaan hasilnya kepada Pak Santo. Di luar dugaan kami, dia tidak setuju karena tidak sesuai dengan pedoman yang ada di SK Mendikbudt. Di mana dalam SK disebutkan bahwa SMPT dipimpin oleh seorang ketua. Ini salah satu bukti keteguhan beliau menjaga aturan yang ada.
Akhirnya disepakati mengadakan pemilihan untuk menentukan seorang ketua yang dipilih dari anggota presidium. Ketika itu saya yang mendapatkan amanah terpilih sebagai Ketua Preseidium SMUA. Oleh karena SMUA merupakan periode pertama, tentu posisi ini juga yang menjadikan saya selalu berhubungan dengan almarhum.
Beliau sangat kokoh menjalankan aturan walaupun harus berhadapan dengan pihak berwajib. Sebagai contoh, ketika saya diminta untuk minta izin ke POLDA oleh polisi ketika UKKI Unair akan mengadakan kegiatan Seminar Kepemimpinan, justru beliau melarang saya untuk minta izin pada institusi di luar kampus karena kegiatan berada di dalam kampus. Izin cukup ke PR III sebagai penanggung jawab kegiatan kemahasiswaan, tegas beliau.
Komitmen pada Kualitas Kepemimpinan Mahasiswa
Pak Santo dikenal sebagai PR III Unair yang memiliki dedikasi tinggi terhadap perkembangan dan kemajuan Kemahasiswaan. Beliau bertanggung jawab di bidang kemahasiswaan, sebuah posisi yang menuntut kemampuan manajerial dan kepemimpinan yang luar biasa. Ini, mengingat tanggung jawab yang harus bisa mengendalikan dinamika mahasiswa yang semakin berani di satu sisi dan menyiapkan mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan di sisi yang lain.
Selama membina mahasiswa, Pak Santo selalu menunjukkan komitmen untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan dan memajukan kesejahteraan mahasiswa. Keberpihakannya terhadap kepentingan mahasiswa, serta ketegasannya dalam mengelola masalah kemahasiswaan, menjadikannya sosok yang dihormati di kalangan sivitas akademika Unair.
Selain itu, dia juga dikenal sebagai pribadi yang bijaksana dan penuh dedikasi, baik dalam ranah akademik maupun sosial. Kiprah beliau tidak hanya terbatas pada tugas administratif, namun juga dalam membangun hubungan yang kuat dengan masyarakat, serta menciptakan lingkungan kampus yang mendukung perkembangan karakter mahasiswa.
Sebagai seorang pendidik dan pemimpin, almarhum meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam benak semua aktivis kampus di Unair. Kontribusinya akan selalu dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan hidup para aktivis mahasiswa yang pernah berhubungan dengan beliau.

Iklim Kampus Berkarakter
Selama penjadi pembina kemahasiswaan, almarhum memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan dan membina organisasi kemahasiswaan (ormawa) di kampus. Dalam menjalankan tugasnya, beliau berkomitmen untuk membangun iklim kampus yang tidak hanya berfokus pada pengajaran akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter mahasiswa melalui kegiatan-kegiatan yang terorganisir dengan baik.
Sebagai sosok yang memiliki visi jauh ke depan, Pak Santo melihat organisasi kemahasiswaan sebagai wadah penting untuk membentuk karakter dan kepemimpinan mahasiswa. Melalui ormawa, mahasiswa tidak hanya diberi ruang untuk mengembangkan minat dan bakat, tetapi juga diberikan kesempatan untuk belajar bertanggung jawab, bekerja dalam tim, dan mengelola organisasi secara profesional.
Di bawah kepemimpinannya, organisasi kemahasiswaan di Unair mengalami perkembangan signifikan dalam hal struktur organisasi dan kualitas kegiatan. Pak Santo mendorong terciptanya berbagai program yang mengedepankan nilai-nilai integritas, disiplin, dan tanggung jawab.
Hal ini tercermin dalam pengelolaan kegiatan kemahasiswaan yang tidak hanya berfokus pada aspek hiburan semata, tetapi juga pada kegiatan yang dapat membangun karakter mahasiswa, seperti seminar, pelatihan kepemimpinan, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.
Keberpihakan pada Mahasiswa
Almarhum juga aktif dalam memastikan bahwa aturan yang ada di ormawa dapat dijalankan dengan baik dan tetap menjaga kedisiplinan. Juga, menekankan pentingnya mahasiswa untuk memiliki kedewasaan dalam bertindak, serta kemampuan untuk menyeimbangkan antara kegiatan akademik dan organisasi. Dalam proses ini, beliau turut mengawal keberlanjutan program-program pengembangan mahasiswa agar tetap relevan dan sesuai dengan kebutuhan zaman.
Di masa kepemimpinannya, mahasiswa Unair juga didorong untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan, serta menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari identitas mereka sebagai mahasiswa yang berintegritas. Ini adalah bagian dari upaya dia untuk memastikan bahwa mahasiswa tidak hanya sukses secara akademis, tetapi juga berkembang menjadi pribadi yang memiliki empati, kepedulian sosial, dan kemampuan untuk berkontribusi bagi masyarakat luas.
Kiprah Drh. Soesanto Prijosepoetro dalam pengembangan karakter mahasiswa melalui organisasi kemahasiswaan di Unair memang sangat monumental. Dengan dasar aturan yang jelas dan program pengembangan yang berkelanjutan, dia berhasil membangun fondasi yang kokoh bagi pembentukan generasi penerus yang berkualitas. Dedikasi dan ketulusannya dalam mewujudkan visi ini tetap menjadi teladan bagi para pengelola dan aktivis mahasiswa di Unair hingga kini.
Almarhum dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan mahasiswa, baik secara individu maupun melalui organisasi kemahasiswaan di Unair. Kedekatannya dengan mahasiswa tidak hanya sebatas hubungan formal sebagai PR III, tetapi juga dalam aspek yang lebih personal. Dia sering terlibat dalam berbagai kegiatan mahasiswa dan mendengarkan langsung keluh-kesah serta aspirasi yang mereka miliki.
Beliau memiliki pendekatan yang humanis dan penuh perhatian terhadap mahasiswa. Beliau selalu membuka diri untuk berdialog dengan para mahasiswa, baik dalam pertemuan resmi maupun percakapan santai. Hal ini membuat mahasiswa merasa nyaman dan dihargai, serta memudahkan mereka untuk menyampaikan masalah atau kekhawatiran yang mereka hadapi.
Salah satu aspek yang sangat dihargai oleh mahasiswa adalah sikapnya yang tegas namun tetap bijaksana dalam membela mahasiswa ketika menghadapi masalah. Pak Santo sering kali berada di garis depan dalam membela hak-hak mahasiswa, baik dalam urusan administratif maupun dalam isu-isu yang melibatkan kebijakan kampus. Ketika ada masalah yang melibatkan mahasiswa, beliau tidak ragu untuk menyuarakan kepentingan mahasiswa di hadapan pihak terkait, baik di tingkat universitas maupun di luar kampus.
Beliau selalu berusaha memastikan bahwa setiap masalah yang dihadapi mahasiswa mendapatkan perhatian yang serius dan diselesaikan dengan cara yang adil. Jika ada mahasiswa yang merasa diperlakukan tidak adil atau terdiskriminasi, Almarhum akan dengan tegas menegakkan aturan yang berlaku sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berbicara dan mencari solusi bersama.
Ada contoh keberpihakan beliau kepada mahasiswa. Ketika saya menjadi Ketua Umum UKKI dan berurusan dengan pihak kepolisian saat melaksanakan kegiatan Pekan Muharram. Di acara itu ada Seminar Nasional dengan topik “Suksesi Kepemimpinan Nasional” dengan pembicara: 1). Letjen Sayidiman S, Gubernur Lemhanas waktu itu. 2). K.H. Abdurrahman Wahid Ketua Umum PB NU, kala itu. 3). K.H. Yusuf Muhammad. Rencanya, seminar nasional itu akan diadakan pada 29 juli 1990.
Almarhum dengan tegas dan terbuka menyampaikan kepada saya, “Kamu dipanggil polisi ya? Kamu tidak perlu takut dan tidak usah khawatir. Hadapi saja, nanti kalau ada apa-apa dengan kamu, saya yang bertanggung jawab,” ujarnya sambil memberi uang untuk ongkos naik taksi ke Poda Jatim.
Warisan Terbesar
Kedekatannya dengan mahasiswa dan keberaniannya membela mereka dalam berbagai masalah menjadi salah satu warisan terbesarnya. Tidak hanya sebagai seorang akademisi dan pemimpin, tetapi juga sebagai figur yang sangat peduli terhadap kesejahteraan dan pengembangan karakter mahasiswa.
Sungguh, beliau telah meninggalkan jejak yang dalam pada hati banyak mahasiswa Unair. Almarhum akan selalu diingat sebagai sosok yang tak hanya memperjuangkan kemajuan kampus, tetapi juga kepentingan mahasiswa sebagai bagian integral dari proses pendidikan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












