Opini

Energi Kepemimpinan, Membahagiakan Rakyat

35
×

Energi Kepemimpinan, Membahagiakan Rakyat

Sebarkan artikel ini
Energi kepemimpinan sejati tidak datang dari kekuasaan, tetapi dari pelayanan, empati, dan cinta kasih.
Suyoto

Energi kepemimpinan sejati tidak datang dari kekuasaan, tetapi dari pelayanan, empati, dan cinta kasih.

Oleh Suyoto, Bupati Bojonegoro 2008-2018, kader Muhammadiyah

Tagar.co – Dalam dunia yang semakin gaduh dan penuh tuntutan, kepemimpinan bukan sekadar soal jabatan atau kemampuan membuat keputusan strategis.

Kepemimpinan sejati adalah tentang energi-energi yang lahir dari niat melayani, keberanian untuk mendengar, dan kerendahan hati untuk menjadi ruang aman bagi warganya.

Ujian besarnya energi kepemimpinan selalu hadir saat seorang pemimpin menggumulkan dirinya pada problem publik dan dengan mereka yang dilayani.

Itulah yang juga saya rasakan saat menjabat Bupati Bojonegoro, dalam berbagai momen kepemimpinannya.

Salah satu kisah yang paling menguras energi terjadi dalam sesi Dialog Jumat, forum terbuka antara pemerintah dan masyarakat.

Suatu hari, seorang warga bernama Kusnan berdiri di depan umum. Wajahnya gusar, suaranya meninggi. Ia merasa tidak diperhatikan bupati tidak menatapnya.

Kusnan marah, dan dengan berani menegur pemimpinnya. Dari pada melototi Kusnan, awalnya saya fokus mencatat point penting atas apa yang disampaikannya.

Baca Juga:  Erdogan dan Seni Mengambil Risiko dalam Kepemimpinan Negara

Di tengah situasi yang bisa dengan mudah berubah menjadi konfrontatif, kepala Satpol PP bereaksi. Ia hendak menurunkan Kusnan dari tempat berdirinya.

Namun saya memilih menghentikannya, berkata dengan datar, ”Saya ini bupati dipilih untuk melayani rakyat. Jadi biarkan bos Kusnan bicara.”

Dalam hati, saya sejatinya tersulut. Merasa dihinakan di depan publik. Ia adalah manusia biasa. Namun kesadaran peran sebagai pelayan rakyat—bukan penguasa—membuatnya memilih untuk tidak melawan ombak.

Ia memilih menjadi lautan yang menampung gelombang. Ia memandang Kusnan sesuai permintaannya, namun juga mencatat satu per satu keluhan Kusnan.

Saya menyadari: bagi sebagian orang, didengarkan saja sudah merupakan bentuk penghargaan yang luar biasa.

Kisah ini menjadi refleksi mendalam tentang filosofi Bahagia Membahagiakan. Energi kepemimpinan sejati tidak datang dari kekuasaan, tetapi dari pelayanan, empati, dan cinta kasih.

Setiap pemimpin perlu energi internal berlipat lipat. Energi—yang bersumber dari niat baik, empati, dan spiritualitas—justru memperkuat kapasitasnya untuk menghadapi tantangan.

Teori ini diperkuat oleh ilmu neurosains yang menunjukkan bahwa tindakan memberi dan mendengarkan dengan tulus meningkatkan hormon kebahagiaan dan menciptakan ikatan sosial yang lebih kuat.

Baca Juga:  Kenangan bersama Mas Mirdasy, Kematian Hadiah bagi Orang Beriman

Saya bukan satu-satunya pemimpin yang mempraktikkan filosofi ini. Presiden Nelson Mandela, misalnya, pernah berkata bahwa musuh tidak dikalahkan dengan kekuatan, tetapi dengan merangkul mereka menjadi sahabat.

Juga  para kepala daerah  yang kerap turun ke lapangan dan duduk bersama warga biasa untuk mendengar keluh kesah mereka secara langsung—sebuah praktik servant leadership yang konkret.

Di ruang kerja atau bahkan di meja makan sepanjang waktunya berpikir keras menemukan solusi untuk kemajuan dan kebaikan semua.

Perjalanan kepemimpinan saya memberi pelajaran arti keberanian menghadapi kritik langsung tanpa harus kehilangan rasa hormat.

Tidak semua bentuk kepemimpinan harus tegas dalam arti keras. Kadang justru keteguhan yang sejati hadir dalam kelembutan hati dan kesediaan untuk menjadi tempat berlabuh. “Kepemimpinan sejati dimulai ketika kebahagiaan orang lain menjadi kebahagiaanmu.”

Dalam setiap pemimpin yang bersedia menjadi ‘lautan’—yang menampung, mendengar, memeluk, dan melayani—kita melihat secercah masa depan yang penuh harapan.

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara, tapi yang bersedia hadir dan menjadi tempat pulang.

Baca Juga:  Kenangan bersama Mas Mirdasy, Kematian Hadiah bagi Orang Beriman

Masalah rakyat adalah fokus perhatian utamanya, menghadirkan solusi itulah misi utama kepemimpinannya. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto

Opini

Sorakan terhadap satu pihak sering kali lahir dari…