Feature

Bertukar Surat Cinta, Tangis Haru Siswa SD Mumtaz di Pelukan Orang Tua

67
×

Bertukar Surat Cinta, Tangis Haru Siswa SD Mumtaz di Pelukan Orang Tua

Sebarkan artikel ini
Siswa kelas VI SD Mumtaz menangis haru di pelukan orang tua saat sesi motivasi di Masjid Al Mannar Sidoarjo. Suasana haru menyelimuti pertukaran surat cinta dan komitmen.
Siswa kelas VI SD Mumtaz menangis haru di pelukan orang tua saat sesi motivasi. (Tagar.co/Heni Dwi Utami)

Siswa kelas VI SD Mumtaz menangis haru di pelukan orang tua saat sesi motivasi di Masjid Al Mannar Sidoarjo. Suasana haru menyelimuti pertukaran surat cinta dan komitmen.

Tagar.co — Suasana syahdu menyelimuti Kompleks Masjid Al Mannar Sepanjang, Sidoarjo, pada Sabtu, 31 Januari 2026. Ratusan siswa kelas VI SD Muhammadiyah 1&2 Taman (SD Mumtaz) berkumpul bersama orang tua mereka untuk merajut kembali ikatan batin yang mungkin sempat renggang oleh kesibukan. Acara bertajuk motivasi ini bukan sekadar mengejar angka ujian, melainkan upaya sekolah mengukuhkan pondasi hati dan nilai keluarga sebagai bekal hidup para siswa.

Gema suara Muhammad Nasar Haqiqi, M.Pd. memecah keheningan di dalam Masjid Al Mannar. Ia mengusung tema besar, “Muliakan Orang Tuamu, Allah Muliakan Hidupmu”. Muhammad Nasar Haqiqi menyentuh relung hati para siswa dengan narasi yang menggugah kesadaran. Ia menegaskan, kunci kesuksesan sejati bermula dari bakti dan hormat tulus kepada ayah serta ibu.

“Kalian harus paham bahwa rida Allah terletak pada rida orang tua,” tegas Muhammad Nasar Haqiqi di hadapan para siswa yang menyimak dengan saksama.

Sorot mata para siswa tampak berbinar, sementara beberapa di antaranya mulai menyeka air mata saat sang motivator menceritakan kisah-kisah ketulusan pengorbanan orang tua. Mereka menyadari bahwa di balik setiap suap nasi dan biaya sekolah, ada peluh dan doa yang tak pernah putus.

Baca Juga:  Kajian Ramadan SD Mumtaz Hadirkan Lima Pembicara

Di sisi lain, sekolah memisahkan para orang tua ke lokasi berbeda guna mendapatkan penguatan mental yang sama kuatnya. Ruangan Aula Mas Mansyur menjadi saksi para wali murid yang duduk khidmat menyerap setiap kata dari Nofan Arifianto, S.Pd.I., M.Pd. Sebagai motivator nasional, Nofan Arifianto, S.Pd.I., M.Pd. membawa tema “Menjadi Orang Tua yang Sesungguhnya untuk Buah Hati”. Ia mengajak para orang tua melakukan refleksi mendalam tentang makna kehadiran mereka di rumah.

Baca Juga:

Siswa kelas VI SD Mumtaz bersimpuh di pelukan orang tua saat sesi motivasi di Masjid Al Mannar Sidoarjo. Suasana haru menyelimuti pertukaran surat cinta dan komitmen.
Muhammad Nasar Haqiqi, M.Pd. ketika memotivasi siswa kelas 6 SD Mumtaz dengan tajuk Muliakan Orang Tuamu, maka Allah Muliakan Hidupmu. (Tagar.co/Heni Dwi Utami)

Ilmu Parenting dan Bahasa Kalbu

Nofan Arifianto, S.Pd.I., M.Pd. menekankan, orang tua adalah “kurikulum berjalan” bagi anak-anaknya. Ia menggunakan prinsip children see, children do untuk mengingatkan, setiap perilaku orang tua akan menjadi cetak biru bagi karakter anak. Ia mendorong para orang tua agar hadir seutuhnya, bukan sekadar fisik yang ada di rumah namun pikiran melayang ke pekerjaan.

“Orang tua perlu membangun bonding yang kuat melalui quality time selama 15 menit tanpa gangguan gawai,” jelas Nofan Arifianto.

Ia juga menyarankan pemberian sentuhan fisik berupa pelukan minimal selama 8 detik setiap hari untuk mengurangi tingkat stres pada anak. Selain itu, ia mengingatkan para orang tua agar menghindari pola komunikasi “5M”, yakni menyalahkan, meremehkan, membandingkan, menghakimi, dan mengancam.

Baca Juga:  SD Mumtaz Siapkan Lulusan Unggul lewat Design Thinking

Nofan Arifianto kemudian mengajak peserta untuk mempraktikkan komunikasi empatik melalui bahasa kalbu. Ia juga menekankan kekuatan doa sebagai senjata paling ampuh bagi orang tua.

“Rutinlah melangitkan doa Rabbana hab lana min azwajina wa dhurriyyatina qurrata a’yun setiap selesai salat,” pesannya. Materi ini menjadi oase bagi para orang tua yang selama ini mungkin terlalu fokus pada nilai akademik hingga melupakan kebutuhan emosional anak.

Puncak acara yang paling mereka nanti pun tiba saat pihak sekolah mempertemukan kembali siswa dengan orang tua masing-masing. Keheningan yang sarat makna seketika menyergap seluruh ruangan.

Pihak panitia meminta anak dan orang tua saling bertukar surat yang telah mereka tulis sebelumnya. Kertas-kertas tersebut berisi curahan hati yang paling dalam, mulai dari permohonan maaf atas kenakalan remaja hingga ucapan terima kasih atas kasih sayang yang tak terbalas.

SD Mumtaz adakan motivasi bagi wali siswa kelas VI. (Tagar.co/Heni Dwi Utami)

Dekapan Hangat Menuju Kelulusan

Isak tangis pecah saat jemari para siswa menyentuh surat dari orang tua mereka. Suasana hening berubah menjadi simfoni haru ketika terdengar suara parau yang berusaha mengendalikan emosi.

Baca Juga:  Munaqasah SD Mumtaz Dihadiri Pejabat Kemenag

Para siswa membaca kata-kata tulus dari ayah dan ibu dengan mata berkaca-kaca. Sebaliknya, para orang tua pun tak kuasa menahan air mata saat mengeja tulisan mungil anak-anak mereka yang berisi janji untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

“Maafkan aku, Ayah, Ibu,” bisik salah seorang siswa sambil memeluk erat orang tuanya. Air mata mengalir tak terbendung di pipi hampir seluruh hadirin.

Mereka berpelukan sangat erat, seolah ingin melepas semua rindu, rasa bersalah, dan beban yang selama ini tersimpan. Pelukan tersebut menjadi simbol komitmen baru untuk saling mendukung, tidak hanya dalam menghadapi ujian akhir, tetapi juga dalam mengarungi perjalanan hidup di masa depan.

Bagi komunitas SD Mumtaz, kegiatan ini melampaui sekadar sesi motivasi akademis menjelang kelulusan. Pihak sekolah meyakini, ikatan cinta dan komunikasi yang sehat dalam keluarga merupakan pondasi paling penting bagi perkembangan mental anak.

Acara ini menjadi pengingat berharga, di balik target-target nilai di sekolah, ada jiwa yang butuh dekapan dan perhatian. Persiapan spiritual ini menjadi bekal yang jauh lebih berharga bagi anak-anak hebat SD Mumtaz untuk melangkah ke jenjang pendidikan berikutnya. (#)

Jurnalis Heni Dwi Utami Penyunting Sayyidah Nuriyah