Feature

Agama dan Lingkungan: Dari Konflik Menuju Kolaborasi

20
×

Agama dan Lingkungan: Dari Konflik Menuju Kolaborasi

Sebarkan artikel ini
Tangkapan layar diskusi daring

Hening Parlan menekankan agama bukan sekadar urusan iman, tapi juga inspirasi moral dan sosial untuk menghadapi krisis iklim global.

Tagar.co – Relasi antara agama dan lingkungan kembali mengemuka dalam diskusi daring yang digelar Perkumpulan Penulis Indonesia – Satupena melalui program Hatipena.

Edisi ke-172 kali ini, Kamis (4/9/2025), menghadirkan Hening Parlan, aktivis lintas iman yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Krisis Iklim: Persoalan Ekologi sekaligus Moral

Dalam pemaparannya, Hening menegaskan bahwa krisis iklim tidak semata perkara ekologis, melainkan juga krisis moral dan spiritual. Sejak awal 1900-an hingga kini, suhu bumi meningkat dengan cepat.

Baca juga: Aktivis Lingkungan Muhammadiyah Hening Parlan Terima Penghargaan Planet Awards

“Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di muka bumi terjadi akibat ulah manusia. Namun bukan seluruh manusia, melainkan sebagian yang berperilaku merusak. Agama hadir untuk menuntun kita agar kembali menjaga keseimbangan ciptaan Tuhan,” tegasnya.

Agama: Dua Wajah, Dua Pilihan

Hening yang juga Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia menekankan bahwa agama bisa hadir dengan dua wajah. Ia bisa menjadi musuh ketika ajarannya disalahgunakan demi kepentingan politik dan ekonomi. Namun, agama juga bisa menjadi sahabat ketika ditafsirkan secara kontekstual, progresif, dan berpihak pada keberlanjutan hidup.

Baca Juga:  Transisi Energi Ciptakan Peluang Kerja Baru, Mahasiswa Didorong Masuki Green Jobs

“Kuncinya ada pada ekoteologi—sebuah tafsir dan teologi yang menempatkan alam sebagai bagian integral dari iman. Merusak bumi sama artinya merusak ciptaan Tuhan. Dengan pendekatan ini, agama bisa menjadi sumber inspirasi spiritual, moral, sekaligus sosial bagi gerakan lingkungan,” ujar Wakil Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah.

Inspirasi Lintas Iman

Hening mencontohkan sejumlah inisiatif berbasis iman: Laudato Si dalam Gereja Katolik, eco churches di kalangan Kristen, hingga Green al-Ma’un di Muhammadiyah. Bahkan melalui Eco Bhinneka Muhammadiyah, ia bersama para mitra lintas iman membangun kolaborasi menyelamatkan bumi.

“Urusan lingkungan tidak bisa diselesaikan oleh satu agama saja. Dalam program Sedekah Energi yang kami laksanakan di Sukabumi, misalnya, penyumbang pertama justru berasal dari saudara kita umat Buddha untuk sekolah Muhammadiyah. Jika kita saling mendukung, semua akan lebih baik,” jelasnya.

Empat Jalan Menuju Agama Sahabat Lingkungan

Di akhir paparan, Hening menawarkan empat langkah konkret agar agama benar-benar menjadi sahabat lingkungan. Pertama, reinterpretasi teks agama agar pesan pro-lingkungan lebih kuat dalam khotbah dan pendidikan.

Baca Juga:  Dari Meja Buka Puasa ke Aksi Lingkungan, Eco Bhinneka Muhammadiyah Satukan Tokoh Lintas Iman

Kedua, memperkuat gerakan advokasi lingkungan di lembaga agama. Ketiga, memperluas kolaborasi lintas iman karena krisis ini bersifat global. Dan keempat, membangun eco-jihad, yakni jihad ekologi yang bisa dilakukan secara lintas agama demi menjaga bumi bersama.

“Eco-jihad adalah wujud nyata iman yang peduli pada bumi. Ini jihad yang tidak mengenal batas agama, karena bumi ini rumah bersama kita semua,” pungkas Direktur Program Eco Bhinneka Muhammadiyah tersebut. (#)

Jurnalis Dzikrina Farah Adiba Penyunting Mohammad Nurfatoni