Feature

Dari Kelas, Guru Muhammadiyah Didorong Jadi Penggerak Dakwah

95
×

Dari Kelas, Guru Muhammadiyah Didorong Jadi Penggerak Dakwah

Sebarkan artikel ini
Guru dan karyawan SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas mengikuti pengajian yang menghadirkan Badrus Sholeh, menegaskan peran guru Muhammadiyah sebagai penggerak dakwah dari ruang kelas, Sabtu (25/4/2026) di Gresik.

Pengajian SD Almadany menegaskan peran strategis guru: bukan hanya mengajar, tetapi membangun ideologi dan menggerakkan dakwah sejak dari ruang kelas.

Tagar.co – Pengajian guru dan karyawan SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (25/4/2026), menegaskan satu pesan penting: ruang kelas bukan hanya tempat mengajar, tetapi juga ladang dakwah.

Kegiatan ini menghadirkan Badrus Sholeh, S.E., Ketua Majelis Tablig Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Gresik, yang membawakan tema “Guru Muhammadiyah Berideologi Kuat: Dari Kelas Menggerakkan Dakwah, Memajukan Perserikatan.”

Baca juga: Hari Bumi di Gresik: Siswa SD Almadany Turun Langsung Rawat Satwa

Dalam kajiannya, Badrus menekankan bahwa ilmu harus menjadi dasar sebelum ucapan dan tindakan. Ia juga mengingatkan pentingnya penguatan tauhid sebagai fondasi utama, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, termasuk perintah untuk mengetahui keesaan Allah dan memohon ampunan bagi diri sendiri serta sesama mukmin.

Ia kemudian menguraikan makna ideologi sebagai seperangkat gagasan, nilai, dan cita-cita yang menjadi pedoman dalam bergerak. Dalam Muhammadiyah, ideologi tersebut mengarah pada ajakan untuk hanya menyembah Allah serta menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Baca Juga:  Surah Al-Kausar: Jawaban Langit di Tengah Luka Kehilangan

Selain itu, ia menjelaskan konsep manhaj sebagai jalan yang jelas dalam mengikuti tuntunan Al-Qur’an dan Sunah. Dakwah Muhammadiyah, menurutnya, dijalankan dengan pendekatan hikmah, nasihat yang baik, serta dialog yang santun.

“Bilhikmah berarti menyampaikan kebenaran dengan landasan ilmu yang kuat dan argumentasi yang meyakinkan. Sedangkan mauidah hasanah dilakukan dengan cara santun, disertai contoh nyata,” ujarnya.

Badrus juga menegaskan karakter dakwah Muhammadiyah yang meliputi tajdid (pembaruan), purifikasi (pemurnian), dan wasatiah (moderat).

Dalam konteks pendidikan, ia menilai guru Muhammadiyah harus memiliki ideologi yang kokoh, ditopang pemahaman Islam dan kemuhammadiyahan yang baik. Prioritas utamanya adalah pembenahan akidah serta pembentukan akhlak peserta didik.

Menutup kajian, Badrus mengingatkan bahwa setiap muslim adalah da’i tanpa dibatasi profesi. Seorang da’i, lanjutnya, harus menjadi agen perubahan, problem solver, serta siap berkorban harta, pikiran, dan jiwa di jalan Allah. (#)

Jurnalis Mahfudz Efendi Penyunting Mohammad Nurfatoni