
Ia memang telah berpulang pada Kamis 23 April 2026, tetapi ketenangan tutur dan kedalaman maknanya tetap hidup dalam ingatan banyak orang.
Oleh Dr. Sarwo Edy
Tagar.co – Dalam ingatan banyak orang, sosok ulama tidak selalu hadir dengan retorika yang menggelegar atau gestur yang dramatis. Sebagian justru meninggalkan jejak paling dalam melalui ketenangan, cara bertutur yang lembut, tetapi mengikat makna secara kuat.
Demikianlah kesan yang melekat pada pribadi K.H. Masyhud Bahri, ulama Gresik. Ia bukan hanya seorang kiai dalam pengertian formal, melainkan seorang penutur hikmah yang menghadirkan agama sebagai sesuatu yang dekat, jernih, dan membumi.
Baca juga: Alam yang Terlupakan dalam Pendidikan Modern
Nada suaranya kalem, nyaris tanpa tekanan emosional yang berlebihan. Namun, justru di situlah letak kekuatannya. Setiap kalimat yang disampaikan terasa terukur: tidak berlebih, tidak pula kurang.
Ia seperti memahami benar bahwa kata-kata bukan sekadar bunyi, melainkan amanah. Ketika beliau berbicara, tidak ada kesan menggurui, apalagi menghakimi. Yang hadir justru rasa diajak: diajak memahami, diajak merenung, dan perlahan diajak berubah.
Keistimewaan lain dari beliau adalah kemampuannya menyederhanakan hal yang kompleks. Banyak konsep keislaman yang kerap terasa abstrak, di tangan beliau menjadi terang dan mudah dipahami.
Ia tidak menjejali jemaah dengan istilah yang rumit, melainkan mengurai makna dengan bahasa sehari-hari, bahasa yang hidup dalam pengalaman umat. Di sinilah tampak bahwa kedalaman ilmu tidak selalu harus tampil dalam kompleksitas, tetapi justru dalam kejernihan.
Kenangan Indah
Salah satu kenangan yang paling membekas adalah ketika dia menyampaikan kajian di Universitas Muhammadiyah Gresik. Saat itu, tema yang diangkat adalah tentang Asr (waktu), sebagaimana tersirat dalam Surah Al-Asr.
Tema yang mungkin sering terdengar, bahkan terasa sederhana. Namun, di tangan beliau, makna waktu seolah dibuka kembali dari sudut yang lebih hidup dan menggugah.
Beliau memulai dengan pertanyaan yang sangat mendasar: Apa yang sebenarnya hilang dari manusia hari ini? Lalu dia menjawabnya dengan perlahan: bukan sekadar waktu, tetapi kesadaran akan nilai waktu.
Dalam penjelasannya, waktu tidak hanya dipahami sebagai hitungan detik dan jam, melainkan sebagai ruang amanah yang terus bergerak. Setiap detik yang berlalu bukan sekadar hilang, tetapi membawa konsekuensi: apakah ia menjadi saksi amal atau justru menjadi catatan kelalaian.
Cara K.H. Masyhud Bahri menjelaskan Surah Al-Asr terasa sangat kontekstual. Tidak berhenti pada teks, tetapi masuk ke realitas kehidupan. Beliau mengaitkan ayat tersebut dengan rutinitas manusia modern—kesibukan yang padat, tetapi sering kehilangan makna; aktivitas yang banyak, tetapi minim refleksi.
Dengan bahasa yang sederhana, beliau mengingatkan bahwa kerugian manusia bukan karena kurangnya waktu, melainkan karena salah mengelola dan memaknainya.
Yang menarik, beliau tidak menutup kajian dengan nada ancaman atau rasa takut. Sebaliknya, ia menawarkan harapan: bahwa selama manusia masih diberi waktu, selalu ada peluang untuk memperbaiki diri.
Empat pilar dalam Surah Al-Asr—iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan kesabaran—dijelaskan sebagai jalan keluar yang praktis, bukan sekadar konsep normatif. Beliau menegaskan bahwa agama tidak pernah hadir untuk memberatkan, tetapi untuk menuntun.
Suasana kajian saat itu terasa hening, tetapi bukan karena kaku, melainkan karena khusyuk. Civitas academica seakan larut dalam alur pemikiran yang disampaikan. Tidak ada kebutuhan untuk meninggikan suara, karena makna sudah cukup kuat untuk menggema di hati.
Ceramah bukan lagi sekadar penyampaian materi, melainkan peristiwa batin—sebuah momen di mana seseorang diajak berdialog dengan dirinya sendiri.
Bahkan setelah kajian selesai, banyak yang masih terdiam, seolah ingin mempertahankan resonansi yang baru saja hadir.
Bagi banyak orang, mungkin ceramah hanyalah rutinitas. Namun, pertemuan dengan sosok seperti K.H. Masyhud Bahri mengubah persepsi itu.
Ceramah bukan lagi sekadar penyampaian materi, melainkan peristiwa batin—sebuah momen di mana seseorang diajak berdialog dengan dirinya sendiri. Dan dalam dialog itu, sering kali muncul kesadaran yang selama ini tersembunyi.
Pada akhirnya, yang membuatnya begitu dikenang bukan hanya isi ceramahnya, tetapi cara beliau menghadirkan makna. Ia mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu harus keras untuk didengar, tidak harus rumit untuk dipahami, dan tidak harus panjang untuk mengena. Kadang, justru dalam ketenangan, pesan menemukan jalannya yang paling dalam.
Sosok seperti dia mengingatkan kita bahwa dalam dunia yang semakin bising, keteduhan adalah kekuatan. Dan dalam kehidupan yang terus berlari, memahami waktu adalah kunci untuk tidak kehilangan arah. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa‘fuanhu. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni









