
Din Syamsuddin menilai agresi Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran bukan konflik biasa, melainkan bagian dari desain besar yang melemahkan pembela Palestina dan memecah solidaritas dunia Islam.
Tagar.co – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah eskalasi serangan yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.
Di tengah situasi tersebut, Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta, M. Din Syamsuddin, menilai bahwa serangan itu tidak bisa dilihat sebagai konflik bilateral semata, melainkan sebagai bagian dari skenario strategis yang lebih luas.
Baca juga: Din Syamsuddin: Kematian Khamenei Jadi Amunisi Baru Iran Lawan Israel dan AS
Menurutnya, agresi tersebut hakikatnya merupakan serangan terhadap Palestina dan dunia Islam secara keseluruhan.
“Serangan Zionis Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran adalah serangan terhadap dunia Islam, dan merupakan bagian dari penaklukan Palestina secara menyeluruh,” tegasnya dalam pernyataan terteulis yang diterima Tagar.co, Rabu pagi (4/3/26).
Melumpuhkan Pembela Palestina
Ketua Poros Dunia Wasatiyyat Islam itu menilai, selama ini Iran merupakan salah satu negara yang paling konsisten dan terbuka dalam membela perjuangan rakyat Palestina.
Karena itu, upaya melemahkan Iran dipandang sebagai bagian dari strategi besar untuk memastikan dominasi Israel atas Palestina berlangsung tanpa hambatan signifikan dari kekuatan regional.
Ia menyebut bahwa Israel, dengan dukungan penuh Amerika Serikat, telah lama menjalankan agenda penguasaan Palestina. Dalam kerangka itu, setiap kekuatan yang dinilai menghambat kepentingan tersebut berpotensi menjadi sasaran.
“Tak terbantahkan bahwa Israel dengan dukungan Amerika Serikat ingin melumpuhkan Iran yang selama ini tampil membela Palestina,” ujarnya.
Strategi Dominasi Kawasan
Lebih jauh, Chairman Global Peace Forum itu memandang ambisi Israel tidak berhenti pada penguasaan Palestina. Ia menyebut adanya strategi dominasi yang lebih luas terhadap dunia Islam, khususnya kawasan Arab, baik dengan motif ideologis, politis, maupun ekonomis.
Keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk dinilai sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga pengaruh dan kontrol di kawasan tersebut.
Dalam konteks itu, ia menyoroti praktik politik adu domba atau divide et impera yang, menurutnya, terus dimainkan dengan memanfaatkan isu perbedaan Sunni–Syiah maupun sentimen Arab–Persia. Strategi tersebut dinilai efektif untuk melemahkan soliditas internal dunia Islam.
Ia bahkan mengingatkan kemungkinan adanya provokasi yang dapat memantik konflik horizontal di kawasan, termasuk dengan menyerang instalasi strategis tertentu lalu menggiring opini bahwa Iran adalah pihak yang bertanggung jawab.
Kritik terhadap “Board of Peace”
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2005-2010 dan 2010-2015 itu juga menyinggung inisiatif yang disebutnya sebagai “Board of Peace” yang dinilai sebagai skenario kamuflase yang pada akhirnya menguntungkan Israel. Ia menyayangkan adanya pihak-pihak yang, menurutnya, terperdaya oleh skema tersebut.
Dalam pandangannya, jaminan keamanan terhadap Israel menjadi problematis ketika di saat yang sama terjadi tindakan agresi dan pelanggaran terhadap hak-hak rakyat Palestina.
Ia secara implisit mengkritik sikap Indonesia yang dinilai kurang tegas dalam merespons agresi tersebut. Menurutnya, Indonesia tidak berada pada posisi kuat untuk menjadi penengah jika tidak memiliki political leverage yang memadai dan jika dipersepsikan terlalu dekat dengan kepentingan Amerika Serikat.
“Kalau mau menjadi penengah, Indonesia harus menekan Amerika Serikat dan Israel untuk menghentikan agresi dan ambisinya,” tegasnya.
Seruan Soliditas Dunia Islam
Dalam pernyataannya, mantan Ketua Umum Majelsi Ulama Indonesia itu menyerukan agar umat Islam sedunia tidak terprovokasi oleh isu-isu yang mempertentangkan Sunni dan Syiah. Ia mendorong penguatan solidaritas dan konsolidasi internal sebagai respons strategis terhadap eskalasi konflik.
Ia juga meminta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk lebih aktif dan responsif dalam membela kepentingan dunia Islam di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.
Baginya, konflik yang terjadi bukan sekadar persoalan regional, melainkan bagian dari konfigurasi kekuasaan global yang menyentuh aspek kedaulatan, identitas, dan masa depan dunia Islam.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap eskalasi di Timur Tengah memiliki resonansi luas—tidak hanya pada stabilitas kawasan, tetapi juga pada solidaritas dan arah politik dunia Islam secara keseluruhan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni











