Cerpen

Kurir Makanan Online

48
×

Kurir Makanan Online

Sebarkan artikel ini
Kurir makanan itu mengirimkan foto bukti makanan ke pemesannya. Namun ketika mau diambil makanan itu tak ada.
Ilustrasi AI. Alya melihat rekaman CCTV pengiriman makanan.

Kurir makanan itu mengirimkan foto bukti makanan ke pemesannya. Namun ketika mau diambil makanan itu tak ada. Karena jengkel dia langsung beri rating bintang satu. Ternyata dampaknya mengubah nasib orang lain.

Oleh Naila Muzayyanatur Rohmah, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang.

Tagar.co – Hujan deras mengguyur kompleks halaman kos malam itu. Genangan air menutupi sebagian jalan. Angin membuat ranting-ranting kecil berjatuhan.

Di salah satu kos paling ujung, Alya mondar-mandir di ruang tamu sambil memegangi perutnya. Sejak siang ia belum makan. Tugas kuliahnya menumpuk. Hujan membuatnya malas keluar. Perut yang lapar makin membuat pikirannya kacau.

“Astaga, lapar banget…,” gumamnya.

Hujan deras dan enggan meninggalkan tugasnya, akhirnya ia memesan makanan online lewat aplikasi. Setelah menunggu cukup lama, notifikasi berbunyi: Pesanan telah tiba.

Sebelum mengambil pesanan ia sempat mencari-cari hijabnya sebelum keluar kamar. Setelah menemukannya Alya bergegas membuka pintu, melongok ke luar. Di halaman kosnya kosong. Tidak ada plastik makanan, tidak ada kurir pengantar, tidak ada jejak.

Alya langsung menggerutu. “Harusnya udah ada di depan kos ini! Kenapa nggak ada?”

Tanpa pikir panjang, ia membuka aplikasi. Melihat foto bukti antar. Foto itu menunjukkan paket berada di depan kos dan diletakkan di meja depan. Tapi Alya melihat bangunannya seperti berbeda.

”Ini salah kos. Astaga, gak mungkin aku ngambil dalam keadaan hujan gini. Mana beda blok lagi!” katanya kesal.

Ia menelepon kurir pengantar. Namun gagal. Karena sudah dikuasai emosi, Alya langsung memberi rating bintang satu. Bahkan memblokir akun kurir tersebut.

Ia tidak memikirkan apa pun selain rasa lapar dan hujan yang membuatnya semakin frustasi. Setelah itu ia masuk kembali ke dalam kamar. Memesan makanan lagi dari aplikasi lain.

Menganggap masalahnya sudah selesai. Ia tidak tahu bahwa keputusan kecil yang diambilnya begitu cepat itu membawa akibat besar bagi orang lain.

Beberapa hari kemudian, di pagi hari yang masih diselimuti udara lembab sisa hujan, suasana kompleks kos tampak lebih ramai dari biasanya.

Di pos Satpam berdiri seorang pria paruh baya dengan jaket kurir ojol. Wajahnya terlihat lelah dan dipenuhi kecemasan. Dia Pak Dani, kurir yang malam itu mengantarkan pesanan Alya.

Kedatangannya pagi itu berharap bisa menemukan pelanggan yang memberinya bintang satu dan memblokir akunnya. Sejak menerima penilaian tersebut, akun Pak Dani langsung dibatasi.

Ia tidak dapat menerima pesanan selama hampir satu pekan, padahal ia harus mencukupi kebutuhan istri dan dua anaknya di rumah.

“Saya benar-benar berharap bisa bertemu dengan pelanggan itu, Pak. Saya ingin menjelaskan kalau saya tidak berniat melakukan kesalahan,” ucap Pak Dani dengan suara rendah kepada Satpam. Pak Satpam mendengarkan penjelasan Pak Dani dengan tenang sambil sesekali mengangguk.

Saat itu, Rina, salah satu penghuni kos yang lewat mendengar percakapan mereka. Ia berhenti sejenak karena merasa ada sesuatu yang serius sedang dibicarakan.

Rina tidak mengenal Pak Dani, tetapi melihat wajah pria yang tampak lelah dan cemas membuatnya ikut memperhatikan dengan penasaran.

“Saya tidak bisa bekerja sejak akun saya diblokir. Saya sudah hampir seminggu tidak mendapat pesanan,” kata Pak Dani dengan suara pelan, terdengar lemah dan penuh harap.

“Padahal saya harus menafkahi keluarga di rumah. Saya hanya ingin pelanggan itu mau mencabut laporannya.”

Rina terkejut mendengar ucapan tersebut. Ia baru menyadari bahwa satu penilaian buruk bisa berdampak sebesar ini.

Dengan hati-hati, Rina bertanya, “Maaf, Pak, memangnya pesanan siapa yang bermasalah?”

Pak Dani lalu menceritakan pesanan tersebut diantarkannya ke salah satu kamar di kos ini pada malam hujan deras beberapa hari yang lalu. Ia yakin sudah mengantar ke alamat yang benar dan bahkan sempat memotret sebagai bukti.

Namun tak lama setelah itu, pelanggan menuduhnya salah alamat, memberinya bintang satu, dan langsung memblokir akunnya.

Mendengar penuturannya, Rina merasa perlu memastikan kebenarannya, agar masalah tidak berlarut-larut. Ia pun menyarankan kepada Satpam membuka rekaman CCTV yang terpasang di sekitar gerbang kos.

Tanpa menunda, Satpam segera menuju ruang pantauan untuk memeriksa rekaman tersebut. Beberapa menit kemudian, dari layar CCTV yang sedikit buram karena sisa embun dan pencahayaan minim, terlihat dengan jelas Pak Dani mengantarkan makanan ke depan kos sesuai dengan alamat pesanan.

Ia berhenti tepat di depan gerbang, menurunkan motornya, lalu meletakkan kantong makanan itu dengan rapi di atas meja kecil sebelum akhirnya pergi meninggalkan lokasi.

Suasana halaman sepi beberapa saat. Tak lama setelah Pak Dani menghilang dari jangkauan kamera, seekor kucing liar yang berkeliaran di sekitar kos perlahan mendekat.

Dengan waspada, hewan itu menggigit plastik pembungkus makanan, menyeretnya dengan susah payah, lalu membawanya pergi ke arah gelap belakang bangunan.

Melihat kejadian tak terduga itu, Rina refleks membekap mulutnya, terkejut sekaligus merasa tak percaya.

Seketika ia teringat pada Alya, penghuni kos yang beberapa hari sebelumnya sempat mengeluhkan kurir karena pesanan makanannya tidak sampai.

Tanpa menunda waktu lagi, Rina segera meraih ponselnya, menghubungi Alya memintanya datang ke pos Satpam untuk melihat sendiri kebenaran yang baru saja terungkap itu.

Tak lama kemudian, Alya datang ke pos satpam dengan langkah ragu. Rina memintanya duduk dan memperhatikan layar monitor. Ketika rekaman CCTV diputar, Alya melihat jelas Pak Dani benar-benar mengantarkan makanannya ke kos sesuai alamat pesanan. Posisi meja, pagar, dan dindingnya sama persis dengan yang ada di kosnya.

Saat melihat itu, Alya sempat mengernyit. Ia teringat foto bukti antar yang dikirim aplikasi. “Tapi kok di foto bangunannya kelihatan beda?” gumamnya pelan.

Pak Satpam menjelaskan sudut pengambilan foto memang agak miring, jadi terlihat seperti bangunan blok lain.

Alya juga melihat rekaman kucing datang menggigit plastik makanan dan menyeretnya ke belakang bangunan.

Alya terdiam. Barulah ia sadar bahwa makanannya memang diantar oleh kurir ke alamat yang benar. Hanya saja ia mengira salah alamat karena melihat foto bukti yang tampak berbeda karena makanannya sudah tidak ada ketika ia membuka pintu.

Alya menunduk. Ia merasa bersalah karena langsung menyimpulkan Pak Dani salah tanpa memeriksa dulu.

“Saya benar-benar minta maaf, Pak. Saya salah duga. Waktu itu saya emosi, lapar,” ucap Alya dengan suara menyesal.

Pak Dani terdiam. Lalu menghela napas. Ia mengangguk pelan dan berkata,“Saya tidak dendam, Mbak. Saya hanya ingin bekerja dengan tenang dan jujur. Yang penting sekarang semuanya sudah jelas.”

Ia mengangguk pelan mendengar permintaan maaf itu. Tak ada amarah di wajahnya. Ia lega setelah melihat kejadian sebenarnya. Rasa sedih, khawatir, dan cemas yang selama sepekan ia pendam karena tidak bisa bekerja mulai menghilang.

Alya segera mengeluarkan ponselnya. Di hadapan Pak Dani dan Rina, ia mencabut pemblokiran yang pernah ia lakukan. Lalu memperbaiki rating Pak Dani, agar akunnya bisa kembali normal.

Beberapa saat kemudian, notifikasi masuk di ponsel Pak Dani menandakan akunnya sedang diproses kembali. Pak Dani tersenyum, menarik napas panjang, seolah melepaskan sesak yang selama ini menghimpit dadanya. Lalu mengucap syukur pelan. Kini ia bisa kembali bekerja sebagai kurir online.

Sejak peristiwa itu, Alya belajar bahwa emosi sesaat dan keputusan terburu-buru bisa melukai kehidupan orang lain. Ia kini lebih berhati-hati dalam bersikap dan tidak lagi mudah menghakimi tanpa mengetahui kebenaran.

Kisah itu menyebar ke penghuni kos lainnya. Mereka ikut memetik pelajaran berharga bahwa satu kesalahan kecil bisa berdampak besar. Kepedulian sederhana dapat menyelamatkan banyak hal.

Sejak itu, kos tersebut bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang tumbuh bagi empati dan kemanusiaan. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…