Cerpen

Janji di Balik Angkot Jambu

28
×

Janji di Balik Angkot Jambu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/A

Bertahun-tahun Dani menolong anak-anak sekolah tanpa bayaran. Ia tak menyangka, orang yang dulu menolongnya muncul kembali, meminta tumpangan terakhir dalam hidupnya.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Pagi di Cianjur selalu berembun. Jalanan basah, langit masih menyisakan abu sisa hujan malam. Di ujung gang Pasirhayam, sebuah angkot berwarna jambu muda meluncur perlahan, warnanya mencolok di antara deretan kendaraan biru dan hijau.

Di balik kemudi, Dani Aziz tersenyum kecil melihat dua anak sekolah berdiri di pinggir jalan.

“Naik aja, Nak,” katanya ramah.

Anak-anak itu saling pandang. “Tapi, Pak, uang kami tinggal buat jajan.”

Dani menggeleng, menepuk pintu angkot. “Buat jajan aja. Hari ini gratis.”

Itulah kebiasaan Dani. Setiap pagi, ia menjemput anak-anak sekolah dan menggratiskan ongkos mereka. Dalam sehari, bisa sampai dua puluh anak ia angkut tanpa bayaran.

Baca cerpen lainnya: Mesin Uang yang Tak Pernah Hidup

Baginya, setiap tawa anak-anak itu seperti bunga kecil yang tumbuh dari janji lama. Janji yang bermula di satu sore yang tak pernah ia lupakan.

Beberapa tahun lalu, Dani kehilangan pekerjaan di bengkel. Di sakunya tersisa uang Rp30.000. Ia menimbang: apakah untuk ongkos pulang naik ojek, atau untuk membeli beras. Ia memilih berjalan kaki, menempuh lebih dari lima kilometer.

Namun di tengah jalan, sebuah mobil tua berhenti. Seorang pria di balik kemudi menurunkan kaca.
“Mau ke mana, Kang?”

Baca Juga:  Perbedaan Itu Biasa, tapi Cara Menyikapinya Menentukan Segalanya

“Ke Karangtengah, Pak.”

“Pas arah saya. Naik aja.”

Dani sempat ragu, tapi akhirnya duduk di kursi penumpang. Perjalanan yang seharusnya sunyi itu berubah jadi hangat oleh percakapan ringan dan sepotong roti isi dari dasbor.

Sebelum berpisah, pria itu berkata, “Kadang hidup nggak perlu banyak alasan buat bantu orang.”

Kata-kata itu menempel di hati Dani seperti ukiran di batu. Malamnya, ia memandangi anaknya yang tertidur, lalu berjanji dalam diam: jika suatu hari ia punya kendaraan sendiri, ia akan menolong siapa pun yang membutuhkan.

Bertahun kemudian, janji itu menjelma menjadi angkot berwarna jambu muda—kendaraan kecil yang bukan hanya alat mencari nafkah, tetapi juga wadah kebaikan.

Setiap pagi Dani berangkat lebih awal, menyisir jalur sekolah. Anak-anak sudah hafal suara mesinnya.

“Pak Dani! Pak Dani!” seru mereka riang.

“Eh, pasukan cerdas sudah nunggu!” sahut Dani.

Namun tak semua hari cerah. Kadang ban bocor dua kali, kadang bensin hampir habis sementara penumpang sepi. Pernah, Rina istrinya menyampaikan kegelisahan.

“Bang, kalau terus begini, kapan kita bisa nabung?”

Dani terdiam. Ia menatap foto keluarga yang tergantung di dinding.
“Kita nabung, Rin. Tapi bukan buat dunia.”

Rina tak menjawab, hanya memalingkan wajah. Tetapi setiap kali ada anak kecil datang membawa sekotak nasi atau seikat pisang dengan pesan, “Ini buat Pak Dani dari sekolah,” hatinya luluh.

Baca Juga:  Surat Keterangan Miskin yang Terlambat

Kisah Dani menyebar dari mulut ke mulut. Wartawan datang, kamera menyorot, dan tiba-tiba namanya muncul di berita daring: Sopir Angkot Dermawan dari Cianjur.

Dani malu. “Saya cuma sopir biasa, Pak. Banyak orang baik di luar sana.”

Namun perhatian publik membawa berkah. Ada yang menitipkan uang bensin, ada yang memberi cat baru. Ia tetap memilih warna jambu muda.
“Biar anak-anak gampang kenal,” ujarnya.

Hidupnya berjalan tenang sampai suatu sore teleponnya berdering. Suara di ujung sana parau tetapi lembut.

“Saya mau ketemu, Kang Dani. Ada urusan lama yang belum selesai.”

Dani datang ke terminal lama. Senja hampir habis, udara lembap, aroma solar bercampur tanah basah. Di bangku beton, seorang pria tua duduk dengan tongkat kayu di tangan.

“Masih ingat saya?” tanyanya.

Dani mengerutkan kening. Tatapan itu terasa familier.

“Saya yang dulu kasih tumpangan waktu kamu cuma punya Rp30.000,” kata pria itu pelan.

Dani terpaku. “Astaghfirullah… saya ingat, Pak. Tapi kenapa Bapak tahu saya di sini?”

“Saya lihat berita. Dulu saya bantu kamu tanpa pikir panjang. Sekarang saya yang butuh tumpangan.”

“Bapak mau ke mana?”

“Ke rumah sakit. Sudah tak ada keluarga. Dulu istri saya meninggal karena telat dibawa berobat. Mobil itu sudah lama dijual.”

Tanpa banyak bicara, Dani mengantar pria itu ke rumah sakit. Ia menunggu hingga malam, membantu mengurus administrasi. Saat hendak pulang, suster menghampirinya dengan wajah canggung.

Baca Juga:  Indahnya Mendoakan para Ustaz

“Maaf, Pak… Bapak yang tadi sudah meninggal dunia. Tapi beliau menitipkan ini.”

Dani menerima selembar kertas kusam. Di atasnya tertulis: “Kadang hidup nggak perlu banyak alasan buat bantu orang.”

Namun di balik kertas itu terselip foto tua seorang pemuda berdiri di depan bengkel, mengenakan pakaian lusuh. Di belakangnya, sosok pria yang sama berdiri tersenyum, menatap ke arah kamera.

Tulisan di balik foto membuat tangan Dani bergetar:

“Dani kecil yang dulu saya tolong di jalan pasar, teruskan hidupmu dengan hati bersih. Dunia berputar, tapi kebaikan akan selalu kembali pada yang menanamnya.”

Hening. Dani menatap ke luar jendela rumah sakit. Hujan turun deras, seperti sore saat ia pertama kali ditolong. Di parkiran, angkot jambu mudanya memantulkan cahaya lampu jalan. Ia berjalan keluar, membuka pintu angkot, lalu menatap kaca belakang tempat ia pernah menulis satu kalimat sederhana.

Tulisan itu sudah pudar, tetapi masih terbaca samar: “Kalau bisa bantu orang lain, saya bantu.”

Dani tersenyum tipis, menatap langit malam.
“Pak, kali ini saya kasih tumpangan terakhir buat Bapak,” bisiknya.

Malam itu, angkot jambu melaju pelan di jalan basah Cianjur, membawa satu penumpang terakhir menuju tempat peristirahatan. Lampu kota memantul di bodinya yang lembut, seolah menandai perjalanan panjang satu janji yang ditepati. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…