Cerpen

Di Balik Uang Duka yang Ditolak Rukmini

38
×

Di Balik Uang Duka yang Ditolak Rukmini

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Seorang ibu menolak uang yang ditawarkan untuk nyawa anaknya. Keputusan itu mengubah hidupnya dan membuka rahasia yang tak pernah ia duga.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Hujan baru saja reda di kampung Puspa Jaya. Air menetes dari atap seng, jatuh perlahan ke tanah yang becek. Di ruang tamu rumah kayu sederhana, foto seorang prajurit muda tergantung di dinding: Prada Randi, putra tunggal Ibu Rukmini. Wajahnya tenang, tersenyum dalam seragam loreng, seolah masih siap menjemput pagi.

Baca cerpen lainnya: Pesan Terakhir Abang dalam Sebuah Rekaman

Sudah empat puluh hari sejak kabar kematian itu datang. Namun setiap malam, Rukmini masih menyalakan dupa sambil menatap foto itu. Kadang ia bicara sendiri, seolah Randi masih duduk di kursi bambu di depannya. “Nak, ibu masih di sini. Ibu belum selesai.”

Ketika sore itu pintu diketuk, ia tak menyangka tamu-tamu itu membawa sesuatu yang akan mengguncang hatinya.

Dua puluh dua pria berseragam rapi masuk dengan langkah berat. Salah satunya memegang amplop cokelat tebal. “Ibu Rukmini,” katanya pelan, “kami datang mewakili teman-teman Randi… untuk menyampaikan permintaan maaf dan sedikit bantuan. Mohon diterima, Bu.”

Ia meletakkan amplop itu di atas meja kayu.

Rukmini memandangi benda itu lama. “Bantuan?” suaranya datar. “Untuk apa?”

“Untuk meringankan beban Ibu. Kami tahu tak bisa mengganti nyawa Randi, tapi semoga ini bisa menenangkan.”

Ia menatap satu per satu wajah di depannya. “Jadi kalian pikir nyawa anak saya bisa ditukar dengan uang?”

Baca Juga:  Doa ke Makkah sebelum Dewasa

Tak ada yang berani menatap balik. Hanya hujan yang kembali turun, pelan tapi menusuk.

“Kalau uang ini bisa menghapus darah anakku,” katanya kemudian, bangkit dan berjalan ke dapur, “maka biarlah ia ikut terbakar bersamaku.”

Ia menyalakan kompor minyak. Amplop itu dimasukkan ke dalam baskom logam, lalu dibakar di depan mata mereka. Asap hitam melingkar di langit-langit rumah. Bau kertas terbakar bercampur dengan doa yang tak diucapkan.

Tak seorang pun berani menghentikannya.

“Pergilah,” ucap Rukmini dengan tenang. “Bawa rasa bersalah kalian sendiri. Jangan lagi datang membawa harga atas nyawa.”

Para tamu itu pergi satu per satu, meninggalkan jejak lumpur dan keheningan yang panjang.

Sejak malam itu, nama Rukmini beredar di banyak tempat. Di televisi, di media daring, di majalah. Ia disebut sebagai simbol keberanian, ibu yang menolak uang darah. Tapi setiap kali orang datang menemuinya, ia hanya berkata, “Saya tidak menolak uang. Saya menolak ketidakadilan.”

Namun dalam diamnya, Rukmini tahu luka itu belum sembuh. Setiap kali ia menutup mata, ia masih mendengar suara langkah sepatu tentara di koridor markas, langkah yang tak pernah kembali ke rumah.

Suatu malam, setelah menghadiri tahlil di musala, ia melihat sesuatu di dalam cermin tua di ruang tamu: bayangan Randi berdiri di belakangnya. Seragamnya bersih, wajahnya teduh.

“Randi…” bisiknya.

Bayangan itu hanya tersenyum, lalu perlahan memudar bersama suara azan Isya dari kejauhan.

Sejak malam itu, Rukmini tak pernah lagi menyalakan dupa. Ia memilih berdoa dalam diam.

Baca Juga:  Ramadan bersama Umar bin Khattab: Dari Mihrab ke Tungku Rakyat

Beberapa pekan kemudian, kabar aneh datang: dua dari dua puluh dua pelaku tewas dalam kecelakaan. Mobil mereka terbakar, menyisakan satu dompet hangus berisi uang seratus ribu yang gosong setengah.

Orang-orang berbisik, “Itu uang yang ditolak Ibu Rukmini. Kutukan uang darah.”

Ia tidak percaya tahayul, tapi sejak hari itu, tanah di belakang rumahnya selalu basah, meski langit kering berhari-hari. Seolah ada sesuatu yang menetes dari dalam bumi.

Enam bulan berlalu. Kasus Randi akhirnya disidangkan. Semua pelaku hadir, sebagian menangis, sebagian tertunduk tanpa suara. Rukmini duduk di bangku pengunjung dengan pakaian hitam dan kerudung kelabu. Saat hakim mengetuk palu, ruangan hening. Hukuman dijatuhkan. Ia menunduk, mengusap air mata, lalu berdiri dan pergi tanpa bicara.

Di luar gedung, seorang pria berpakaian dinas mendekat. “Ibu Rukmini?” suaranya sopan. “Kami dari kepolisian militer. Ada hal penting yang perlu kami sampaikan.”

Ia berhenti melangkah. “Tentang apa?”

“Anak Ibu… Prada Randi… masih hidup.”

Rukmini tertegun. Dunia berputar tanpa arah. Kata-kata itu berulang di kepalanya. “Masih hidup?”

Pria itu menjelaskan cepat: jenazah yang dikubur dahulu bukan Randi, melainkan rekan satu timnya. Randi terluka parah dan diselamatkan warga di daerah perbatasan. Baru setelah sadar dan identitasnya diverifikasi, kabar itu sampai ke markas.

Air mata Rukmini jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menggenggam tangan pria itu. “Boleh saya menemuinya?”

Beberapa hari kemudian, di rumah sakit militer, ia memeluk Randi yang kurus tapi masih dengan senyum yang sama. “Ibu…” kata Randi lirih, “maaf, aku pulang terlambat.”

Baca Juga:  Moderasi dalam Cahaya Islam

Rukmini tak menjawab. Ia hanya menangis di dada anaknya yang bergetar.

Namun malam itu, ketika kembali ke rumah, sesuatu terasa ganjil. Foto Randi yang tergantung di dinding jatuh sendiri, kaca bingkainya retak tepat di bagian dada. Di lantai, di bawah foto itu, tergeletak amplop cokelat yang sudah ia bakar dulu, utuh, bersih, tanpa abu.

Ia terpaku.

Dari luar rumah, terdengar suara langkah sepatu tentara berjalan serempak, mendekat, lalu berhenti di depan pintu. Ia membuka jendela, tapi halaman kosong. Hanya angin membawa aroma dupa dan abu kertas.

Rukmini menatap amplop itu lama. Tangannya gemetar ketika menyentuhnya. Tinta di pojok kanan tampak seperti bercak merah darah yang masih basah.

Ia memejamkan mata, berdoa lirih, “Ya Allah, jangan biarkan aku kehilangan dua kali.”

Ketika membuka mata, amplop itu sudah lenyap. Hanya cermin tua di sudut ruangan yang memantulkan bayangan dua sosok seorang ibu dan prajurit muda di belakangnya, berdiri dalam senyap yang tak bisa dijelaskan oleh waktu.

Keesokan paginya, tetangga melihat pintu rumah Rukmini terbuka lebar. Di meja ruang tamu hanya ada secangkir kopi hangat dan selembar foto baru: Rukmini dan Randi berdiri berdampingan, sama-sama tersenyum.

Tapi di pojok bawah foto itu tertulis dengan tinta samar: “Uang bisa hilang, nyawa bisa pergi. Tapi kebenaran akan menagih siapa yang memungutnya.” (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…