Feature

Film Pangku: Melihat Perempuan dari Sisi Lain

87
×

Film Pangku: Melihat Perempuan dari Sisi Lain

Sebarkan artikel ini
Film Pangku
Adegan film Pangku karya Reza Rahadian

Film ini memiliki ‘keberanian’ melihat sisi “tak nyaman” dari situasi perempuan marginal. Bukan romantisasi kayak dunia sinetron, tetapi pengakuan bahwa perempuan sering dihadapkan pada pilihan yang tidak “ideal”

Tagar.co – Film Pangku (2025) karya Reza Rahadian menyajikan representasi perempuan yang cukup kompleks, bukan sekadar korban atau objek, tetapi juga sebagai pelaku, pembuat pilihan, dan simbol ketahanan.

Tokoh utama Sartika sebagao sosok perempuan sentral dalam cerita ini adalah Sartika (diperankan oleh Claresta Taufan). Ibu muda yang hamil, kemudian meninggalkan kampungnya demi mencari kehidupan yang lebih baik bagi dirinya dan anaknya.

Menjadi karakter signifikan, Sartikahidup di “pinggiran” sosial: lokasi latar adalah kawasan pesisir Jalur Pantura, kelas pekerja marjinal, kondisi ekonomi terbatas.

Ia bukan sekadar “dilecehkan pilihan” tetapi aktif mengambil pilihan: meninggalkan asalnya, mencoba beradaptasi, memilih pekerjaan yang berat demi kelangsungan hidup anaknya.

Namun, film juga menunjukkan dilema moral dan sosial yang menimpa perempuan tersebut: pekerjaan di kedai kopi dengan layanan “kopi pangku” yang punya makna sosial yang kompleks.

Baca Juga:  Quran Time, Cara Spemdalas Menghidupkan Pagi dengan Al-Quran

Representasi Perempuan

Tokoh Sartika adalah salah satu representasi perempuan yang kuat dalam sinema Indonesia. Ia tidak diposisikan sebagai pahlawan super, tetapi sebagai manusia biasa yang punya keterbatasan, berjuang, dan seringkali “terpaksa” memilih demi tanggung jawabnya sebagai ibu.

Hal ini terasa jujur dan menyentuh karena realitasnya sering kurang diangkat. Ada kekuatan dalam narasi bahwa keberanian sehari-hari dan ketahanan adalah heroisme tersendiri.

Selain Sartika, ada juga karakter Maya (diperankan oleh Christine Hakim), pemilik warung kopi yang kemudian menampung Sartika. Film ini juga mengangkat relasi antar-perempuan: satu perempuan menolong yang lain, berbagi peran sebagai figur “ibu” dan “yang ditopang”.

Relasi ini memperkaya gambaran perempuan dalam film, bukan hanya sebagai individu tunggal yang berjuang, tetapi sebagai bagian dari jaringan sosial dan solidaritas perempuan.

Ini penting karena sering dalam narasi, perempuan digambarkan sendiri-sendiri atau hanya sebagai korban; di sini ada unsur kebersamaan antar-perempuan yang memberi nuansa berbeda.

Norma Patriarki

Film ini tidak menghindar dari aspek keras kehidupan: kemiskinan, pilihan kerja yang terdesak, norma patriarki, stigma terhadap perempuan yang bekerja dalam kondisi sulit.

Baca Juga:  Spemdalas Smartlish Olympiad 2026 Sukses Digelar, Inilah Para Pemenangnya

Contohnya: pekerjaan “kopi pangku” yang diangkat bukan sekadar latar estetika tetapi simbol pilihan yang kompleks dan kondisi sosial yang mengekang perempuan.

Film ini berani melihat sisi “tak nyaman” dari situasi perempuan marginal, bukan romantisasi, tetapi pengakuan bahwa perempuan sering dihadapkan pada pilihan yang tidak “ideal”.

Namun, bagian yang mungkin bisa lebih dieksplorasi adalah bagaimana perempuan itu sendiri membuat pilihan— bukan hanya bagaimana kondisi menekan mereka — agar tidak terjebak hanya sebagai “korban keadaan”.

Secara keseluruhan, Pangku menampilkan sosok perempuan dengan sangat baik dalam konteks sosial yang realistis — kuat, rentan, memilih, terhubung dengan jaringan perempuan lainnya, dan berhadapan dengan realitas yang sulit.

Film ini adalah contoh yang bagus bagaimana sinema Indonesia bisa memberi ruang lebih untuk pengalaman perempuan yang sering terpinggirkan. (#)

Jurnalis Ichwan Arif.