Opini

Ilaf Quraisy dan Sumitronomics yang Dihidupkan Purbaya

49
×

Ilaf Quraisy dan Sumitronomics yang Dihidupkan Purbaya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Purbaya Yudhi Sadewa menghidupkan kembali trilogi pembangunan Sumitro—pertumbuhan, pemerataan, stabilitas. Dalam Surah Quraisy, Allah merangkum esensinya lebih singkat: cukup makan dan rasa aman. Dua narasi beda zaman, tapi sama-sama menegaskan: ekonomi bukan sekadar angka, melainkan siapa yang diajak duduk di meja makan..

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

Tagar.co – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tak bosan-bosannya di setiap forum mengampanyekan Trilogi Pembangunan ala Prof. Sumitro Djojohadikusumo: pertumbuhan ekonomi tinggi, pemerataan hasil pembangunan, dan stabilitas nasional.

Yang menarik, kalau kita buka mushaf tipis di rak paling atas, trilogi itu sepertinya bergema di dalam Al-Qur’an, khususnya di Surah Quraisy. Surah ini hanya punya empat ayat, pendek, tapi isinya padat nutrisi ekonomi-politik.

Setelah Allah bersumpah dengan ilāf Quraisy, Dia mengingatkan bangsa ini agar bersyukur karena diberi dua hal: kecukupan pangan (ath‘amahum min ju‘) dan keamanan politik (āmanahum min khauf). Dua fondasi inilah yang memungkinkan kafilah Quraisy berdagang aman dari Yaman ke Syam, lalu ke Mesir hingga Persia.

Baca juga: Neo Sumitronomics: Retorika Baru Ekonomi Prabowo-Purbaya

Tanpa jaminan keamanan dan kecukupan pangan, semua teori ekonomi hanyalah ilusi di kertas. Maka, ketika Purbaya bicara soal menjaga likuiditas dan memastikan uang kembali ke sistem, itu sejatinya adalah ikhtiar untuk memastikan tha‘ām wa amn — cukup makan dan rasa aman.

Itulah yang dulu menjadi landasan peradaban Quraisy. Di empat ayat Surah Quraisy, Allah menegaskan: karena ilāf Quraisy — ini adalah sistem kontrak dagang lintas kekaisaran — umat itu dijaga dari lapar dan rasa takut. Dua kata kunci: perut kenyang dan hati tenang.

Baca Juga:  Mens Rea: Ketika Tawa Harus Lapor Polisi

Bukankah itu bahasa Qur’ani untuk pertumbuhan dan stabilitas? Dan bukankah pemerataan tak lain adalah memastikan roti Hasyim, kakek Nabi Muhammad Saw., yang direndam kuah kambing di sepanjang perjalanan perdagangan, bisa dicicipi bukan hanya oleh elit kabilah, tetapi juga kaum miskin?

Prof. Sumitro dulu menekankan pertumbuhan sebagai mesin pertama pembangunan. Purbaya mengulanginya dalam acara dua hari di Medan 2025: pertumbuhan 5,4 persen dalam APBN 2026 itu realistis, asal mesin fiskal dan moneter dijalankan serentak.

Kafilah dagang Quraisy, terutama yang dipimpin Hasyim—yang nama aslinya ‘Amru—sudah paham itu sejak abad ke-6. Bedanya, mesin mereka bukan APBN, tetapi kafilah unta. Mereka tidak mencetak obligasi, melainkan menandatangani ilāf, perjanjian keamanan dagang dengan Kaisar Romawi dan Persia, serta suku-suku kecil.

Kalau kafilah dagang selamat, barang pasti tiba di pasar, untung berlipat, itulah pertumbuhan. Kalau hari ini kita gagal menjaga kontainer beras dari pungli, gagal menjaga hasil tambang dari sabotase, jangan-jangan level kita malah di bawah manajemen kafilah Quraisy.

Satirnya: Quraisy tumbuh dengan modal roti kuah, kita kadang justru stagnan dengan modal nikel, sawit, dan tambang emas. Kita selama ini dikadali angka-angka oleh para eksportir tambang dan sawit, sehingga tiap tahun negara rugi setara anggaran pendidikan.

Siapa Hasyim bin ‘Abd Manāf

Mari saya kenalkan Hasyim bin ‘Abd Manāf. Kakek Nabi Muhammad Saw. ini dikenal sebagai food vlogger gurun. Nama aslinya ‘Amru. Ia dermawan sejati, suka memotong kambing di tiap perjalanan dagangnya, dan memasak dagingnya dengan panggang gaya gurun.

Baca Juga:  Jangan Nangis, Mama! Dan Negara Terlambat Hadir

Cara masak inilah, dengan aroma asapnya yang mengundang rasa, yang membuatnya dikenal dengan nama hasyim, artinya sang pemanggang daging.

Tak cuma itu. Ia memasak roti dan menaburinya dengan kuah daging, kemudian memanggil semua orang di sekitar tempat kemah kafilah dagangnya untuk makan bersama.

Itulah pemerataan manfaat. Kebiasaan ini pada akhirnya sampai ke telinga Kaisar yang kelak memanggilnya. Di hadapan Kaisar, “Hasyim” hanya minta satu hal: meneken perjanjian keamanan perdagangan, yang disebut Al-Qur’an sebagai ilāf.

Dalam istilah Purbaya, stabilitas hanya tercapai bila ada program langsung ke masyarakat. Ia bahkan membandingkan SBY dan Jokowi: pertumbuhan 6 persen era SBY tak membuat rakyat puas, karena kurangnya program langsung. Era Jokowi dengan 5 persen pertumbuhan, tetapi banyak BLT dan bansos, rakyat lebih tenang.

Di sini ilāf Quraisy bicara: ekonomi yang sehat bukan sekadar angka PDB, melainkan soal siapa yang diajak makan di meja. Kalau Sumitro bicara “pemerataan hasil pembangunan,” Al-Qur’an sudah menulis “aman dari lapar.” Karena rakyat kenyang, stabilitas politik ikut terjaga.

Trilogi Sumitro menutup dengan stabilitas nasional. Ini bukan sekadar polisi jaga demo, tetapi kestabilan politik-ekonomi yang membuat investor tidak kabur. Quraisy menerjemahkannya dengan kontrak keamanan: kafilah mereka dijamin di jalur Syam, Yaman, Irak, dan Habasyah. Itulah safe-conduct, kontrak sosial yang lebih ampuh dari pasukan bersenjata.

Baca Juga:  TurboQuant, AI Mungil yang makin Cerdas

Purbaya menyebut hal serupa: selama 90 persen mesin ekonomi kita ditopang konsumsi dan investasi domestik, kita tak perlu gentar kalau Amerika resesi. Stabilitas nasional bukan lahir dari ketakutan, melainkan dari keyakinan rakyat bahwa hidup mereka tidak diguncang lapar dan resah.

Makanan dan Keamanan

Kalau dirangkum, Surah Quraisy memberi dua kunci: makanan dan keamanan. Sumitro memberi tiga kunci: pertumbuhan, pemerataan, stabilitas. Dua-duanya beririsan, seperti dua lingkaran Venn. Perut kenyang adalah pemerataan, hati tenang adalah stabilitas, kafilah berkembang adalah pertumbuhan.

Jadi, kalau hari ini Purbaya mengusung Sumitronomics sambil menepuk dada bahwa “kita lebih pintar dari IMF sedikitlah,” bolehlah kita senyum miris. Quraisy sudah lebih pintar dari IMF sejak abad ke-6. Bedanya, Quraisy menjual dagangan dengan jaminan perut rakyat, sementara kita sering menjual jargon dengan jaminan utang negara.

Purbaya mungkin tak pernah bilang terang-terangan, tetapi pilihan Prabowo menempatkannya di Kementerian Keuangan bisa dibaca sebagai strategi: menjahit warisan Sumitronomics dengan semangat ilāf Quraisy. Kalau berhasil, Indonesia punya harapan jadi bangsa yang besar: tumbuh tinggi, adil dalam berbagi, stabil dalam menghadapi guncangan global.

Namun kalau gagal? Kita hanya akan jadi Quraisy versi parodi: banyak kontrak di atas kertas, tetapi rakyat tetap lapar dan ketakutan. Al-Qur’an sudah kasih resep singkat, empat ayat saja. Tinggal apakah kita mau memasaknya jadi kebijakan nyata, atau sekadar membacanya jadi wirid menjelang tidur.

Ma‘had Tadabbur Al-Qur’an, 26 September 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Sorakan terhadap satu pihak sering kali lahir dari…