
Dua seragam tercoreng, satu jejak hilang menembus Phnom Penh. Ketika “Mata Elang” menukik, siapa yang lebih cepat: Arfan bersembunyi, atau AKBP Ayu menjemputnya pulang?
Skandal Pinjol Seragam Cokelat (Seri: 4): Mata Elang dan Jejak Kakak yang Hilang
Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Dua pekan pascakeputusan PTDH untuk Bripda Doni Wicaksono, suasana Polda Jawa Dwipa masih hangat dengan bisik-bisik. Bukan lagi soal etik atau belas kasihan, melainkan satu pertanyaan yang semakin mengganggu: ke mana perginya Arfan Wicaksono?
Nama itu muncul berulang dalam setiap pemeriksaan, setiap laporan perbankan, hingga setiap testimoni para korban. Arfan, mantan debt collector, lalu buruh kapal, dan entah bagaimana, mendadak menjadi figur sentral dalam jaringan pinjaman daring berbunga mencekik.
Baca Tiga Seri sebelumnya: Skandal Pinjol Seragam Cokelat
Kakak kandung Bripda Doni ini sudah menghilang sejak sebulan sebelum sidang etik dimulai. Tidak ada sinyal, tidak ada jejak digital—kecuali satu: transaksi mencurigakan melalui dompet kripto dengan alamat IP dari Phnom Penh, Kamboja.
“Gua yakin dia masih hidup. Gua kenal cara dia kabur,” ujar seorang pria berjaket hitam di sebuah warung kopi dekat Pasar Johar.
Pria itu adalah Roni Prasetya, rekan lama Arfan sewaktu sama-sama bekerja sebagai pengawal pengiriman uang. Kini Roni menjadi informan tak resmi untuk tim kecil yang dibentuk khusus oleh Divisi Propam dan Reserse Khusus, yang dipimpin AKBP Ayu Maharani salah satu perwira muda paling cemerlang di Jawa Tengah.
AKBP Ayu Maharani bukan polisi biasa. Lulusan terbaik Sekolah Staf dan Pimpinan Polri itu dikenal dingin, disiplin, dan tak suka kompromi. Dalam kasus ini, ia memimpin tim gabungan lintas fungsi: ada IT forensik, unit analisis keuangan, bahkan satuan khusus dari Bareskrim yang biasa disebut “Mata Elang.”
Mereka menyisir jejak Arfan bukan hanya dari bukti transaksi, tapi juga dari catatan kehidupan: siapa teman lamanya, di mana dia biasa nongkrong, ke mana dia pergi sebelum menghilang. Mereka juga menelusuri koneksi Arfan ke jaringan aplikasi pinjaman yang diblokir OJK namun masih aktif di bawah domain palsu.
“Dia bukan sekadar pelarian. Dia kunci. Kita perlu Arfan untuk bongkar semua ini,” ucap Ayu kepada timnya.
Titik terang pertama datang dari analisis sebuah unggahan TikTok: akun dengan nama samaran memamerkan gaya hidup mewah di sebuah apartemen Phnom Penh, dengan latar musik remix lagu dangdut dan tagar misterius: #LifeOfAFighter #PinjamanCepat #AntiRibet.
AI forensik mengenali wajahnya 82 persen cocok dengan foto lama Arfan, meskipun ditutupi kacamata dan brewok palsu. Lokasi pun cocok dengan catatan transaksi kripto terakhir yang dikirimkan dari sana.
“Kita punya target. Masalahnya sekarang adalah cara menjemputnya,” ucap Ayu sambil menatap layar. “Tanpa kehebohan, tanpa diplomasi berbelit.”
Sementara itu, di Solo, Doni menjalani hari-hari di Rutan Tahanan Khusus. Pikirannya tidak hanya dipenuhi rasa bersalah, tetapi juga kegelisahan tentang kakaknya.
Setiap malam, ia menulis surat bukan kepada keluarganya, bukan kepada pengacaranya, tapi kepada Arfan.
Mas, kalau kau baca ini, kembalilah. Aku sudah dihukum, dan aku menerima itu. Tapi kau… kau masih punya kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Jangan buat Ibu mati dalam penantian. Jangan biarkan semua ini ditutup dengan kabur seperti pengecut. Kau bukan pengecut. Kau kakakku.
Surat itu ia selipkan ke dalam buku catatannya, berharap suatu saat, saat entah siapa membuka buku itu, pesan itu sampai.
Di Jakarta, Della dan tim advokasinya makin gencar menekan Kejaksaan agar berani memproses pencucian uang dan perdagangan data pribadi. Laporan Della yang viral berjudul “Anatomi Skandal Pinjol dan Kolusi Emosional Seragam Negara” mendapat sorotan media internasional. Ia mengungkap betapa pinjol ilegal menggunakan nama-nama aparat sebagai tameng, bahkan memanipulasi rasa percaya publik demi mengecoh korban.
“Ini bukan kasus personal. Ini sistemik. Kita harus bongkar jalurnya, dari kantor, ke aplikasi, ke dompet digital, dan ke para boneka yang dikorbankan,” ucapnya dalam satu sesi konferensi pers.
Di Kamboja, Arfan Wicaksono menikmati sore di balkon apartemen sewaan. Ia tahu jejaknya nyaris tak bisa dibersihkan. Tapi satu hal yang tak ia sangka adalah: suara dari dalam dirinya sendiri yang makin lantang.
Ia membuka email lama email yang tak pernah ia sentuh lagi sejak Doni dikirim ke tahanan.
Di sana, satu pesan belum terbuka. Dari Doni.
Dengan tangan gemetar, Arfan membukanya.
“Kita bukan dilahirkan untuk bersembunyi, Mas. Aku sudah mengaku, kau kapan?”
Arfan menatap jendela. Senja di Phnom Penh merah, mirip seperti langit Magelang di masa kecilnya. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia tak merasa kebal.
Di Indonesia, “Mata Elang” sudah bergerak. Satu paspor ganda milik Arfan berhasil dicegat oleh mitra di Bandara Kuala Lumpur. Sinyal dari radar diplomatik pun mulai berdering: permintaan penangkapan telah dikirimkan ke otoritas Kamboja melalui jalur khusus.
Dan AKBP Ayu Maharani, tanpa sorotan kamera, hanya menatap layar dan berkata:
“Main petak umpetmu selesai, Tuan Arfan. Waktunya kembali ke negeri yang kau tinggalkan.” (#) Bersambung ke ke-5: “Dompet Digital dan Labirin Nama Palsu”
Penyunting Mohammad Nurfatoni












