Feature

Tawaf Ifadah, Air Mata, dan Kisah Buku yang Menegangkan di Depan Ka’bah

56
×

Tawaf Ifadah, Air Mata, dan Kisah Buku yang Menegangkan di Depan Ka’bah

Sebarkan artikel ini
Jemaah KBIH Nurul Hayat Surabaya usai tawaf ifadah (Tagar.co/Anandyah RC)

Sakit sempat menghalangi, tapi Allah memberi jalan. Tawaf ifadah pun dituntaskan—penuh doa dan air mata. Namun siapa sangka, sebuah buku malah membawa kami ke hadapan askar.

My Journey on Hajj 2025 (Seri 8); Oleh Anandyah RC, S.Psi, Jemaah Haji KBIH Nurul Hayat Surabaya

Tagar.co – Jam menunjukkan pukul 02.30. Jemaah KBIH Nurul Hayat (NH) Surabaya akan melaksanakan tawaf ifadah, tahapan akhir dari seluruh rangkaian ibadah haji.

Syukur kepada Ilahi, pagi itu saya bangun dengan kondisi badan yang sehat walafiat. Seharian kemarin saya tak berdaya, benar-benar beristirahat total karena demam tinggi, badan meriang, dan batuk yang semakin parah.

Saya hanya bangun untuk salat, makan, dan minum obat. Dalam kondisi lemah itu, saya hanya bisa pasrah kepada Allah, merintih dan memohon kehendak-Nya agar memberikan kesembuhan, berharap bisa mengikuti tawaf ifadah bersama jemaah lain.

Allah Mahabaik. Pagi ini, saat bangun tidur, penderitaan saya seharian kemarin hilang begitu saja. Tak menyisakan rasa sakit sedikit pun. Badan terasa segar, dan saya merasa sangat mampu mengikuti tawaf.

Segera saya mengambil air wudu untuk salat tahajud. Saya haturkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada kekasihku, Allah Taala, yang tidak pernah lengah menjaga dan melindungiku dengan cinta dan kasih sayang-Nya.

Menunggu waktu salat Subuh, saya mandi—seharian kemarin belum mandi. Alhamdulillah, air hangat masih mengalir sehingga saya tidak kedinginan. Mandi sekaligus bersuci untuk salat Subuh dan juga persiapan tawaf.

Mengenakan pakaian putih dengan jilbab khas NH berwarna toska, sarapan satu butir telur dan minum obat, saya dan suami segera menuju lobi hotel, bergabung dengan jemaah NH lainnya.

Kami menunggu bus nomor 27 yang akan membawa kami ke Terminal Ajyad. Hari ini kami bahagia karena Ustaz Muhammad Molik akan mendampingi dan membimbing tawaf ifadah.

Titik kumpul kami berada di depan WC 1. Setelah semua jemaah berkumpul, Ustaz Molik, dibantu suami saya, membagikan alat penerima suara (receiver) untuk memudahkan kami mengikuti panduan tawaf dan sai. Dengan alat ini, pembimbing tidak perlu berteriak memandu doa.

Di titik kumpul ini, Ustaz Molik memberikan waktu bagi jemaah yang batal wudu untuk memperbarui wudu, karena syarat tawaf adalah dalam keadaan suci.

Setelah jemaah siap, Ustaz Molik memimpin barisan masuk ke area Masjidilharam. Kami masuk melalui Pintu King Abdul Aziz. Alhamdulillah, bisa turun lewat eskalator, artinya kami dapat melaksanakan tawaf di lantai dasar, dekat Ka’bah.

Saat berjalan menuju Ka’bah, barisan kami dihentikan oleh askar. Mereka tidak mengizinkan penggunaan alat receiver yang sudah terpasang di telinga para jemaah. Akhirnya kami harus melepas alat tersebut, dan Ustaz Molik mengambil posisi di tengah, agar jemaah di bagian depan dan belakang tetap bisa mendengar panduan doa beliau.

Alhamdulillah, tujuh putaran tawaf selesai. Kami menepi ke tempat yang lebih lengang. Dengan posisi menghadap Ka’bah, Ustaz Molik membacakan doa-doa. Tak terasa, air mata membasahi pipi saya mendengar untaian doa yang dipanjatkan dengan penuh ketulusan dan kekhusyukan.

Di tengah-tengah doa, askar mendatangi kami dan meminta agar kami membubarkan kerumunan. Ustaz Molik meminta waktu lima menit untuk menyelesaikan doa dan menutupnya dengan salat dua rakaat.

Saya dan suami mencari tempat yang kondusif untuk salat dua rakaat. Selesai salat, suami saya maju ke depan untuk mengambil foto buku pertamanya dengan latar belakang Ka’bah.

Ternyata, sepulang dari mengambil foto, suami saya ditegur oleh askar perempuan. Bukunya diminta, difoto oleh askar itu sambil banyak bicara dalam bahasa Arab yang kami tidak pahami. Askar itu juga meminta suami saya menunjukkan kartu Nusuk. Suasana sedikit tegang.

Kemudian, askar laki-laki mendatangi kami dan meminta kami menepi. Mereka meminta buku suami saya lagi, bahkan meminta telepon genggamnya. Kami pun diinterogasi: dari mana asal kami, nama, nomor Nusuk, pekerjaan.

Karena kendala bahasa, akhirnya mereka menggunakan Google Translate. Barulah kami paham: dilarang memotret barang apa pun dengan latar belakang Ka’bah, meskipun itu sesuatu yang baik seperti buku Islami.

Alasannya adalah untuk menjaga kesucian Ka’bah dari segala bentuk penyimpangan akidah atau potensi kesyirikan. Kami minta maaf atas kekeliruan dan ketidaktahuan kami. Alhamdulillah, semua berakhir damai.

Lebih dari 15 menit rombongan jemaah menunggu kami di dekat area sai akibat interogasi tersebut. Alhamdulillah, pembimbing kami ikut lega ketika mengetahui semuanya telah selesai dengan baik.

Kami lanjut melaksanakan sai. Kali ini, kami boleh menggunakan alat receiver lagi. Sepanjang berjalan dari Bukit Safa ke Marwa tujuh kali, pembimbing terus membacakan zikir dan doa-doa, dan kami tinggal mengikutinya.

Alhamdulillah, sai selesai. Pertanda tuntas sudah ibadah haji kami. Bahagia memenuhi seluruh relung hati. Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, Allahu Akbar. Terima kasih, ya Allah. Engkau izinkan dan kuatkan kami untuk menyelesaikan seluruh rangkaian haji ini. Berikanlah kami kemampuan untuk senantiasa menjaga kemabruran haji kami. Aamiin, Allahumma amin.

Setelah sai usai, pembimbing memberi kebebasan aktivitas kepada kami. Hanya memberi arahan cara kembali ke Terminal Ajyad. Sebagian jemaah memilih langsung kembali ke hotel.

Saya dan suami memutuskan berbeda. Tujuan kami: Grand Zamzam, untuk sarapan sambil refreshing. Kami naik eskalator ke lantai 4 menuju restoran Al Baik yang sedang viral.

Sampai di restoran, antrean cukup panjang. Saya duduk sejenak di pembatas tembok dekat antrean. Dua menit kemudian, petugas restoran melambaikan tangan kepada saya untuk maju, membuat barisan baru. Alhamdulillah, pertolongan Allah, saya tidak lagi di antrean belakang—saya nomor dua dari depan.

Saat tiba giliran memesan, saya memesan burger, chicken nugget isi 10, kentang goreng, jus jeruk, dan air mineral. Saya hanya membayar 32 riyal. Tinggal ambil makanan. Sementara suami mencari tempat duduk. Tujuh menit kemudian, makanan sudah di tangan saya. Kami menikmati sarapan tanpa nasi pagi itu. Sangat mengenyangkan. Nuggetnya jumbo sampai kami tak sanggup menghabiskannya. Saya bungkus sisanya untuk dibawa ke hotel.

Setelah makan dan istirahat, pukul 10.30 kami sempatkan mengabadikan pemandangan salah satu sisi Masjidilharam dari atas Grand Zamzam. Dari dalam tampak matahari sangat terik. Kami berjalan ke arah pintu keluar. Suami mengajak membeli ayam oven terlebih dahulu. Setelah menunggu 10 menit, kami mendapatkannya, lalu melanjutkan perjalanan pulang ke hotel.

Kami turun ke lantai dasar dengan lift kapsul. Terasa lebih cepat. Berjalan ke arah samping mencari pintu keluar, kami menemukan WC 3, tempat yang biasa digunakan NH sebagai patokan. Keluar Grand Zamzam, beratap langit, subhanallah, sengatan matahari terasa menembus kulit. Kami memilih berjalan sepanjang emperan toko agar tidak terlalu panas. Alhamdulillah, di sepanjang emperan toko panasnya tidak begitu terasa.

Mendekati Terminal Ajyad, emperan toko habis. Kami hanya mengandalkan topi di kepala. Alhamdulillah, masih kuat menahan panas. Beberapa warga lokal membagikan air dan kue sebagai sedekah. Saya dan suami juga mendapat bagian. Alhamdulillah.

Masuk Terminal Ajyad, sepanjang jalannya halte beratap dan ada blower di sisinya. Cukup membantu menyejukkan jemaah yang kepanasan. Segera keluar melalui Gerbang 3, kami tak butuh waktu lama untuk menemukan bus nomor 27. Kami segera naik, dan ternyata teman-teman jemaah NH sudah berada di dalam. Kami kira, kami yang paling terakhir meninggalkan Masjidilharam.

Sambil menunggu bus penuh, saya memejamkan mata, tertidur di bawah AC yang dingin. Nikmat sekali. Dua puluh menit kemudian bus bergerak, dan akhirnya tiba di Sektor 10. Kami diturunkan di Hotel 1016 karena parkiran depan hotel sudah penuh. Kami berjalan sebentar menuju hotel di bawah terik matahari, namun tak terasa karena hati kami gembira.

Sampai di hotel, lobi sudah dipenuhi jemaah haji kloter 2 yang akan kembali ke tanah air hari ini. Tampak wajah-wajah lelah di raut mereka. Sepertinya belum cukup istirahat setelah ibadah Armuzna. Sabar, ya. Setelah tiba di tanah air, ada banyak waktu untuk beristirahat. Selamat jalan. Semoga haji Anda semua mabrur.

Saya menekan tombol lift menuju lantai 10. Tidak lama, karena sebagian jemaah sudah bersiap pulang. Di lift hanya ada saya dan suami. Sesampainya di lantai 10, teman sekamar saya sudah tiba dan membukakan pintu kamar.

Saya berganti pakaian, membersihkan badan, minum obat, lalu tidur untuk memulihkan energi. Tidur saya sangat nyenyak. Tak ada beban. Perasaan plong dan lega karena telah melewati seluruh rangkaian ibadah haji.

Terima kasih, ya Allah. Banyak sekali kemudahan yang Engkau berikan kepada saya. Selalu bisa bersama suami, saat yang lain terpisah dengan pasangannya. Menjalani setiap tahapan ibadah dengan bergandengan tangan. Selalu mendapat antrean awal. Selalu diberi tubuh yang kuat di saat dibutuhkan. Ya Allah, jadikan aku hamba-Mu yang selalu pandai bersyukur. Amin. (#)

Makkah, 15 Zulhijah 1446 atau 11 Juni 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni