
Menghadapi Armuzna tanpa pembimbing, jemaah haji Nurul Hayat mengandalkan arahan terakhir, kekuatan doa, dan keyakinan penuh kepada Allah. Di balik aktivitas ringan mencuci, terungkap haru, tegang, dan persiapan batin menuju puncak haji.
My Journey on Hajj 2025 (Seri 3); Oleh Anandyah RC, S.Psi, Jemaah Haji KBIH Nurul Hayat Surabaya
Tagar.co – 1 Juni 2025, Bus Selawat berhenti beroperasi. Masjidilharam disterilkan untuk persiapan puncak haji: Armuzna—Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Seluruh jemaah haji diimbau untuk tetap beribadah di masjid hotel masing-masing dan memperbanyak istirahat agar saat Armuzna tiba, mereka dalam kondisi sehat lahir dan batin.
Lima hari sudah aku meninggalkan Tanah Air. Pakaian kotor mulai menumpuk. Seusai salat Subuh, aku dan suami, Firman Arifin, bergegas ke lantai 12 (rooftop) untuk mencuci.
Ternyata sudah ada beberapa jemaah lain yang mendahului kami. Banyak mesin cuci manual berderet rapi di salah satu ujung rooftop, lengkap dengan keran dan selang air. Tinggal pakai saja.
Ada juga area keran tanpa mesin, untuk jemaah yang mau mencuci pakaian secara manual, alias ngucek pakai tangan. Beberapa tali jemuran sudah tersedia, milik jemaah lain, tetapi bisa digunakan bersama-sama.
Baca juga: Lelah yang Berbuah Nikmat di Masjidilharam
Alhamdulillah, karena masih pagi, kami tidak perlu mengantre dan langsung dapat mesin cuci. Kami masukkan pakaian kotor ke tabung mesin, tuang deterjen saset, lalu mengutak-atik tiga tombol di mesin manual itu. Agak kagok juga rasanya, sudah lama kami tidak pakai mesin cuci manual seperti ini.
Suamiku memutar tombol cuci. Eh, kok cucian tidak mau berputar? Rupanya, tabung belum diisi air! Salah urutan teknis mencuci.
Sambil menunggu suami mencuci di mesin, aku mencuci batik nasional dengan tangan karena bahan batiknya mudah luntur.
Selesai cuci batik, aku nongkrong santai ngobrol dengan jemaah lain, sambil makan buah, kacang almond, dan pistachio yang kubeli semalam. Duduk di emperan jemuran, menikmati pemandangan pagi: gunung-gunung batu dan deretan hotel. Tak sedikit burung dara yang ikut nimbrung, mampir ke tempat jemuran.
Setelah suami selesai mencuci dan mengeringkan pakaian, gantian aku yang menjemur dengan hanger lipat yang sudah kubawa dari rumah. Suami gantian menikmati camilannya.
Selesai sudah, kami balik ke kamar untuk sarapan. Satu jam lagi kami akan kembali ke rooftop untuk mengangkat jemuran. Cuaca di sini sangat kondusif; jemuran bisa kering dalam waktu singkat.
Seharian ini aku hanya beraktivitas di hotel saja: salat wajib, salat sunah, dan membaca Al-Qur’an di masjid hotel.
Armuzna Tak Lagi Berdasarkan KBIH
Sore hari, kami bersama jemaah lain dikumpulkan oleh KBIH untuk persiapan Armuzna. Alhamdulillah, beberapa jemaah dari hotel sebelah, yang masih satu kloter denganku, juga turut hadir dalam pembekalan ini.
Acara langsung diisi oleh Ustaz Muhammad Molik, pembimbing haji sekaligus owner Nurul Hayat. Tampak raut muka tegang dan sendu di wajahnya. Aku menangkap sinyal bahwa ada kabar yang tidak baik-baik saja terkait pelaksanaan Armuzna.
Dugaan itu benar. Rupanya, pengaturan Armuzna tidak lagi berdasarkan KBIH, sebagaimana pengaturan kloter dan hotel sebelumnya, yang satu Syarikah terbagi ke beberapa hotel. Sekarang, pelaksanaan Armuzna terbagi dalam beberapa kafilah, yang akan menentukan jadwal keberangkatan ke Arafah dan maktab yang akan ditempati.
Satu kafilah ternyata terdiri dari beberapa kloter sesuai area hotel, bercampur dengan kloter-kloter lain. Artinya, KBIH kami tidak bisa bersama-sama semua jemaahnya dalam satu kafilah dan satu maktab.
Itulah sebabnya kami dikumpulkan. Pembimbing berusaha menguatkan kami agar tetap tenang dengan situasi ini, walaupun kami tahu tim KBIH juga gusar dengan ketetapan ini, yang membuat semua program yang telah dirancang KBIH berantakan.
Pembimbing memotivasi kami dengan menyampaikan keutamaan hari Arafah. Ia mengarahkan agar momentum ini kami manfaatkan sebaik-baiknya, menjauhi aktivitas yang sia-sia.
Selanjutnya, pembimbing menjelaskan teknis alur yang harus kami lalui selama lima hari Armuzna: bagaimana salat, naik bus, turun di mana, kapan waktu untuk lempar jumrah, pakaian dan perlengkapan yang harus dibawa, dan sebagainya. Semua harus kami lakukan sendiri tanpa didampingi pembimbing KBIH.
Sedih rasanya, di puncak ibadah yang sesungguhnya, justru pembimbing tidak bisa bersama kafilah kami. Armuzna ini pengalaman pertama kami. Aku masih belum terbayang seperti apa situasi di sana. Tapi aku yakin, dengan arahan pembimbing hari ini, kami mampu menjalaninya.
Insyaallah, kami sudah punya sedikit bekal. Dan yang terpenting, pembimbing sejati kami selalu menyertai kapan pun dan di mana pun: Allah Azzawajalla.
Kupasrahkan urusanku kepada-Mu, ya Allah, karena sesungguhnya aku milik-Mu. Engkau yang tahu takdirku. Aku berharap selalu takdir baik untukku dan seluruh jemaah haji lainnya.
Terima kasih, ya Allah. Aku bahagia. Engkau sudah mentakdirkanku sampai di Tanah Haram ini dalam keadaan sehat walafiat. Rabbana taqabbal dua. Amin. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












