Opini

Menyikapi Sengkarut Haji dengan Iman dan Tawakal

26
×

Menyikapi Sengkarut Haji dengan Iman dan Tawakal

Sebarkan artikel ini
Suasana di sekitar Hajar Aswad menjelang waktu salat (Tagar.co/Ainul Yaqin)

Sengkarut haji 2025 menguji kesabaran jemaah. Namun, hanya iman dan tawakal yang mampu menuntun hati tetap rida, ikhlas, dan sabar dalam menjalani setiap ujian.

Oleh Ainul Yaqin; Jemaah Haji 2025 Kloter SUB-04

Tagar.co – Sudah banyak yang berkisah soal sengkarut haji di tahun 2025 ini. Bahkan menjelang keberangkatan ke Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), rasa gundah itu muncul.

Ketika sistem kloter sudah pecah, jemaah tersebar di banyak hotel. Bagi jemaah yang terpisah sendirian, rasa waswas mudah muncul terkait pengangkutan ke Armuzna akan seperti apa, mengingat trauma kesemrawutan pengangkutan saat dari Madinah ke Makkah masih terasa.

Baca juga: Naura, Atlet Termuda Lumajang yang Tampil Mandiri di Kejurprov Panahan

Namun, menghadapi suasana seperti ini tidaklah tepat jika disikapi dengan menggerutu. Justru hal itu bisa semakin menambah rasa kecewa, yang tentu dapat mengganggu konsentrasi beribadah.

Mengkritisi penerapan kebijakan memang penting, tapi bukan untuk melampiaskan kekecewaan, melainkan untuk memberikan masukan sebagai bahan evaluasi, demi perbaikan ke depan, khususnya bagi yang memiliki kompetensi untuk melakukannya. Sementara bagi para jemaah, yang paling tepat adalah mengembalikan semuanya kepada keimanan.

Baca Juga:  Korupsi Kuota Haji: Kejahatan Jabatan Merusak Hak Rakyat

Dari perspektif keimanan, kita harus meyakini bahwa apa pun musibah yang menimpa tidak luput dari takdir Allah Swt. Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)

Karena itu, segala hal yang menimpa—apakah menyenangkan atau tidak—semua terjadi atas izin Allah. Tidak ada satu pun kejadian yang lepas dari qadha dan qadar-Nya.

Allah juga berfirman: “Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.’” (At-Taubah: 51)

Baca juga: Kebijakan Tashrih: Strategi Arab Saudi Mengendalikan Jumlah Jemaah Haji

Ketika seseorang mengembalikan segala hal yang menimpa dirinya dengan perspektif iman, akan lahir dua sikap. Jika yang menimpa itu menyenangkan, akan melahirkan rasa syukur. Sebaliknya, jika yang menimpa itu tidak menyenangkan, akan melahirkan sikap rida, ikhlas, tawakal, dan sabar. Inilah sikap seorang mukmin yang memiliki kestabilan emosi.

Baca Juga:  Siar Ramadan di Masjid Nailur Roja Jatinom

Manusia sering kali berharap mendapat hal-hal yang menyenangkan. Namun, dalam kehidupan, keinginan yang diharapkan tidak selalu terwujud. Orang menginginkan sehat, hidup nyaman dengan rezeki yang cukup, tetapi terkadang yang terjadi sebaliknya: tubuh sakit, rezeki seret.

Dalam kaitan ini, Ibnu Athaillah memberikan nasihat: “Jika Allah memberi kalian (menurut apa yang kalian minta), Allah mempersaksikan sifat-sifat baik-Nya. Namun, jika Allah menolak (permintaan atau harapan) kalian, Allah mempersaksikan sifat kuasa-Nya. Dengan semua itu, Allah memperkenalkan diri kepada kalian dan menghadapi kalian dengan kelembutan-Nya.”

Dengan itu semua, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Ujian berupa kesulitan dan kesedihan bukanlah kemurkaan, melainkan justru rahmat.

Allah juga mengingatkan manusia agar tidak mudah kesal dengan keadaan. Bisa jadi, keadaan yang buruk justru itu yang baik. Allah berfirman yang artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Baca Juga:  Saudi Batasi Akses ke Makkah dan Hentikan Izin Umrah Jelang Musim Haji

Perspektif seperti inilah yang menjadi obat untuk menghapus kegundahan. Mudah-mudahan dengan sikap ini, segala ujian dan kesulitan dapat diterima dengan rida, dan semoga ibadah ini diterima oleh Allah Swt. serta menjadi ibadah yang mabrur. Amin. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Sorakan terhadap satu pihak sering kali lahir dari…