Telaah

Sudah Cukup Umurmu, tapi Mengapa Belum Sadar?

30
×

Sudah Cukup Umurmu, tapi Mengapa Belum Sadar?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Waktu terus berjalan, nasihat sudah disampaikan, umur pun telah cukup. Namun mengapa hati masih keras, tobat terus ditunda, dan maksiat tetap dijalani seolah ajal tak mendekat?

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang  Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Hari-hari terus berlalu. Tahun demi tahun kita jalani, silih berganti antara tawa dan tangis, sehat dan sakit, jaya dan jatuh. Namun, masih banyak di antara kita yang tak kunjung sadar akan hakikat hidup. Padahal, Allah telah memberikan umur yang panjang, kesehatan yang memadai, dan kesempatan yang berulang kali untuk memperbaiki diri. Lalu, apa lagi yang kita tunggu?

Allah Swt. menggambarkan sebuah keadaan yang begitu menggetarkan hati dalam Al-Qur’an. Saat penghuni neraka menjerit dan memohon dengan suara parau—bukan untuk kesenangan, bukan untuk kekayaan—tetapi untuk satu kesempatan saja: kembali ke dunia.

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal saleh yang berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan.’ Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup bagi orang yang mau berpikir?! Dan telah datang kepada kalian seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (Fāṭir: 37)

Baca juga: Tiga Kelalaian yang Membawa Petaka di Akhirat

Lihatlah! Ayat ini adalah tamparan bagi hati yang membatu, panggilan bagi jiwa yang lalai. Allah menegaskan: Bukankah telah Kami beri kalian umur yang cukup? Bukankah telah Kami utus para pemberi peringatan: orang tua, guru, ustaz, penyakit, kematian tetangga, berita duka—semuanya adalah tanda. Namun kalian diam. Tetap memilih lalai, menunda tobat, menggampangkan maksiat, bahkan menertawakan nasihat.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di menjelaskan dalam tafsirnya:

“Mereka berteriak di neraka, meraung karena kesakitan, memohon agar dikeluarkan dan diberi satu kesempatan saja untuk beramal saleh yang berbeda dari apa yang mereka lakukan dahulu. Tapi penyesalan di akhirat hanyalah penyesalan yang sia-sia. Jawaban Allah jelas: ‘Bukankah telah Kami panjangkan umurmu, yang cukup bagi siapa saja yang ingin berpikir?’ Kalian telah diberi dunia, diberi nikmat, diberi waktu, diberi nasihat, namun tetap berpaling.”

Bayangkan, Allah tak hanya memberi umur, tetapi juga fasilitas: makanan yang lezat, tidur yang nyaman, udara yang segar, teman-teman yang mengingatkan, khutbah Jumat yang menyentuh, bahkan kematian orang-orang terdekat sebagai isyarat bahwa giliran kita bisa datang kapan saja. Namun, kita tetap mengejar dunia, seolah tak ada mati.

اللَّهُمَّ أَيْقِظْ قُلُوبَنَا مِنْ غَفْلَتِهَا، وَاجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ

“Ya Allah, bangunkanlah hati kami dari kelalaiannya, jadikan akhir kalam kami di dunia ini adalah ‘Lā ilāha illā Allāh’, dan wafatkan kami dalam keadaan husnul khātimah.”

Kita tak akan bisa kembali ke dunia saat ajal menjemput. Tak bisa mengulang salat yang kita tinggalkan, tak bisa mengganti maksiat dengan amal saleh, tak bisa menebus waktu yang telah disia-siakan. Tak ada tayangan ulang. Tak ada kesempatan kedua.

Rasulullah Saw. bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (H.R. Bukhari No. 6412)

Betapa sering kita abaikan dua hal itu. Padahal, keduanya adalah ladang emas untuk beramal. Maka, jika hari ini kita masih diberi umur, jangan sia-siakan. Jangan tunggu tua, jangan tunggu sakit, jangan tunggu kehilangan. Beramallah sekarang. Tobatlah sekarang. Berhentilah dari dosa sekarang. Karena nanti… tak akan ada lagi “nanti”.

Allah berfirman:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ

“Sesungguhnya tobat yang diterima Allah hanyalah bagi mereka yang mengerjakan kejahatan karena kejahilan, kemudian mereka segera bertobat.” (An-Nisā’: 17)

Segera, bukan nanti. Sekarang, bukan besok. Karena besok bisa jadi kita sudah dibungkus kafan dan diantar ke tempat yang tak bisa lagi mengubah nasib kita. Maka bersiaplah.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا تَذَكَّرُوا، وَإِذَا خَافُوا تَابُوا، وَإِذَا أَخْطَؤُوا اسْتَغْفَرُوا

“Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai. Jadikanlah kami orang-orang yang ketika diingatkan, mereka pun sadar; ketika takut, mereka pun bertobat; dan ketika bersalah, mereka pun beristigfar.”

Mari gunakan sisa umur kita sebaik mungkin, karena tak satu pun dari kita dijamin akan hidup sampai esok. Jangan sampai ketika kelak menjerit di akhirat, Allah berfirman dengan tajam: “Bukankah telah Kami panjangkan umurmu?” dan kita tak mampu menjawab. Na‘ūdzu billāh.

Semoga Allah memperbaiki sisa umur kita, menerima amal kita, dan menutup hidup kita dengan husnul khātimah. Āmīn yā Rabbal ‘Ālamīn. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Telaah

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an…