Feature

20 Ribu Rumah Subsidi untuk Guru, Pemerintah Mulai Serahkan Kunci

30
×

20 Ribu Rumah Subsidi untuk Guru, Pemerintah Mulai Serahkan Kunci

Sebarkan artikel ini
Mendikdasmen Abdul Mu’ti (kiri) secara simbolis menyerahkan kunci rumah untuk guru

Pemerintah mulai menyerahkan kunci rumah subsidi bagi guru di delapan provinsi. Sebanyak 20.000 unit disiapkan agar para pendidik bisa tinggal dekat lokasi mereka mengajar.

Tagar.co – Komitmen pemerintah meningkatkan kesejahteraan guru terus diwujudkan melalui berbagai program nyata. Salah satunya dengan penyerahan kunci rumah bersubsidi yang dilakukan serentak di delapan provinsi: Aceh, Medan, Bogor, Bangkalan, Pontianak, Makassar, Kupang, dan Jayapura.

Agenda tersebut sekaligus menjadi momentum penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam Program Rumah untuk Guru Indonesia serta ajang penghargaan bagi para “pahlawan tanpa tanda jasa”. Program ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), PT Bank Tabungan Negara (BTN), Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), dan Badan Pusat Statistik (BPS).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyampaikan apresiasi atas langkah cepat Kementerian PKP dalam merealisasikan rumah bersubsidi bagi guru.

“Awalnya kita hanya MoU saja, tapi tiba-tiba beberapa hari yang lalu Menteri PKP menyampaikan ke saya kita langsung serah terima kunci. Ini saya kira sebuah langkah maju yang luar biasa. Karena itu, terima kasih, apresiasi kepada Pak Menteri PKP,” ujar Mu’ti saat menghadiri seremoni di Perumahan Pesona Kahuripan 11, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Selasa (25/3/25).

Ia menambahkan, sesuai dengan Asta Cita ke-4 Presiden Prabowo Subianto, pembangunan sumber daya manusia adalah prioritas utama—dan kuncinya ada pada para guru.

“Mudah-mudahan (program ini) bermanfaat dan mudah-mudahan para guru dengan berbagai peningkatan kesejahteraan dan layanan pendidikan dapat bekerja lebih baik lagi, fokus pada pembelajaran, fokus pada tugas bapak-bapak ibu sekalian sebagai pendidik,” imbuhnya.

Menteri PKP, Maruarar Sirait (kedua dari kanan)

Menteri PKP, Maruarar Sirait, menjelaskan bahwa total ada 20.000 unit rumah yang disiapkan untuk para guru di seluruh Indonesia. Namun, pada kesempatan kali ini, penyerahan kunci dilakukan secara simbolis untuk 250 unit rumah.

Program rumah subsidi ini memang ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah, termasuk guru, agar dapat memiliki hunian yang layak dan dekat dengan tempat mereka mengajar. Dengan begitu, diharapkan para guru bisa lebih fokus mendidik generasi penerus bangsa.

“Tantangan kami (untuk mewujudkan program ini) tidak mudah, tetapi kami punya presiden yang optimis, yakin, dan percaya diri untuk membangun Indonesia berdiri di atas kakinya sendiri. Sebagaimana arahan Presiden, saya akan mengutamakan kebijakan juga kepada wong cilik,” kata Menteri Ara.

Sementara itu, Direktur Utama BTN, Nixon L. P. Napitupulu, menyoroti kenyataan bahwa masih banyak guru belum memiliki rumah yang layak. Ia berharap program ini terus berlanjut agar para guru bisa mengajar dengan lebih nyaman dan tenang.

“Ini adalah salah satu program pemerintah yang paling disukai masyarakat Indonesia dan program ini juga bagian dari proses mengentaskan kemiskinan,” ujarnya, sembari mengapresiasi sinergi lintas kementerian-lembaga untuk menghadirkan hunian layak bagi para guru.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, turut bangga karena data yang dihimpun lembaganya bisa memberi kontribusi nyata dalam pembangunan, termasuk dalam mendukung program hunian layak bagi guru.

“Hal ini tentunya untuk menuju visi yang sama, yaitu memberikan yang terbaik untuk rakyat Indonesia terutama untuk guru,” kata Amalia, dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen yang diterima Tagar.co, Selasa (25/3/25) malam.

“Kami percaya bahwa data yang baik akan menjadi fondasi utama dalam membangun kebijakan yang lebih efektif dan tepat sasaran, termasuk dalam mendukung penyediaan hunian layak bagi para guru sebagai bagian dari pembangunan nasional yang inklusif,” ujarnya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni