Feature

Transformasi Revolusi Mental: Berfokus pada Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa

40
×

Transformasi Revolusi Mental: Berfokus pada Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa

Sebarkan artikel ini
Transformasi Revolusi Mental: Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga Warsito saat memberikan pidato kunci di Jakarta (31/12/24).

Transformasi Revolusi Mental. Setelah satu dekade, Gerakan Nasional Revolusi Mental kini memasuki babak baru dengan cakupan yang diperluas, berfokus pada Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa

Tagar.co – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Rebv) terus memperkuat Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) sebagai langkah strategis dalam pembentukan karakter bangsa. Upaya penyempurnaan GNRM ini dibahas dalam Rapat Koordinasi bertema “Transformasi Revolusi Mental Menuju Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa” pada Selasa, 31 Desember 2024.

“Setelah satu dekade, Gerakan Nasional Revolusi Mental kini memasuki babak baru dengan cakupan yang diperluas, berfokus pada Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa. Aspek-aspek yang selama ini masih perlu ditingkatkan seperti pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, dan politik akan menjadi fokus utama,” tegas Warsito, Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga saat memberikan pidato kunci di Jakarta (31/12/24).

Warsito menambahkan, “Kemenko PMK telah melakukan evaluasi dan refleksi menyeluruh atas pelaksanaan GNRM dalam satu dekade terakhir. Hasilnya, kami telah memetakan berbagai persoalan, intervensi yang dibutuhkan, hingga indikator keberhasilan yang akan menjadi parameter dalam memperkuat karakter dan jati diri bangsa. Seluruh proses ini melibatkan partisipasi aktif dari berbagai pemangku kepentingan.”

Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan, Bappenas, Amich Alhumami, yang hadir secara daring, menggarisbawahi pentingnya dimensi pembangunan non-fisik. “Memajukan bangsa tidak hanya sebatas pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga aspek sosial budaya. Dimensi non-fisik seperti mentalitas, karakter, nilai/norma, dan etika menjadi sangat krusial dan akan menjadi indikator capaian pembangunan sosial-budaya suatu bangsa,” ujarnya.

Diskusi dan refleksi ini semakin produktif dengan partisipasi aktif dari sekitar 50 peserta yang mewakili berbagai Kementerian/Lembaga. Para peserta antusias menyampaikan gagasan dan pandangan terkait penyempurnaan GNRM dan penguatan karakter serta jati diri bangsa.

Amich dan peserta rakor juga sepakat mengenai pentingnya regulasi yang lebih kuat, baik dalam bentuk Inpres maupun Perpres, sebagai landasan bagi Kementerian/Lembaga dalam merencanakan dan melaksanakan program Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa.

Direktur Pengkajian Kebijakan Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP, Muhammad Sabri, menegaskan pentingnya kesamaan persepsi tentang Pancasila sebagai dasar karakter bangsa. “Kita harus satu frekuensi dan menegaskan bahwa karakter bangsa Indonesia adalah karakter Pancasila. Tidak perlu mencari yang lain, ini sudah sangat jelas,” tegasnya.

Sabri juga menekankan tiga dimensi pembangunan Pancasila: keyakinan, pengetahuan, dan keteladanan. Keyakinan terhadap Pancasila harus ditularkan lintas generasi, salah satunya melalui sistem pendidikan. Pengetahuan tentang Pancasila perlu terus dikembangkan melalui gerakan epistemologi berbasis Pancasila. Terakhir, penyelenggara negara harus menjadi teladan dalam etika dan moral bagi masyarakat.

Rapat koordinasi ini menghasilkan kesepahaman bersama tentang pentingnya memperkuat fondasi karakter dan jati diri bangsa sebagai langkah mewujudkan SDM Indonesia yang unggul. SDM yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghadapi tantangan global, tetapi juga beretika, bermoral, dan berlandaskan nilai-nilai Pancasila.

“Ini adalah momen penting transformasi dan penyempurnaan GNRM menuju Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa. Kami berkomitmen untuk mengawal gerakan ini dengan dukungan regulasi yang kuat, perumusan parameter yang jelas, dan kerjasama yang lebih intensif dengan seluruh pemangku kepentingan demi terwujudnya Indonesia yang maju dengan SDM berkarakter dan berjati diri Pancasila,” kata Warsito. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni