
Belajar tanpa rasa aman dan bahagia hanya melahirkan tekanan. Dari senam pagi hingga doa bersama, sekolah sedang menanamkan makna baru pendidikan.
Oleh Ansorul Hakim, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur
Tagar.co – Hari pertama masuk semester genap bukan sekadar penanda kalender akademik. Ia adalah momentum psikologis penting bagi siswa setelah melewati masa libur yang cukup panjang. Cara sekolah menyambut hari pertama itu akan sangat menentukan suasana batin siswa dalam menapaki separuh perjalanan tahun pelajaran berikutnya.
Karena itu, kegiatan pagi ceria—yang diawali senam, dilanjutkan upacara bendera, doa bersama, dan ditutup dengan bernyanyi—patut dibaca sebagai strategi pendidikan yang utuh, bukan sekadar rutinitas simbolik.
Baca juga: Sekolah Dimulai Lagi: Tantangan Psikologis Usai Libur Panjang
Senam Anak Indonesia Hebat di awal hari membawa pesan kuat bahwa kesehatan fisik dan kolaborasi adalah fondasi belajar. Sejumlah kajian psikologi pendidikan menunjukkan bahwa aktivitas fisik ringan di pagi hari meningkatkan hormon endorfin dan dopamin yang berpengaruh pada suasana hati, fokus, dan kesiapan belajar.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa kebiasaan bergerak secara teratur pada anak dan remaja berkorelasi positif dengan kesehatan mental serta kemampuan regulasi emosi. Dalam konteks pascalibur panjang, senam bersama menjadi jembatan alami untuk mengembalikan ritme tubuh sekaligus membangun kebersamaan antarsiswa.
Setelah tubuh digerakkan, siswa diajak memasuki ruang nilai melalui upacara bendera. Di sinilah pendidikan kewargaan menemukan relevansinya. Nasionalisme tidak cukup diajarkan lewat teks dan ceramah; ia perlu dialami sebagai praktik kolektif.
Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka sebagai manusia dan warga negara mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Upacara bendera, dengan seluruh simbol dan tata tertibnya, melatih disiplin, tanggung jawab, dan rasa memiliki terhadap bangsa, di tengah tantangan disrupsi identitas generasi muda.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama sebagai penguatan dimensi keimanan dan ketakwaan. Dalam pendidikan modern, aspek spiritual sering kali terpinggirkan oleh target akademik. Padahal, banyak riset menunjukkan bahwa spiritual well-being berkontribusi signifikan terhadap ketahanan mental dan perilaku prososial remaja.
Almarhum Prof. Azyumardi Azra berulang kali mengingatkan bahwa pendidikan Indonesia harus berpijak pada nilai moral dan spiritual agar tidak melahirkan generasi cerdas tetapi rapuh secara etika.
Kegiatan ditutup dengan bernyanyi bersama lagu “Hari Baru”, simbol sederhana namun sarat makna. Musik dan nyanyian kolektif terbukti memperkuat rasa kebersamaan dan optimisme. Penelitian dalam Journal of Positive Psychology mencatat bahwa bernyanyi bersama meningkatkan sense of belonging dan menurunkan tingkat kecemasan pada kelompok usia sekolah. Di sinilah sekolah bekerja pada wilayah afektif siswa—wilayah yang selama ini kerap terabaikan.
Rangkaian penyambutan ini mencerminkan inovasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam membaca kebutuhan zaman. Pendidikan tidak lagi cukup berorientasi pada capaian kognitif, tetapi harus membangun iklim sekolah yang sehat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Mendikdasmen dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya sekolah sebagai ruang aman dan menyenangkan, tempat siswa merasa diterima dan dihargai. Pendekatan berbasis keceriaan dan kebersamaan menjadi jawaban atas tantangan kejenuhan belajar dan tekanan psikologis pascalibur panjang.
Isu kesehatan mental dan bullying tidak bisa dilepaskan dari konteks ini. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia menunjukkan bahwa banyak kasus kekerasan dan perundungan di sekolah berakar dari relasi sosial yang tidak sehat.
Psikolog anak Prof. Rose Mini Agoes Salim menegaskan bahwa rasa aman adalah prasyarat utama belajar. Anak yang cemas dan tertekan akan kesulitan berkonsentrasi dan berprestasi. Karena itu, penyambutan yang hangat dan positif sejak hari pertama mengirim pesan kuat bahwa sekolah adalah ruang aman, bukan arena tekanan.
Dari sudut pandang psikologi pendidikan, kegiatan pagi ceria dan upacara bendera berfungsi sebagai jembatan transisi dari suasana libur ke rutinitas belajar. Inilah bentuk konkret menjaga mental positif siswa.
Konsep positive school climate menekankan pentingnya lingkungan sekolah yang suportif, relasi yang sehat, dan aktivitas yang menumbuhkan optimisme. Sekolah dengan iklim positif terbukti memiliki tingkat bullying lebih rendah dan keterlibatan belajar yang lebih tinggi.
Pada akhirnya, semester genap seharusnya dimulai dengan harapan, bukan kecemasan. Pendidikan yang baik bukan hanya soal nilai rapor, tetapi tentang bagaimana sekolah mampu memanusiakan siswa.
Dari senam pagi, upacara bendera, doa, hingga lagu yang dinyanyikan bersama, sesungguhnya sedang ditanamkan pesan besar: belajar adalah proses yang sehat, bermakna, dan menggembirakan. Dari sekolah yang ramah mental dan kaya nilai inilah generasi yang kuat dan optimistis akan tumbuh. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












