Feature

Gempa di Pacitan Terasa hingga Yogyakarta

74
×

Gempa di Pacitan Terasa hingga Yogyakarta

Sebarkan artikel ini
Gempa selatan Pacitan, dilaporkan terdapat 1 rumah rusak ambruk di Desa Ploso, Kecamatab Pacitan, Kabupaten Pacitan pada Jumat 6 Februari 2026 dini hari. (Daryono/BMKG)

Guncangan M6,2 membangunkan Pacitan dari tidur dini hari. Getaran terasa hingga Jawa Tengah dan Yogyakarta, meninggalkan waswas di antara sunyi malam.

Tagar.co — Suasana dini hari di Kabupaten Pacitan mendadak berubah tegang. Saat sebagian besar warga masih terlelap, guncangan gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 menggoyang wilayah selatan Jawa, Jumat (6/2/2026), sekitar pukul 01.06 WIB.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa dirasakan luas, mulai Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta. Informasi awal sempat menyebut magnitudo 6,4, namun setelah pemutakhiran data seismik, kekuatan gempa dipastikan sebesar M6,2.

Baca juga: Gempa Guncang Pacitan, Magnitudo 6,2

Episenter gempa berada di laut, pada koordinat 8,98 derajat Lintang Selatan dan 111,18 derajat Bujur Timur, sekitar 89 kilometer tenggara Kota Pacitan. Hiposenter tercatat pada kedalaman 58 kilometer, yang mengklasifikasikan gempa ini sebagai gempa dangkal dengan potensi getaran cukup luas di daratan.

BMKG menjelaskan, gempa dipicu oleh aktivitas subduksi di selatan Pulau Jawa, yakni pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia—zona yang dikenal aktif secara tektonik. Analisis mekanisme sumber menunjukkan pergerakan naik atau thrust fault, pola yang lazim terjadi di kawasan subduksi.

Baca Juga:  Cuaca 16 Januari 2026, Ini Prakiraan BMKG Juanda Jatim

Getaran paling kuat dirasakan di Pacitan, Bantul, dan Sleman dengan intensitas IV MMI. Pada skala ini, gempa dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, disertai getaran benda-benda. Sejumlah wilayah lain seperti Kulon Progo, Trenggalek, Wonogiri, Malang, Blitar, Surakarta, Magelang, hingga Wonosobo merasakan gempa dengan intensitas III MMI.

Sementara itu, Tuban dan Jepara merasakan getaran ringan dengan intensitas II MMI, yang umumnya hanya dirasakan sebagian orang dan membuat benda gantung bergoyang perlahan.

Meski dirasakan luas, BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan bahwa gempa Pacitan tidak menyebabkan pengangkatan dasar laut yang signifikan.

“Gempa terjadi di zona subduksi, tetapi mekanisme dan kedalamannya tidak memenuhi syarat pembangkit tsunami,” ujar Daryono melalui akun media sosial X miliknya, @DaryonoBMKG.

BMKG juga mengimbau masyarakat tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan. Hingga pukul 01.35 WIB, belum terdeteksi aktivitas gempa susulan yang signifikan, meski beberapa gempa kecil tercatat pascagempa utama.

Baca Juga:  Gempa Bumi Rusak Puluhan Rumah di Pacitan, Satu Warga Meninggal

Salah satunya gempa bermagnitudo 3,7 yang terjadi pukul 01.11 WIB di tenggara Pacitan dengan kedalaman 19 kilometer. Disusul gempa bermagnitudo 2,8 dan 2,3 dengan kedalaman bervariasi hingga sekitar pukul 01.57 WIB. Rangkaian ini dinilai sebagai respons seismik pascagempa utama.

Daryono juga mengingatkan bahwa Pacitan merupakan wilayah yang kerap muncul dalam catatan tsunami historis Indonesia. Letaknya yang berhadapan langsung dengan zona megathrust Jawa serta karakteristik pesisir berupa teluk dan pantai sempit membuat kawasan ini memiliki tingkat kerawanan tersendiri.

“Catatan sejarah menunjukkan tsunami pernah terjadi di selatan Jawa, termasuk Pacitan, pada 1840 dan 1859 akibat gempa besar di zona subduksi,” tulis Daryono.

BMKG mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan selalu merujuk pada sumber resmi. Peningkatan literasi kebencanaan, kesiapsiagaan, dan budaya sadar risiko dinilai menjadi kunci untuk meminimalkan dampak jika gempa kembali terjadi. (#)

Jurnalis Edi Susanto | Penyunting Mohammad Nurfatoni