Feature

Empat Pilar Islam Berkemajuan Dikupas di Pengajian Akbar Ini

63
×

Empat Pilar Islam Berkemajuan Dikupas di Pengajian Akbar Ini

Sebarkan artikel ini
Empat pilar Islam berkemajuan
Bendahara Umum Muhammadiyah, Hilman Latif, ceramah di Pengajian Akbar PDM Lumajang. (Tagar.co/Kuswantoro)

Tagar.co – Empat pilar Islam Berkemajuan dikupas oleh Prof. Dr. Hilman Latif, Bendahara Umum PP Muhammadiyah di Pengajian Akbar PDM Lumajang, Ahad (21/12/2025).

Acara ini memperingati milad ke 113 Muhammadiyah digelar di Perguruan Muhammadiyah Lumajang Jln. Brantas 7.

Hilman menyampaikan, Islam Berkemajuan hakikatnya menjadi ruh gerakan Muhammadiyah. Dia menjelaskan, ada empat pilar utama.

Pertama, Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah. Setiap langkah warga persyarikatan harus bermuara pada misi dakwah.

Kedua, sebagai gerakan tajdid atau pembaruan. Muhammadiyah harus terus melakukan pembaruan di berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, hingga membaca realitas baru, termasuk fikih kebencanaan dan fikih air.

Ketiga, sebagai gerakan ilmu. Di tengah rendahnya minat baca masyarakat, warga Muhammadiyah harus tetap gigih menuntut ilmu dan membiasakan membaca.

Keempat, sebagai gerakan amal. Kiprah nyata melalui amal usaha dan aksi sosial harus terus diperbanyak dan ditingkatkan.

Sebelum membahas empat pilar itu, Hilman menyampaikan, acara ini semula direncanakan pada November lalu. Namun harus ditunda karena erupsi Gunung Semeru serta adanya surat edaran tanggap darurat bencana dari Bupati Lumajang.

Baca Juga:  Sebanyak 28 Relawan Penjaga Lintasan KA Terima Kado Ramadan

“Kami sangat menghargai keputusan itu. Bagaimanapun, kewaspadaan harus dibangun. Kesiapsiagaan adalah tanggung jawab kita semua,” ujarnya.

Dua Sisi

Ia menambahkan, alam selalu menghadirkan dua sisi. Di satu sisi hujan adalah anugerah, namun di sisi lain bisa berubah menjadi bencana jika tidak disikapi dengan kesiapan.

“Hujan itu anugerah. Tanpa hujan kita akan repot juga, kekeringan. Tapi kadang-kadang, karena situasi tertentu, hujan justru menjadi bencana,” katanya.

Dia bahagia bisa hadir di Lumajang, terlebih di momentum milad Muhammadiyah ke-113. Menurutnya, usia tersebut seharusnya menjadi simbol kedewasaan bagi seluruh warga persyarikatan.

“Ini usia yang semestinya memberikan kedewasaan bagi kita semua,” ungkapnya.

Ia menyebut, secara nasional Muhammadiyah saat ini memiliki sekitar 160 perguruan tinggi, 300 rumah sakit dan klinik yang tersebar di berbagai provinsi dan kabupaten di seluruh Indonesia, ribuan sekolah, ribuan panti asuhan, serta ribuan amal usaha lainnya.

“Tidak kurang dari 20 ribu TK ABA yang terus bergerak dengan semangat menggelora dari ibu dan bapak yang aktif di persyarikatan,” jelasnya.

Baca Juga:  Masjid Uranggantung Kejutan Baru PCM Candipuro

Menurut Prof. Hilman, semua capaian tersebut tidak lahir begitu saja. Itu adalah buah dari kerja keras para pendahulu Muhammadiyah.

“Oleh karena itu, jangan lupakan para pendiri, jangan lupakan para penggagas dan para inisiator,” tegasnya.

Ia mengingatkan agar seluruh amal usaha perguruan tinggi, rumah sakit, klinik, dan lembaga pendidikan dipandang sebagai amanah yang harus dijaga dan dikembangkan.

“Dulu ada generasi penggagas yang babat alas, dari bangunan yang bergoyang sampai menjadi bangunan yang kokoh. Itu tidak mudah,” ujarnya.

Sementara generasi hari ini, lanjut Prof. Hilman, hadir dalam kondisi fasilitas yang sudah tersedia. Karena itu, ia mengingatkan agar jasa para pendiri tidak dilupakan.

“Mereka dulu bahu-membahu, bahkan berodalkan uangnya sendiri. Jangan lupakan jasa mereka. Orang yang mengerti sejarah, insyaallah akan diberi kemudahan oleh Allah ke depan,” katanya.

Dia mengapresiasi Lazismu Lumajang yang meraih penghargaan atas kinerja penghimpunan dan penyaluran dana.

“Saya sangat mengapresiasi Lazismu. Mudah-mudahan ke depan semakin baik, semakin produktif, semakin sistematis, dan didukung oleh generasi-generasi baru yang menopang misi besar para seniornya,” ujarnya. (#)

Baca Juga:  Elpiji Langka, Laporan Rakyat saat Halalbihalal dengan Bupati

Jurnalis Kuswantoro  Penyunting Sugeng Purwanto