
SD Mumtaz mengedukasi inklusi. Memberi pemahaman peran guru, orang tua, dan lingkungan mendukung ABK, sebagai upaya meraih tiket emas menuju surga.
Tagar.co – Angin sepoi-sepoi berembus menciptakan suasana sejuk dan tenang di SD Muhammadiyah 1&2 Taman (SD Mumtaz). Pada Sabtu, 13 Desember 2025, SD Mumtaz kembali menggelar acara Parenting Pendidikan Inklusi bagi wali murid siswa inklusi dan seluruh Guru Pendamping Inklusi (GPI) SD Mumtaz.
Mereka menggandeng Nishirina Khamida, M.Psi, Psikolog, Kepala UPTD Layanan Disabilitas Kabupaten Sidoarjo. Acara ini bertema “Membangun Sekolah Ramah untuk Semua Anak” dengan topik “Dasar Pemahaman Inklusi dengan Hambatan, Kebutuhan, dan Lingkungan Belajar”.
Acara bermula dengan membaca doa bersama. Kemudian, Amrozi, S.Fii.I, M.Pd.I, Wakil Kepala Sekolah Bidang AIK, menyampaikan sambutan. Ia mengungkapkan rasa terima kasih dan bangga atas antusiasme serta semangat para wali murid siswa-siswi inklusi SD Mumtaz yang mengikuti kegiatan ini.
Amrozi menegaskan, “Keikhlasan dalam merawat dan menerima anak berkebutuhan khusus atau inklusi adalah bentuk ibadah yang luhur. Seperti dalam QS. ‘Abasa 1-2. Saya juga berterima kasih kepada bapak/ibu wali murid semua atas kehadiran serta semangat bapak/ibu semua,” ungkapnya dalam sambutan.
Setelah sambutan, acara memasuki inti materi. Materi pertama membahas berbagai cara untuk memahami anak berkebutuhan khusus/PDPD/Inklusi. Kemudian, ia membahas bagaimana anak berpengaruh pada anak dan keluarga. Terakhir, ia menjelaskan Pemahaman 4 Level Sensori Integrasi. Sesi tanya jawab menutup rangkaian materi inti.
Nishirina Khamidah juga menegaskan, anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah tiket emas menuju surga. Selain itu, pentingnya keselarasan dalam menangani ABK harus sama dan seimbang antara guru pendamping dengan orang tua. Pembiasaan-pembiasaan yang tepat dan teratur harus dilakukan secara konsisten.
“Bagi anak-anak disabilitas, mereka harus memenuhi kemampuan sensori integrasi mulai dari tugas-tugas seperti visual schedule, pelatihan menerima input sensorik motorik, memodifikasi gambar/huruf, dan masih banyak lagi. Semua itu harus kita lakukan secara konsisten untuk membantu stimulus anak-anak inklusi,” ungkap Nishirina Khamidah.
Program Pembelajaran dan Pondasi Komunikasi
Selanjutnya, Guru Pendamping Inklusi (GPI) memaparkan Program Pembelajaran Individu kepada wali murid siswa-siswi inklusi SD Mumtaz. Paparan ini bertujuan menyampaikan program-program yang GPI buat sesuai dengan kebutuhan, baik akademik maupun sosial, guna menunjang kemajuan serta perkembangan siswa-siswi.
Komunikasi antara guru dan orang tua sangat penting. Penyelarasan yang sama, baik di sekolah maupun di rumah, harus secara konsisten karena penguatan pondasi utama sangat esensial dalam menghadapi pemisahan dan menyikapi perbuatan yang kurang baik. Konsistensi ini memastikan lingkungan belajar dan tumbuh kembang anak terpadu dan mendukung. (#)
Jurnalis Adetia Yusriarti Penyunting Sayyidah Nuriyah












