Feature

Perpustakaan Ruang Terbuka SD Almadany: Menumbuhkan Literasi di Bawah Rindang Pohon

37
×

Perpustakaan Ruang Terbuka SD Almadany: Menumbuhkan Literasi di Bawah Rindang Pohon

Sebarkan artikel ini
Siswa-siswi SD Almadany sedang asyik membaca di perpustakasn ruang terbuka SD Almadany, Senin 15 September 2025 (Tagar.co/Eli Syarifah)

Perpustakaan Ruang Terbuka SD Almadany: Menumbuhkan Literasi di Bawah Rindang Pohon Teaser: Di SD Almadany, semangat literasi tak dibatasi dinding kelas

Tagar.co — Senin (15/9/2025), sebuah gerobak kayu berwarna coklat berdiri di sudut halaman SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany), Kebomas, Gresik, Jawa Timur. Di atasnya tertata rapi aneka buku bacaan yang siap dijelajahi.

Tak jauh dari sana, deretan meja bulat dengan kursi abu-abu terisi penuh oleh siswa kelas II. Mengenakan seragam olahraga biru-merah-putih, mereka asyik membuka halaman demi halaman buku di bawah rindang pohon pule.

Latar gedung sekolah dan pepohonan hijau seakan menegaskan bahwa literasi bisa tumbuh di mana saja, bahkan di ruang terbuka.

Baca juga: Belajar Sains dari Kunyit: Siswa SD Almadany Ukur pH Tanah di Kebun Percobaan

Menariknya, pagi itu siswa kelas II sejatinya sedang mengikuti praktik PJOK (Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan). Namun, bagi mereka yang sudah menyelesaikan giliran, guru PJOK, Addin Nur Habibillah, S.Pd., memberi kesempatan untuk mengisi waktu dengan membaca di perpustakaan ruang terbuka.

“Karena halaman gedung baru dipakai kelas lain, maka praktik olahraga kami lakukan di depan perpustakaan ruang terbuka. Anak-anak yang sudah maju praktik kami persilakan membaca sembari menunggu giliran teman-temannya atau bel istirahat,” jelas Habib.

Siswa-siswi SD Almadany sedang asyik membaca di perpustakasn ruang terbuka SD Almadany, Senin 15 September 2025 (Tagar.co/Eli Syarifah)

Literasi di Mana dan Kapan Saja

Pemandangan itu, menurut Kepala SD Almadany Lilik Isnawati, S.Pd., M.Pd., menjadi bukti bahwa literasi bisa hadir kapan saja, bahkan bersamaan dengan kegiatan lain.

Ia menegaskan, keberadaan perpustakaan ruang terbuka merupakan salah satu ciri khas sekolah berbasis alam.

“Belajar literasi bisa dilakukan di mana saja, termasuk di ruang terbuka. Justru dengan suasana segar, anak-anak lebih termotivasi membaca,” ungkapnya.

Untuk menjaga ketertiban, pihak sekolah menyiapkan jadwal piket guru saat jam istirahat. Guru bertugas mengarahkan siswa menulis daftar kunjungan, mengembalikan buku ke tempat semula, serta memastikan kebersihan lingkungan perpustakaan tetap terjaga.

Lilik berharap fasilitas sederhana ini bukan sekadar pajangan, melainkan pemantik tumbuhnya minat baca siswa.

“Literasi adalah kemampuan dasar dalam membaca, menulis, berbicara, dan menyimak untuk memahami serta mengolah informasi. Kemampuan ini sangat penting karena melatih berpikir kritis, memperdalam pemahaman, dan membangun komunikasi yang efektif,” jelasnya.

“Pada akhirnya, literasi membuka jalan menuju pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang lebih baik serta mandiri,” tambah Lilik.

Dengan latar rindangnya pepohonan dan keceriaan anak-anak, SD Almadany membuktikan bahwa budaya membaca bisa tumbuh di mana saja. Perpustakaan ruang terbuka pun menjadi ruang inspiratif yang meneguhkan: semangat berliterasi tak mengenal batas ruangan. (#)

Jurnalis Eli Syarifah Penyunting Mohammad Nurfatoni