Opini

Dimensi Sosial Kemabruran Haji

22
×

Dimensi Sosial Kemabruran Haji

Sebarkan artikel ini
Penulis saat menympikan khotbah Arafah di Tenda SUB 13 (Tagar.co/Ainul Yaqin)

Haji mabrur adalah haji yang tidak dicampuri oleh dosa dan tidak dinodai oleh perilaku riya. Salah satu ciri orang yang hajinya mabrur adalah keadaannya yang lebih baik sepulang dari haji, terutama dalam hal akhlak dan perangai.

Oleh Ainul Yaqin, Jemaah Haji Indonesia 2025 Kloter SUB 04

Tagar.co – Proses puncak ibadah haji 1446—yakni rangkaian wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah dan Mina, melempar jumrah Akabah, serta melempar tiga jumrah di hari Tasyrik—telah usai dilakukan. Jemaah pun telah banyak yang menuntaskan rukun-rukun haji berikutnya, yaitu tawaf Ifadah dan sai.

Pada 11 Juni esok, sebagian jemaah sudah siap diterbangkan ke Tanah Air. Penulis, yang tergabung dalam Kloter 04 Embarkasi Surabaya, insyaallah akan mengikuti jadwal kepulangan pada 12 Juni 2025.

Baca juga: Menyikapi Sengkarut Haji dengan Iman dan Tawakal

Setiap jemaah haji pasti menginginkan ibadah hajinya diterima sebagai haji mabrur. Tidak ada jemaah haji yang tidak mengharapkan kemabruran, karena begitu besarnya keutamaan haji mabrur sebagaimana disampaikan Nabi Muhammad Saw.: “Haji mabrur, tiada balasan baginya selain surga.”

Berkenaan dengan kemabruran ini, banyak ulama telah mengulas ciri-cirinya. Secara umum, kemabruran dikaitkan dengan meningkatnya spiritualitas seseorang dibandingkan sebelum berhaji. Semangat beribadah dan ketaatan kepada Allah Swt. meningkat.

Baca Juga:  Korupsi Kuota Haji: Kejahatan Jabatan Merusak Hak Rakyat

Haji mabrur adalah haji yang tidak dicampuri oleh dosa dan tidak dinodai oleh perilaku riya. Salah satu ciri orang yang hajinya mabrur adalah keadaannya yang lebih baik sepulang dari haji, terutama dalam hal akhlak dan perangai.

Rasulullah Saw. ketika ditanya oleh para sahabat tentang tanda kemabruran, beliau menjawab, “Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian.” (H.R. Ahmad)
Dalam hadis lain, Rasulullah Saw. bersabda, “Memberikan makanan dan santun dalam berkata.” (H.R. Al-Hakim)

Dimensi Sosial Haji

Berdasarkan dua hadis tersebut, kemabruran haji memiliki dimensi sosial yang dicirikan dengan kemauan untuk berbagi, membantu sesama melalui pemberian makanan, serta bertutur kata yang baik dan membawa kedamaian.

Dalam prosesi ibadah haji, banyak ujian dan pembelajaran yang langsung berkaitan dengan dimensi sosial ini. Saat orang naik bus menuju Arafah, bergeser dari Arafah ke Muzdalifah, lalu ke Mina—dalam kondisi transportasi terbatas dan jalanan macet—mereka diuji apakah tergolong orang yang mementingkan diri sendiri dan kelompoknya, atau sebaliknya. Orang yang egois sering kali mengabaikan orang lain, misalnya jemaah yang lebih rentan secara fisik.

Baca Juga:  Fatwa Tarjih: Dam Bisa Disembelih di Tanah Air

Demikian pula saat pembagian makanan yang terkadang jumlahnya tidak mencukupi. Apakah seseorang lalu berebut dengan mengabaikan hak jemaah lain? Orang yang mementingkan diri sendiri biasanya tidak peduli apakah orang lain sudah mendapat bagian atau belum.

Soal-soal seperti ini tampak sepele, tetapi justru di sinilah letak pembelajaran itu. Kepedulian terhadap orang-orang di sekitar adalah cerminan nyata dari kemabruran itu. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Sorakan terhadap satu pihak sering kali lahir dari…