Opini

Hikmah Melontar Jumrah: Perkuat Nilai Kemanusiaan

59
×

Hikmah Melontar Jumrah: Perkuat Nilai Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini
Dr. Amirsyah Tambunan (kelima dari kanan) bersama rombongan Amirul Hajj di Jamarat

Melontar jumrah bukan hanya melempar batu, tetapi juga melempar hawa nafsu, ego, dan godaan setan. Dari ritual ini, jemaah belajar kendali diri, ketaatan, dan nilai kemanusiaan yang menyatukan umat dari berbagai bangsa.

Oleh Dr. Amirsyah Tambunan; Sekretaris Jenderal MUI; Anggota Amirul Hajj

Tagar.co – Melontar jumrah bukan sekadar amalan ritual dalam ibadah haji setelah jemaah menjalani rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina—yang dikenal sebagai rangkaian Armuzna.

Pelemparan tujuh kerikil ke tiga tiang batu yang disebut jumrah (رمي الجمرات ramy al-jamarāt) adalah simbol penolakan dan perlawanan terhadap godaan setan yang terus menggoda manusia.

Baca juga: Muzdalifah: Refleksi Kemanusiaan Adam dan Hawa

Ritual ini memiliki makna yang mendalam dan mengandung banyak hikmah bagi setiap jemaah haji, antara lain:

Pertama, melontar jumrah adalah bentuk nyata ketaatan kepada Allah Swt. Ia mencerminkan perjuangan spiritual manusia untuk menolak godaan setan dan memperkuat keimanan.

Kedua, ritual ini dilakukan selama tiga hari di Mina, tepatnya pada hari-hari tasyrik (11–13 Zulhijah), yang merupakan bagian penting dari ibadah haji. Pada hari pertama, jemaah melempar Jumrah Akabah (jumrah terbesar), lalu pada hari kedua dan ketiga melempar tiga jumrah: Ula, Wusta, dan Akabah. Dalam proses ini terdapat pelajaran untuk terus melakukan introspeksi dan memperteguh iman kepada Allah Swt.

Baca Juga:  Siar Ramadan di Masjid Nailur Roja Jatinom

Ketiga, aktivitas ini merupakan perpaduan antara perjalanan fisik dan mental sebagai manifestasi perjalanan spiritual. Melontar jumrah menjadi simbol perjuangan manusia melawan hawa nafsu dan godaan duniawi.

Keempat, melontar jumrah adalah bentuk peneladanan atas kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, setan mencoba menggoda agar ia mengingkari perintah tersebut. Namun, Nabi Ibrahim berhasil menolak godaan itu. Hal ini menunjukkan bahwa manusia sebagai al-insān harus taat kepada perintah Allah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Az-Zariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Kelima, prosesi melontar jumrah menguatkan rasa persaudaraan sesama Muslim. Umat Islam dari berbagai suku dan bangsa berkumpul dan melakukan aktivitas yang sama. Di tengah kerumunan, jemaah berbagi pengalaman untuk melempar dengan tepat, tidak sembarangan, dan tidak membahayakan orang lain. Ini mengajarkan pengendalian emosi, kesabaran, dan kepatuhan terhadap aturan.

Kerikil kehidupan yang membahayakan harus disingkirkan melalui kesadaran dan kendali diri. Dalam konteks ini, melempar jumrah menjadi simbol penguatan iman dan upaya menjaga diri dari dosa serta godaan setan.

Baca Juga:  Saudi Batasi Akses ke Makkah dan Hentikan Izin Umrah Jelang Musim Haji

Setelah melontar jumrah, jemaah diharapkan kembali ke kehidupan sehari-hari dengan jiwa yang tenang, hati yang bersih, dan niat yang tulus untuk memperbaiki diri. Ini adalah bentuk rahmat Allah kepada hamba-Nya yang bertobat dan berusaha menjadi manusia yang bermanfaat.

Sebagaimana diingatkan dalam surah An-Nas—penutup Al-Qur’an—bahwa setiap manusia, tanpa kecuali, harus senantiasa waspada terhadap godaan setan, baik dari golongan jin maupun manusia. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni