
Banyak rintangan menghadang jemaah Haji 2025 jelang Armuzna. Tapi dengan pikiran positif, hati yang berserah, dan tubuh yang dijaga, mereka berharap perjalanan ini berujung kemabruran.
My Journey on Hajj 2025 (Seri 4); Oleh Anandyah RC, S.Psi, Jemaah Haji KBIH Nurul Hayat Surabaya
Tagar.co – Haji 2025 menorehkan catatan luka besar dalam pengelolaannya. Nasib jemaah haji menjadi taruhannya. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, jemaah harus berjuang keras menjaga kesucian niat untuk menunaikan rukun Islam kelima ini.
Melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci adalah impian, harapan setiap mukmin untuk menyempurnakan pengabdian dan ketundukan kepada Ilahi Rabbi sebagai seorang abdullah, hamba Allah.
Baca juga: Armuzna tanpa Pembimbing Haji: Mengandalkan Arahan dan Tawakal
Kebahagiaan menyelimuti segenap relung hati tatkala undangan sebagai tamu Allah itu menghampiri. Namun, situasi dan kondisi yang penuh kejutan saat ini hampir dapat dipastikan membuat kebahagiaan itu sedikit banyak tercerabut dari hati, berganti dengan kekecewaan, kegelisahan, ketakutan, kekhawatiran, dan sebagainya.
Tentunya kondisi ini sangat memengaruhi kesehatan mental para jemaah haji. Tidak jarang stres berkepanjangan menimbulkan gangguan psikis, menurunnya kesehatan fisik, bahkan bisa berujung pada kematian.
Memang kita tidak bisa mengubah aturan, situasi, dan kondisi yang terjadi saat ini karena kita bukan siapa-siapa. Namun, kita memiliki kekuasaan dan hak prerogatif untuk mengubah diri kita: pikiran, perasaan, dan tindakan kita agar tetap berada dalam gelombang kebahagiaan.
Apa yang ada dalam diri kita—pikiran, hati—adalah potensi termahal, anugerah Ilahi yang tak ternilai harganya. Kita memiliki kemampuan untuk mengelola potensi itu menjadi seperti apa yang kita inginkan. Pikiran yang positif melahirkan perasaan positif dan mendorong seorang mukmin untuk bertindak positif.
Allah menciptakan seluruh sistem tubuh kita dengan mekanisme kerja yang luar biasa, saling terkoneksi satu sama lain. Otak adalah anugerah Allah yang dahsyat, menjadi pusat dari seluruh sistem tubuh. Otak berfungsi menangkap pesan, menerima dan mengelola pesan, serta menghasilkan respons, baik fisiologis maupun psikis.
Otak juga memproduksi hormon-hormon yang memengaruhi berbagai fungsi tubuh manusia. Hormon adalah senyawa kimia yang diproduksi oleh sistem endokrin yang terdiri atas beberapa kelenjar dalam tubuh. Manusia memiliki berbagai jenis hormon, yang masing-masing berperan penting menunjang kinerja tubuh. Salah satu fungsinya adalah mengatur suasana hati.
Hormon bahagia (dopamin, oksitosin, serotonin, endorfin) adalah hormon yang memengaruhi kesehatan psikologis atau mental kita. Tidak hanya kesehatan fisik, kesehatan mental juga memiliki arti penting bagi kelangsungan hidup manusia.
Kesehatan mental memengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan Rabb kita, bagaimana kita menjalin komunikasi dengan sesama, bagaimana kita menentukan orientasi hidup, membuat alternatif pilihan, mengambil keputusan, serta menemukan jalan keluar atas setiap problema hidup.
Maka, memiliki mental yang sehat adalah keutamaan yang harus senantiasa dijaga. Menghadapi situasi haji tahun ini, kita harus berusaha ekstra untuk menjaga mental agar tetap berada pada jalur sehat dan positif, supaya dapat melaksanakan setiap amaliah tahapan haji secara optimal.
Marilah kita ubah dan perbarui kembali pikiran kita: berpikir positif dengan mensyukuri nikmat sekecil apa pun, menjauhi prasangka buruk, berbuat positif kepada sesama, agar hormon bahagia selalu penuh terisi (full tank).
Hormon bahagia adalah modal bagi tubuh dan raga untuk tetap prima, sehat walafiat. Menjelang Armuzna, rawatlah hormon bahagia ini dengan tetap menjaga asupan nutrisi, meskipun nafsu makan mulai menurun. Lakukan olahraga ringan, jalan-jalan pagi di depan hotel, jalin silaturahmi dengan jemaah haji lain, baca kembali keutamaan dan pahala berhaji, tingkatkan zikir, perbanyak doa, dan dekati Allah sedekat-dekatnya.
Semoga setiap ikhtiar dan doa kita berbalas kemabruran, meraih ampunan, dan cinta-Nya di Armuzna. Ya Rabb, jadikanlah setiap gerak langkahku dalam proses haji ini terasa nikmat. (#)
Semangat, jemaah haji Indonesia!
Penyunting Mohammad Nurfatoni









