
Guru adalah silabus berjalan disampaikan oleh Mendikdasmen Abdul Mu’ti di Pondok Pesantran Al-Fattah Sidoarjo, Jawa Timur. Dia juga memberi kabar gembira soal sertifikasi guru.
Tagar.co – Di tengah hiruk pikuk perdebatan kurikulum dan teori pendidikan, sebuah pesan sederhana namun mendalam terlontar dari Pengajian Akbar dan Silaturahmi 2024 di Pondok Pesantren Al-Fattah, Banjarsari, Buduran, Sidoarjo, Ahad (15/12/2024).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., dalam acara bertema “Pendidikan Pesantren dalam Mewujudkan Islam Rahmatanlilalamin,” menekankan peran guru sebagai ‘silabus berjalan’.
Baca juga: Di Ponpes Al-Fattah, Mendikdasmen Jelaskan Catur Pusat Pendidikan, Media Unsur Keempat
Mu’ti mengagumi model pendidikan pesantren yang menekankan interaksi intens antara guru dan murid. Ia berpendapat, dalam konteks pesantren, sosok guru itu sendiri adalah kurikulum.
“Orang sering bicara kurikulum dengan teori macam-macam. Tapi sebenarnya kalau kita bicara model pendidikan pesantren itu, kurikulum ya ustaznya itu. Bagaimana akhlak ustaz ya itu kurikulum. Bagaimana ustaz itu beribadah, itulah kurikulum,” ujarnya. “Sehingga tidak perlu pakai silabus yang macam-macam, silabusnya berjalan, gurunyalah silabus.”
Pernyataan ini mengingatkan kembali pada pepatah lama tentang guru yang “digugu dan ditiru.” Namun, Mu’ti dengan sedikit sentuhan humor menyentil kondisi sebagian guru saat ini.
“Kalau sekarang guru itu wagu tur kuru (kurang meyakinkan dan kurus), apalagi guru yang belum dapat sertifikasi, wah itu lebih tidak menyakinkan itu,” candanya yang disambut gelak tawa hadirin.
Angin Segar
Namun, ia memberikan angin segar bagi para guru yang belum mendapatkan sertifikasi. Mu’ti menginformasikan pada tahun 2025 akan ada Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk 806 ribu guru.
Dan kabar baiknya, pada tahun 2026, mereka yang telah mengikuti PPG akan mendapatkan tunjangan sertifikasi guru, yang diharapkan mencapai dua juta rupiah.
Baca juga: Mitos Menteri di Balik Peresmian Laboratorium Modern Ponpes Al-Fattah
Lagi-lagi dengan nada bercanda, Mu’ti mengingatkan agar tunjangan tersebut digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi diri, bukan sekadar mengganti ‘tunggangan”’ (kendaraan).
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2022-2027 ini menekankan pentingnya penguatan pendidikan di pesantren dalam membangun generasi yang kuat secara fisik, ilmu, dan akhlak.
Ia mengutip Az-Zumar 9 yang menekankan perbedaan antara orang yang berilmu dan yang tidak. Pendidikan, menurutnya, harus menghasilkan generasi yang knowledgeable (berpengetahuan luas), capable (mampu), dan humble (rendah hati).
Mu’ti menjelaskan kecerdasan tidak hanya sebatas kognitif, tetapi juga mencakup kecerdasan visual, sosial, spiritual, dan aspek lainnya.
Ia berharap pendidikan ke depan dapat meningkatkan kualitas iman dan taqwa, kecerdasan, karakter, serta keterampilan, sehingga anak-anak memiliki bekal untuk mendapatkan penghidupan dan kehidupan yang layak.
Model pendidikan pesantren, dengan penekanan pada ilmu, keterampilan, akhlak, dan ketaatan beribadah, dinilai sangat relevan untuk mencapai tujuan tersebut.
Pendidikan pesantren, dengan fondasi yang kuat pada sosok guru sebagai teladan, diharapkan mampu mencetak generasi ulul albab yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara. (#)
Jurnalis Mahyuddin Syaifulloh Penyunting Mohammad Nurfatoni












